
Jaka yang belum kunjung sadarkan diri, tidak diketahui sama sekali oleh Bu Ijah. Pagi ini seperti biasanya ingin mengantarkan sarapan pagi untuk Jaka, sebab ia tak ingin jika sampai Jaka memakan makanan dari bungkusan itu lagi, karena belum jelas siapa yang memberikan, namun cukup lama Bu Ijah memanggil tidak ada jawaban dari dalam.
"Nak Jaka kemana ya? apa dia sudah berangkat bekerja ?"
Bu Ijah menganggap kalau Jaka sudah pergi bekerja, Bu Ijah pun meninggalkan rumah Jaka. Baru saja melangkah, terdengar suara air keran menyala cukup deras dari dalam rumah Jaka. Bu Ijah menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang memastikan suara air itu berasal dari rumah Jaka.
"Seperti ada suara air ? apa nak Jaka masih mandi ya ? tapi tadi tidak ada suara sama sekali, sudahlah sebaiknya saya tunggu saja sebentar lagi." Bu Ijah tidak jadi untuk pulang, ia menunggu di teras.
__ADS_1
Suara air sudah berhenti, Bu Ijah pun mencoba memanggil Jaka lagi.
"Nak Jaka !" Seru Bu Ijah sembari mengetuk pintu.
Lagi-lagi tidak ada jawaban. "Ya ampun nak Jaka ini, benar-benar tidak mendengar sama sekali panggilan saya daritadi, padahal suara saya kuat, masa iya nak Jaka gak kedengaran. Coba saya cek lewat jendela saja, mungkin nak Jaka memang tidak mendengar. Bu Ijah melihat dari jedela, namun keadaan rumah sepi seperti tidak ada orang.
Sesaat ia memanggil dari jendela, tampaklah sesosok wanita dengan baju panjang putih melayang keluar dari kamar mandi. Sontak Bu Ijah terkejut membelalakkan kedua matanya. dengan yang barusan ia lihat. Jantung berdegup kencang, Bu Ijah cepat-cepat menghindar dari jendela. Ia mengelus dadanya yang kaget, deruan nafasnya pun menggebu-gebu.
__ADS_1
"Ternyata dia masih mengganggu yang tinggal dirumah ini. Sebaiknya saya pergi dari sini, dan secepatnya harus memberitahu nak Jaka tentang rumah ini. Saya tidak mau jika sampai terjadi apa-apa dengan nak Jaka, maka saya akan sangat bersalah."
Bu Ijah bergegas pulang meninggalkan rumah Jaka dengan sangat terburu-buru. Sesampainya dirumah, Bu Ijah masuk kemudian mengunci rapat pintu rumahnya.
Bu Ijah mengetahui jika ada yang pekerja menempati rumah ini pasti akan di ganggu oleh Kunti yang menunggu pohon tak jauh dari kamar rumah ini.
Sebelumnya sudah ada 3 orang menepati rumah ini dan Jaka adalah orang ke-4. Bu Ijah heran, karena Jaka barulah tinggal 2 hari namun Kunti ini sudah menampakkan dirinya secara jelas dan terang-terangan, apalagi ini masih pagi hari, sementara ke-3 orang sebelumnya sama sekali tidak sejelas ini, hanya menggangu dengan suara dan kelebetan saja, sedangkan sekarang, Kunti begitu leluasa menampakkan diri.
__ADS_1
Bu Ijah enggan memberitahu pada Jaka sebab ia tidak mau membuat Jaka takut untuk tinggal dirumah ini, padahal sikap diam Bu Ijah yang menutupin hal semacam ini malah membuat Jaka jadi seperti sekarang, pingsan secara tiba-tiba dan belum sadarkan diri juga. Andai Bu Ijah tau kalau kondisi Jaka terbaring pingsan di klinik, apakah benar Bu Ijah akan merasa bersalah ?