
Sesampainya dirumah pak ustadz, sungguh beruntung pak ustadz masih berada dirumah, namun pak ustadz terlihat sedang bersiap-siap untuk pergi. Bu Ijah langsung menyampaikan kedatangannya kesini.
"Maaf pak ustadz, saya datang lagi kesini."
"Tidak apa-apa Bu, memangnya ada apa ya Bu ?"
"Nak Jaka, pak ustadz, dia belum terbebas dari gangguan makhluk jahat itu, tadi saya sewaktu kerumahnya mengintip lewat jendela, dan didalam rumahnya itu diselimuti kabut yang cukup pekat, saya takut kalau sampai terjadi sesuatu pada nak Jaka."
"Baiklah sebaiknya kita kesana secepatnya, sebelum terjadi hal tidak diinginkan."
"Tapi bagaimana dengan urusan pak ustadz?"
"Tidak apa-apa Bu, yang terpenting keselamatan pemuda itu dulu. Urusan saya bisa ditunda sejenak."
"Ya Allah Alhamdulillah, terimakasih banyak pak ustadz."
__ADS_1
"Iya ibu, kalau begitu mari kita secepatnya kesana." Ajak Pak ustadz secepatnya.
"Mari pak."
Bu Ijah dan pak ustadz berjalan sedikit tergesa-gesa, karena ingin cepat sampai dirumah Jaka.
Begitu tiba dirumah Jaka, pak ustadz sudah bisa merasakan ada yang tidak beres. Pak ustadz pun meminta Bu ijah untuk membuka pintu rumah Jaka ini, sebab pak ustadz ingin masuk kedalam.
Kebetulan pintu tidak di kunci oleh Jaka, hanya memutar handle pintu, pintu sudah terbuka.
Mereka masuk kedalam, benar saja di seisi rumah di selimuti kabut, membuat pandangan mereka terbatas.
"Ada disebelah kanan, pak ustadz."
Pak ustadz berjalan lebih dulu, Bu Ijah mengikuti dari belakang. Pak ustadz membuka pintu kamar, namun herannya kabut tidak ada sama sekali di kamar Jaka. Sesaat mereka sudah masuk, pintu kamar tertutup dengan keras, Bu Ijah tersentak kaget. Pak ustadz menenangkan, minta agar Bu Ijah tidak panik dan takut. "Tetap tenang Bu, yakinlah pada Allah pasti akan melindungi kita."
__ADS_1
"Baik pak ustadz."
Kemudian mereka melihat Jaka sedang tertidur di ranjangnya, mereka mendekat. Belum lagi mendekat, sesosok wanita dengan rambut terurai muncul menampakkan diri, duduk di tepi ranjang Jaka sembari membelai-belai wajah Jaka dan juga bersenandung yang tentunya bikin merinding.
Setengah wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang terurai berantakan.
Sontak kedua mata Bu Ijah terbelalak, ia tak menyangka jika masih siang hari begini, Kunti ini berani muncul menampakkan diri dihadapan dirinya dan juga pak ustadz.
"Pergi kamu ! jangan ganggu nak Jaka ! alam kita sudah berbeda, pergilah, tinggalkan nak Jaka, biarkan dia hidup tenang dirumah ini." Dengan nada suara marah, Bu Ijah menyuruh Kunti untuk pergi.
Namun si Kunti ini hanya memiringkan sedikit wajahnya kearah Bu Ijah sambil menyunggingkan bibinya, tentunya dengan tatapan sebelas mata yang tajam.
Lantas Pak ustadz juga mengatakan hal yang sama seperti Bu Ijah. "Alam kau dan pemuda ini berbeda, pergi tinggalkanlah pemuda ini, dan jangan mengganggunya lagi."
"Jangan ikut campur !!" Suaranya Kunti memekikkan telinga.
__ADS_1
Spontan ibu Ijah menutup kedua telinganya, berbeda dengan pak ustadz, tetap berdiri tegak, tanpa bergeming. "Aku sudah kesekian kalinya memintamu pergi, tapi sepertinya kau tidak mengindahkan perkataan dan peringatanku. Kali ini pergi sekarang atau kau akan hangus terbakar." Peringatan keras pak ustadz.
"Kau tidak akan bisa hahahahaaaa ( Kunti tertawa lebar ) aku tidak akan pergi, dia milikku, selamanya akan menjadi milikku, kau yang pergi dari sini ! dasar manusia jahan*mm..!" Si Kunti balik mengusir pak ustadz dengan lantangnya.