Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 17


__ADS_3

Tebakan Bu kantin benar, sampai pagi ini Jaka belum sadarkan diri juga, dokter menghubungi pak Ferdi untuk meminta persetujuan, guna membawa Jaka ke rumah sakit agar mendapat penanganan lebih intensif.


Pak Ferdi datang seorang diri tanpa di temenin satpam.


"Bagaimana dok ? belum sadarkan diri juga, dan belum ada perkembangan sama sekali ?"


"Maaf pak, saya sudah berusaha namun tiada hasil, pasien masih belum sadar hingga sampai pagi ini. Sesuai kesepakatan saja pak, pasien sebaiknya mendapatkan perawatan lanjutan ke rumah sakit."


"Kalau begitu saya harus menghubungi keluarganya terlebih dahulu, baru bisa saya ambil keputusan untuk membawa karyawan saya ini ke rumah sakit.


"Saran saya pak, sebaiknya dibawa saja dulu agar secepatnya mendapatkan penanganan."


"Saya tidak mau lho dok kalau misal sampe terjadi apa-apa lantas saya yang disalahkan oleh pihak keluarganya."


"Ya, jika memang bapak mau seperti itu, silahkan pak. Nanti setelah menghubungi pihak keluarga, bapak beritahu saya saja agar saya langsung membuat surat keterangan rujukan kerumah sakit tersebut."


"Baik dok, saya mau kembali dulu. Setelah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarganya pasti saya langsung menghubungi dokter."


Dokter mengangguk paham, kemudian pak Ferdi meninggalkan klinik. Sebelum menghubungi keluarga Jaka, pak Ferdi berhenti di pos satpam.

__ADS_1


Satpam pun langsung berdiri dari duduknya ketika pak Ferdi menghampiri. "Pagi pak, ada yang bisa saya bantu ?"


"Pagi, saya cuma mau bilang kalau Jaka belum sadarkan diri juga, jadi saya dan dokter ingin membawa Jaka kerumah sakit untuk mendapatkan penanganan intensif."


"Ya ampun kasihan sekali pak Jaka, lalu pak apakah pihak keluarga dari pak Jaka sudah dihubungi?"


"Belum, saya tidak ada satu pun nomor telepon yang bisa dihubungi. Saya harus menghubungi pak Seno lebih dulu untuk menanyakan nomor telepon keluarga Jaka."


Di sela obrolan, Bu kantin datang menghampiri, kemudian tanpa basa-basi Bu kantin langsung tau jika isi obrolan antara pak Ferdi dan satpam itu adalah tentang Jaka.


"Permisi pak bos dan pak satpam, saya lihat-lihat seperti membicarakan hal yang serius, saya tebak pasti mas Jaka itu belum sadarkan diri alias masih pingsan kan ?"


"Kenapa situ yang sewot, saya kan mau bicara sama pak bos." Bibit Bu kantin monyong.


"Sudah-sudah, ibu mau bicarakan apa dengan saya ?" Tanya Pak Ferdi.


"Ini lho pak, tapi sebelumnya saya minta maaf bukam maksud untuk memotong pembicaraan antara pak bos dan pak satpam ini, namun saya ingin menyampaikan hal penting tentang mas Jaka."


"Langsung saja jangan berbelit-belit, hal penting apa katakan secepatnya, saya masih banyak pekerjaan."

__ADS_1


"Tidak usah didengar pak, ibu ini cuma halusinasi pikirannya." Timpal satpam.


"Saya mau dengar dari ibu ini bukan dari bapak ( satpam )." Pak Ferdi mengingatkan.


"Maaf pak."


"Sekarang ibu ceritakan ke saya, singkat dan jelas jangan panjang kali lebar." Beralih ke ibu kantin.


"Begini pak, mungkin bapak sulit untuk mempercayainya tetapi saya yakinnnn sekali kalau mas Jaka itu bukan sakit medis melainkan sakit dikarenakan gangguan makhluk halus, pak."


"Makhluk halus? maksudnya di ganggu setan gitu ?" Tanya pak Ferdi dengan mimik wajah setengah bingung bercampur tak percaya.


"Iya pak, saya yakin 1000% ."


"Ada-ada saja ibu ini, kira saya ada yang penting ternyata ibu ini cuma mau berhalusinasi." Pak Ferdi sama sekali tidak mempercayai, ia pun berjalan pergi meninggalkan ibu kantin dan satpam, menuju keruangannya.


Wajah Bu kantin sedikit rada kesel karena ia sudah menyampaikan yang ia tau malah mendapatkan sikap acuh dari pak Ferdi.


"Pak bos, main pergi aja. Saya beritahu yang bener malah gak ditanggapi serius, dikira saya mengada-ada. Tau ah, mending aku lanjut goreng daripada disini percuma." Bu kantin berjalan meninggalkan satpam sembari menghentakkan sebelah kakinya karena merasa kesal.

__ADS_1


Sementara satpam hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa berkata apa-apa, sebab sikap Bu kantin yang seperti itu.


__ADS_2