Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 12


__ADS_3

Cukup lama mereka duduk berdua tanpa bicara, kedua mata Jaka mulai mengantuk.


"Hoammm.." Jaka menguap tak tertahankan.


"Jaka ngantuk ? pulang aja ya, lalu tidur."


"Kamu gak tidur ? rumah kamu yang ini kan ?" Tanya Jaka sambil menunjuk ke rumah depannya. Tepat bersebelahan dengan rumah Jaka.


Kuntiyana hanya mengangguk tersenyum tipis.


"Yaudah besok saya main kerumah kamu, bolehkan ?"


"Saya seharian gak ada dirumah, adanya malam gini."

__ADS_1


"Kamu kerja ?"


"Gak." Kuntiyana menggeleng.


"Lalu ?" Jaka sangat ingin tau.


"Sebaiknya kamu pulang sekarang." Ucap Kuntiyana lagi-lagi sambil tersenyum.


"Dadah Jaka." Kuntiyana melambaikan tangan.


Begitu Kuntiyana membalas dengan lambaian tangan, mendadak Jaka merasa takut, bulu kuduknya kembali merinding.


Jaka bergegas pulang kerumahnya, ia langsung masuk kedalam rumahnya dan dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan hampir pukul 1 dini hari.

__ADS_1


"Hampir jam 1, perasaan aku belum lama keluar. Gak kerasa udah lama juga aku ya. Padahal banyak diamnya, duduk bareng cuma denger dia senandung, tibanya ngobrol awal sama akhir doank, pertengahan krik-krik. Tapi aneh sewaktu duduk berdekatan dengar dia senandung kenapa aku rada merinding ya ? apalagi sewaktu dia dadah ( lambaikan tangan ) sama aku sumpah makin merinding. Masa angin malam bisa bikin merinding? ach mungkin angin malam, soalnya kan aku baru ini keluar sampe hampir dini hari gini. Hoammm.. mendingan aku tidur sekarang daripada pikiran ngaco kemana-mana. Malam ini aku tidur disini aja kali ya, dikamar lagi males, takut kesiangan bangun besok." Jaka panjang lebar ngomong sendiri, sibuk dengan pikirannya namun ia lagi dan lagi menghiraukan keanehan yang ia rasakan.


Saking ngantuknya jadilah Jaka tidur diruang depan, dihadapan tv. Ia tidur hanya beralaskan ambal, tanpa memakai bantal.


Jaka yang sudah terlelap tidur, Kuntiyana mengintip dari jendela dilihatnya Jaka tertidur di ruang depan bukannya di kamar. Kuntiyana pun masuk dengan menembus dinding, lalu memindahkan Jaka ke dalam kamar, membaringkan diatas ranjang.


"Kau milikku, kau tidak akan menceritakan hal apapun tentang aku pada manusia lainnya, hanya kau yang bisa berbicara langsung denganku. Aku suka kau makan, makanan yang kuberikan padamu. Kau dalam pengawasanku, tidak akan kubiarkan perempuan manusia mendekatimu." Kuntiyana membelai wajah Jaka dengan lembut.


Usai membelai wajah Jaka, Kuntiyana meniggalkan Jaka dengan kembali menembus dinding kamar Jaka, karena memang Kuntiyana menetap di pohon nangka tepat tak jauh dari jendela kamar Jaka.


Kuntiyana mengantarkan makanan Jaka sebab ia menyukai Jaka. Namun makanan yang Kuntiyana berikan pada Jaka tentunya bukan seperti yang di makan oleh Jaka, penampakan aslinya jika Jaka tau pasti Jaka akan jijik dan langsung membuangnya ke tempat sampah. Sebenarnya makanan itu adalah daging tikus mentah serta pasir hitam. Kuntiyana bisa mengelabui pandangan seseorang yang ia tuju, apalagi jika seseorang itu jauh dari agama ( ibadah ), maka semakin leluasa Kuntiyana memperdaya. Sebaliknya jika seseorang dituju dekat dengan agama ( rajin ibadah ), maka pasti tidak akan berhasil Kuntiyana memperdaya.


Jaka adalah contoh dari seseorang yang jauh dari agama, ia malas sekali untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, bahkan hanya sekedar membaca doa sebelum makan saja Jaka tidak pernah, dia selalu menyepelekan ibadah dan doa, ditambah lagi ia tidak terlalu mempercayai adanya makhluk halus. Terlintas dipikirannya jikalau ia takut tapi buru-buru ia singkirkan, buang jauh-jauh isi pikirannya yang membuat ia takut, ia tetap tidak mau terlalu mempercayai hal-hal yang diluar nalar.

__ADS_1


__ADS_2