Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 24


__ADS_3

Setelah beberapa jam, Jaka baru benar-benar pulih dan bertenaga, tepatnya hampir pukul 12 siang. Ia pun pamit pulang.


"Bu, saya sudah mendingan, apakah saya sudah boleh pulang kerumah sekarang?"


"Nak Jaka yakin memang benar-benar sudah pulih ? ibu tidak masalah kalau nak Jaka beristirahat lagi disini." Bu Ijah ragu mengizinkannya Jaka pulang saat ini.


"Yakin Bu, lihat saja wajah saya segar bugar begini, tidak pucat lagi, jadi ibu tidak perlu khawatir."


Bu Ijah menghela nafas sembari menatap kearah pak Tono. Pak Tono pun tau maksud dari tatapan sekilas Bu Ijah.


"Bapak kalau belum baikan mending bapak istirahat sebentar lagi disini, seperti yang ibu Ijah katakan, dan saya akan sabar menunggu bapak."


"Saya jujur pak, saya sudah baikan dan bugar, jadi pak Tono dan Bu Ijah tidak usah terlalu mengkhawatirkan saya." Jaka bersikukuh ingin pulang.

__ADS_1


"Ya sudah kalau memang bapak ingin pulang sekarang, saya akan mengantar bapak sampe kerumah."


Pak Tono dan Bu Ijah tidak bisa menahan Jaka lagi, dan walaupun ada rasa berat mengizinkan Jaka untuk pulang kerumah itu lagi tapi mereka berdua memilih diam tidak memberitahukan pada Jaka kejadian yang sebenarnya Jaka alami.


"Baiklah nak Jaka, jika memang kondisi nak Jaka telah membaik, ibu tidak apa-apa kalau nak Jaka ingin pulang."


"Terimakasih Bu, saya sudah merepotkan ibu, kalau begitu saya pamit pulang dulu."


"Sama-sama nak Jaka, jangan sungkan kalau ingin meminta bantuan ibu, ibu akan dengan senang hati membantu nak Jaka."


Mereka sudah mendekat ke halaman depan rumah Jaka, pak Tono merasakan sesuatu yang aneh, seperti ada yang memperhatikan mereka dari sudut rumah Jaka. Seketika juga Pak Tono merasakan tidak enak di sekujur tubuhnya padahal masih siang hari. Pak Tono mengetahui jika ada sosok makhluk halus di sekitar pelataran rumah Jaka, namun pak Tono bersikap diam tanpa mau menyampaikannya pada Jaka.


Pak Tono yang serius fokus memperhatikan rumah Jaka, sontak tersadar karena Jaka berdiri dihadapannya menegur pak Tono.

__ADS_1


"Pak, pak, kita sudah sampai." Jaka sambil melambaikan tangan ke kedua mata Pak Tono.


"Eh iya pak, astaga bisa-bisanya saya melamun, maaf pak, tadi bapak ngomong apa? saya tidak mendengarkan." Pak Tono tersentak.


"Kita sudah sampai, nah sekarang bapak bisa kembali ke tempat kerja, tidak usah menemani saya lagi, saya akan baik-baik saja dirumah."


"Pak, bisa tidak kalau bapak minta pindah dari rumah ini, soalnya ada kok pak kos-kosan murah di dekat tempat kerja kita, jadi kan bapak lebih dekat, ya kan ? banyak juga setau saya karyawan yang ngekos." Pak Tono menyarankan Jaka untuk pindah.


"Pak kalau ada yang gratis ngapain saya harus bayar, lagian disini tempat nyaman, saya betah disini, tidak terlalu ramai dan berisik, apalagi ada Bu Ijah yang baik sama saya, jadi alasan apa saya sampe harus pindah ?" Jaka enggan.


"Tapi pak, duh gimana ya ngomongnya, saya bingung nyampaikan ke bapak." Pak Tono serba salah dan bingung.


"Bingung kenapa pak ? bilang saja ke saya."

__ADS_1


"Anu pak, e...aishhh ." Pak Tono seperti tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, ia kebingungan menyampaikannya pada Jaka.


__ADS_2