
Meninggalkan Bu Ijah, kembali ke cerita Jaka yang masih pingsan di klinik.
Pak Ferdi memanggil satpam keruangan, ia meminta satpam untuk pergi kerumah Jaka saat ini juga, guna mencari tahu nomor telepon keluarga Jaka yang dapat dihubungi, agar Jaka dapat sesegera mungkin untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut kerumah sakit.
"Saya mau kamu pergi sekarang kerumah Jaka, lalu minta pada Bu Ijah nomor telepon pihak keluarga Jaka yang bisa dihubungi."
"Baik pak, tapi maaf sebelumnya apakah bapak sudah menghubungi pak Seno prihal kondisi pak Jaka ?"
"Sudah saya beritahu dan saya juga sudah menanyakan nomor telepon pihak keluarga dari Jaka namun pak Seno pun sama, tidak ada satu nomor pun yang ia ketahui."
"Jadi begitu ya pak, hm menurut saya bagaimana kalau kita langsung memeriksa ponsel dari pak Jaka saja, pak ? mungkin kita bisa menemukan nomor keluarga pak Jaka." Usul satpam.
"Ponsel Jaka menggunakan pola, saya sudah mencoba 3 kali untuk membuka polanya tapi tidak bisa. Jadi daripada membuang waktu, sebaiknya kamu segera kerumah Jaka lalu tanyakan pada Bu Ijah, moga saja dia memiliki salah satu nomor telepon keluarga Jaka."
__ADS_1
"Siap pak, saya akan berangkat sekarang juga. Kalau begitu saya permisi." Satpam sigap tanpa mau bertanya lagi.
Satpam bergegas keluar dari ruangan pak Ferdi, ia langsung menuju ke pos sebab sepeda motornya ia parkirkan bersebelahan dengan pos jaga.
Satpam melaju cukup kencang karena ia ingin secepatnya tiba dirumah Jaka, agar sesegera mungkin menemui Bu Ijah.
Benar saja tidak butuh waktu lama, satpam telah tiba dirumah Jaka. Suasana rumah Jaka nampak sepi. Ia memarkirkan sepeda motornya disini kemudian ia berjalan kerumah Bu Ijah yang tak begitu jauh dengan rumah Jaka.
Satpam mengetuk pintu sembari mengucapkan salam. Tok...tok..."Assalamualaikum..!"
"Bisa kita bicara sebentar Bu ? ada hal penting yang ingin saya sampaikan, ini mengenai pak Jaka."
"Hal penting ?" Tanya Bu Ijah lagi.
__ADS_1
"Iya Bu, pak Jaka semalam tiba-tiba pingsan dan sampai hari ini pak Jaka belum juga sadarkan diri."
"Astaghfirullah ( Bu Ijah terkejut ), kenapa tidak segera memberitahu saya pak ?"
"Maaf Bu, kami sudah membawa pak Jaka ke klinik, sudah mendapatkan pengobatan namun pak Jaka belum juga menunjukkan tanda akan sadarkan diri. Maka dari itu saya diminta pak Ferdy kesini untuk meminta nomor telepon pihak keluarga pak Jaka, sebab pak Jaka pagi ini juga akan dibawa kerumah sakit." Pak Tono menjelaskan.
"Jaka tidak perlu dibawa kerumah sakit, bawa saja kerumah saya. Dia bukan sakit biasa, saya tau sebab Jaka pingsan."
"Maksud ibu ?" Pak Tono bingung.
"Bawa saja Jaka kesini, nanti akan saya jelaskan. Tolong pak, percaya sama saya." Bu Ijah meyakinkan.
"Tapi Bu, pak Ferdi bisa marah sama saya kalau saya tidak membawa pak Jaka kerumah sakit, saya hanya disuruh untuk meminta nomor telepon pihak keluarga pak Jaka, bukan untuk membawa pak Jaka kerumah ibu." Pak Tono menolak dengan alasan pak Ferdi marah.
__ADS_1
"Saya yang akan bertanggung jawab, pak. Lagian saya juga tidak memiliki nomor telepon pihak keluarga Jaka. Saya mohon pak, bawa Jaka kerumah saya sekarang, jangan sampai terlambat, jika terlambat saya tidak menjamin keselamatan Jaka." Bu Ijah memohon agar pak Tono mempercayainya demi keselamatan Jaka.
"Aduhhh ini sebenarnya pak Jaka kenapa sih ? ibu tolong jelaskan ke saya, apa yang sebenarnya terjadi dengan pak Jaka, jika memang ibu tau betul sebabnya, jadi saya bisa menyampaikannya pada dokter yang menangani pak Jaka dan kepada pak Ferdi. Kalau ibu tidak menjelaskan alasannya bagaimana bisa saya membawa pak Jaka kerumah ibu ? yang ada saya bisa dituntut Buuu." Pak Tono jadi pusing dan juga bingung harus bagaimana.