Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 6


__ADS_3

Keesokan paginya Jaka bangun dengan rasa pegal di sekujur tubuhnya. Kedua matanya juga terasa berat. "Duhhh kenapa seluruh tubuhku jadi pegel gini sih ? mataku juga males buat dibuka. Mana ni hari pertamaku kerja, harus naik gra* kesananya. Apa karena aku kebanyakan makan ya tadi malam ? makanya jadi pegel gini, ach masa iya ngaruh. Udah jam berapa nih ?" Jaka melirik ke jam dinding, jarum jam menunjukkan pukul 6 tepat.


"Gawat jam 6 ,aku kesiangan, masuk jam 8 pas, gak boleh telat kalau telat bisa dipotong gajiku bulan ini." Spontan rasa pegal, ngantuk dan malas hilang seketika. Jaka pun bergegas beranjak dari ranjangnya dan dengan terburu-buru keluar kamar menuju kamar mandi.


Seperti pagi biasanya, pasti kegiatan dikamar mandi sedikit lama sebab sebelum mandi pasti perut Jaka memenuhi panggilan alam ( kiasan ), setelah itu barulah ia mandi.

__ADS_1


20 menit Jaka selesai, ia pun kembali ke kamar untuk berpakaian rapi. Dirasa penampilannya sudah rapi, Jaka keruang depan untuk memakai sepatu kerjanya.


Jaka melihat jam ditangan, hampir pukul 7 tepat. "Bentar lagi jam 7, kalau aku sarapan dulu sempat kali ya. Moga aja ada yang jualan sarapan di daerah sini, kalau gak ada terpaksa sarapan roti beli diwarung daripada gak keisi ni perut."


Jaka membuka pintunya, tak lupa ia menguncinya. Namun saat akan melangkah, kedua kakinya berhenti sebab ia melihat ada sebuah bungkusan plastik hitam tergeletak di teras.

__ADS_1


Jaka mengambil bungkusan plastik hitam itu kemudian tanpa berpikir lama ia langsung membukanya, ia heran karena isi bungkusan itu adalah makanan yang masih hangat dibungkus dengan daun pisang.


"Makanan ? masih anget, hm apa Bu Ijah pagi-pagi letak makanan disini ? tau kalau aku pasti bingung cari sarapan. Langsung makan atau tanya dulu sama Bu Ijah ya, ini beneran Bu Ijah yang anter atau punya orang lain yang gak sengaja terjatuh, masa iya punya orang terjatuhnya sampe keteras ku. Kalau emang Bu Ijah kenapa Bu Ijah gak ngetuk pintu dulu ? Udahlah kebanyakan mikir mending makan aja, mumpung masih anget, mayankan buat sarapan." Lagi-lagi Jaka secepatnya menepis keraguan, kebimbangan dalam pikirannya. Ia yakin kalau makanan ini adalah pemberian dari Bu Ijah tanpa memikirkan hal yang bukan-bukan.


Jaka duduk diteras, ia membuka bungkusan daun. Seketika wajah Jaka sumringah, sebab isinya nasi putih+ayam goreng.

__ADS_1


"Ayam goreng, ya ampun memang Bu Ijah baiknya gak diragukan, malam tadi Bu Ijah nganter gulai ayam, sekarang ayam goreng. Nikmat bener tinggal disini, mau makan langsung dianter." Jaka semakin yakin kalau makanan ini memang Bu Ijah yang mengantarkan.


Jakapun menyantap makanan ini, dan tentunya dengan tidak berdoa terlebih dahulu sama seperti biasanya. Jaka seorang muslim tapi ia jarang sekali atau hampir tidak pernah menunaikan ibadah sholat, membaca Al-Qur'an, apalagi berdoa sebelum melakukan hal apapun seperti makan dan minum. Maklum semenjak merantau dan tinggal seorang diri tak ada lagi yang rajin mengingatkan Jaka, jika dirumah ibunya lah yang begitu rajin mengingatkan Jaka untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Ibunya sekarang hanya mengingatkan sesekali via telpon, Jaka hanya mengiyakan tanpa mau ia lakukan, jadi beginilah Jaka sibuk bekerja, tanpa ingat beribadah.


__ADS_2