Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 21


__ADS_3

30 menit kemudian pak ustadz yang ditunggu pun datang. Pak ustadz masuk dengan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, maaf sudah lama menunggu saya, sebab saya tadi ada urusan yang tidak bisa saya tinggal."


"Tidak apa-apa pak ustadz. Silahkan duduk pak." Ucap Bu Ijah mempersilahkan.


"Terimakasih Bu ( saat akan duduk, mata pak ustadz langsung tertuju ke arah Jaka yang terbaring di sofa ). Pemuda ini kah yang akan kita tolong ?" Tanya pak ustadz.


"Benar pak, namanya Jaka. Dia baru saja menempati rumah itu 2 hari tapi dia sudah tak sadarkan diri seperti ini. Tolong kami pak ustadz."


"Insya Allah, kita coba sama-sama. Semoga saja atas izin Allah, pemuda ini bisa sadarkan diri. Tetapi sebelumnya boleh saya tau penyebab pemuda ini bisa pingsan begini ? sudahkah dibawa ke dokter untuk diperiksa? ya mana tau dia sakit bukan karena hal-hal mistis."


"Begini pak ustadz, semalam siang pak Jaka ini tiba-tiba pingsan di kantin, nah jadi kami bawa ke klinik, sudah mendapatkan penanganan medis tapi tidak ada hasil sampai pagi ini, dan Bu Ijah memberi tahu saya kalau pak Jaka ini bukan sakit medis, lalu Bu Ijah meminta saya untuk membawa pak Jaka kesini." Timpal pak Tono menjelaskan.

__ADS_1


"Baiklah, saya coba periksa dulu. Benarkah ada gangguan makhluk jahat atau tidak. Bu Ijah tolong sedikit menjauh, dan buat bapak ( pak Tono ) tolong dipangku kepala pemuda ini." Pak ustadz mulai memeriksa kondisi Jaka.


Bu Ijah mundur beberapa langkah sedikit menjauh dari mereka. Sedangkan pak Tono duduk memangku kepala Jaka di atas pahanya. Setelah itu, pak ustadz mulai memeriksa kedua mata Jaka, dengan cara membuka perlahan kedua mata Jaka yang terpejam.


Pak ustadz menghela nafas tanda cemas. "Separuh jiwanya sudah dimiliki oleh makhluk jahat yang ingin menguasai sepenuhnya jiwa pemuda ini."


"Jadi pak ustadz, kita harus bagaimana ? masih bisakah pak Jaka tertolong ?" Tanya khawatir pak Tono.


Setelah pak ustadz berucap, tiba-tiba saja pintu tertutup dengan begitu kerasnya, hingga bergetar dinding rumah Bu Ijah. "Jederrrrr...!!"


Sontak mereka bertiga terkejut. Wajah pak Tono dan Bu ijah seketika berubah serius dan juga panik, sementara pak ustadz hanya memandangi serius pintu yang sudah tertutup.


Kemudian dengan mengejutkan juga Jaka yang pingsan, bisa duduk sigap, kedua matanya terbuka lebar ( melotot ), dan secara menyeramkan melirik kearah pak ustadz yang berdiri tepat di hadapan Jaka.

__ADS_1


Pak ustadz mendapatkan lirikan seram begitu ia berusaha tenang, dan mulai berkomunikasi.


"Siapa kau ?" Tanya pak ustadz dengan raut wajah yang tak kalah serius dan tajam.


"Bukan urusanmu !" Jawab lantang Jaka. Nada suara Jaka terdengar seperti gabungan antara suara Jaka sendiri dengan suara sesosok perempuan misterius.


"Kau telah berani mengganggu manusia, itu artinya sudah menjadi urusanku. Kau adalah makhluk Allah yang terkutuk, jadi hentikan kejahatanmu pada pemuda ini sebelum aku membakarmu dengan ayat-ayat Allah yang akan aku bacakan ." Ancam pak ustadz, intonasi suara cukup tinggi


"Huahahaaaaa.....kau pikir aku takut ustadz bod*h ! pfuihhhh." Jaka yang sudah dirasuki tertawa mengejek sembari berdecih meremehkan.


"Aku memperingatkanmu sekali lagi, tinggalkan tubuh pemuda ini atau aku akan memaksamu." Ultimatum keras dari pak ustadz untuk terakhir kalinya.


"Banyak omong kau ! coba saja kalau kau bisa huahahaaaaa..." Setan yang ada di dalam tubuh Jaka menantang.

__ADS_1


__ADS_2