Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 10


__ADS_3

Jika urusan menyantap makanan Jaka emang lahap, bersih tiada sisa. Makanan yang ia temukan dalam sekejap habis.


"Perut udah aman, waktunya mandi."


Baru sesaat akan beranjak, terdengar ketukan pintu lagi. "Kali ini siapa lagi yang ngetuk pintu ? awas aja kalau berani ngerjain aku, siap-siap bakalan aku laporin polisi." Jaka mulai kesal dengan ketukan pintu namun saat ia buka tidak ada orang.


Saking kesalnya Jaka membuka pintu dengan cukup kuat. Begitu pintu dibuka, Jaka melihat Bu Ijah sedang berdiri. Karena Jaka membuka pintunya terlalu kuat, Bu Ijah terkejut sembari mengelus dada.


"Astaga nak Jaka, kenapa ? ibu sampe kaget."


"Eh Bu Ijah, maaf Bu, saya kirain orang iseng." Jaka jadi merasa tak enak sudah membuat Bu Ijah terkejut.


"Orang iseng ?" Tanya Bu Ijah bingung.


"Nah kebetulan ibu kesini, saya mau menanyakan sesuatu pada ibu, salah satunya itu Bu, orang iseng. Silahkan masuk Bu, kita ngobrol di dalem aja." Jaka mempersilahkan Bu Ijah masuk.


"Tidak usah, disini saja, lagian ibu kesini cuma mau nganterin makanan. Jadi tanyakan saja apa yang ingin nak Jaka tanyakan." Ucap Bu Ijah sembari memberikan sebuah rantang ukuran sedang.

__ADS_1


"Makasih Bu. Kalau gitu ibu tunggu disini, saya mau bawa ini kedalem dulu ( rantang ) sekalian saya mau ambil kursi untuk kita duduk diluar, saya ingin mengobrol dengan ibu sebentar saja."


Jaka masuk kedalam, dia meletakkan rantang di dapur, kemudian ia mengangkat 2 kursi plastik.


"Mari Bu, silahkan duduk."


Bu Ijah pun duduk, begitu juga dengan Jaka.


"Oke Bu langsung saja ya, saya mau tanya ke ibu, pagi ini dan sore ini apa ibu ada nganterin saya makanan dibungkus plastik hitam, lalu ibu letakkan saja di teras depan rumah ?"


"Plastik hitam ? tidak, ibu tidak pernah memberikan makanan dengan dibungkus plastik hitam." Bu Ijah menggelengkan kepala.


"Nak Jaka sama sekali tidak tau bagaimana orang yang mengirimkan makanan dibungkus plastik itu ?" Bu Ijah balik bertanya.


"Itu masalahnya Bu, saya tidak sempat melihat orang yang mengirimkan makanan itu."


"Lalu makanannya nak Jaka makan ?" Lanjut tanya Bu Ijah.

__ADS_1


"Iya Bu, malahan saya lahap makannya. Kirain saya pasti dari ibu."


"Owalah kenapa nak Jaka langsung makan tanpa tau asal makanan itu darimana ? harusnya nak Jaka dateng kerumah ibu tanyakan terlebih dahulu." Menyayangkan sikap Jaka yang ceroboh.


"Ya mau gimana lagi, saya lapar Bu makanya langsung saya makan. Tapi Bu, isi bungkusannya sama, pagi tadi ayam goreng+nasi, sore barusan ini, ya isinya itu juga. Siapa ya Bu kira-kira ? sumpah saya penasaran." Menanyakan hal yang sama.


"Yaudah gini aja, gimana kalau pasang cctv diteras rumah jadi nak Jaka bisa tau siapa aja yang bertamu ke rumah." Saran Bu Ijah.


"Bener juga ya Bu. Okelah, besok saya pasang cctv biar tau siapa ( Jaka menerima saran Bu Ijah ). Makasih banyak lho Bu udah mau ngobrol bareng saya."


"Sama-sama nak Jaka, kalau tidak ada lagi yang mau ditanyakan ibu pamit pulang dulu ya. Pesan ibu, jangan sembarangan lagi makan makanan yang belum tau asal usulnya walaupun terlihat enak dan perut mendukung." Ledek Bu Ijah.


"Maklum Bu, waktunya pas jadinya di santap aja." Jaka jadi malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Iya, ibu paham. Ibu pamit pulang, selamat malam nak Jaka, selamat beristirahat."


"Malam Bu, sekali lagi terimakasih udah repot-repot nganterin makanan untuk saya."

__ADS_1


Bu Ijah balas senyuman sembari berjalan pulang.


__ADS_2