
Pandangan pak Tono memeriksa kembali, dengan memperhatikan sudut rumah bagian depan ini, dan tampaklah samar-samar bayangan putih sedang berdiri menatap kearah mereka saat ini, sontak pak Tono menelan salivanya, ditambah ekspresi wajah pak Tono yang berubah menjadi tegang.
Jaka semakin heran dengan sikap pak Tono yang dari sampai hingga sekarang terkesan seperti melihat sesuatu yang aneh, tetapi Jaka tidak merasakan demikian, lantas Jaka pun bertanya pada pak Tono.
"Pak Tono ( menepuk pundak ), bapak ini kenapa ya ? saya perhatikan sikap bapak seperti melihat hantuu."
Pak Tono tidak dapat menjawab, mulutnya terkunci hanya kedua matanya yang mengisyaratkan jika di sudut rumah depan ini ada sesosok makhluk halus.
Tidak mendapatkan jawaban dari pak Tono, Jaka semakin bingung dan bertanya-tanya.
"Pak, pak Tono, jawab saya pak." Jaka mengguncang tubuh pak Tono pelan dengan memegangi kedua pundak pak Tono.
__ADS_1
Pak Tono menghiraukan panggilan Jaka, kedua matanya masih fokus ke sudut itu, pak Tono benar-benar terpaku padahal tadi biasa saja tidak seperti ini.
Bayangan putih ini mendekat kearah samping pak Tono, sembari berbisik di telinga pak Tono. "Tinggalkan tempat ini sekarang dan jangan pernah kembali."
Pak Tono mengangguk, kemudian pak Tono yang diam terpaku, mendadak bisa bergerak dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Jaka.
Jaka dibuat kebingungan oleh sikap pak Tono. "Lho pak, kok main pergi aja ? jawab dulu pertanyaan saya tadi, bapak barusan lihat apa ? tolong katakan pada saya, pak." Jaka menghampiri pak Tono yang ingin pergi, tergesa-gesa menyalakan mesin motornya.
Sikap pak Tono yang seperti itu, membuat Jaka terheran-heran, ia belum mengerti maksud perkataan pak Tono.
"Pak Tono main ngacir aja, aishhh..hm apa bener pak Tono liat hantuu di sekitar sini ? ah..mana ada hantuu siang bolong gini, palingan pak Tono kelelahan mungkin bantuin aku dari semalam, sudahlah biarkan saja, mending sekarang aku masuk dan beristirahat, masih dikit lemas badanku."
__ADS_1
Jaka tidak lagi penasaran dengan sikap pak Tono yang dinilainya aneh, ia masuk kedalam rumah dengan perasaan yang biasa-biasa saja, ia tidak sedikitpun merasakan hal yang ganjil di dalam rumahnya, padahal tanpa Jaka sadari Kunti mengikutinya dari belakang hampir menempel dengan tubuh Jaka, jaraknya hanya sejengkal.
Jaka ke kamar rebahan di ranjang, ia rindu dengan Kuntiyana yang selalu malam hari ia jumpai.
"Ana kira-kira kalau jam segini ada gak ya duduk dibawah pohon ? gak tau ni hati mendadak kangen pengen liat wajahnya." Jaka menoleh ke arah jendela.
Namun sewaktu menoleh, ada hembusan angin sejuk masuk dari jendela, dan membuat Jaka mengantuk tak tertahankan, kedua matanya menjadi begitu berat, rasanya ingin segera di pejamkan.
"Hoammmm...duh ngantuk banget mataku, nanti aja temui Ana nya, aku tidur dulu." Jaka langsung tertidur nyenyak.
Belum lama ia tertidur, Jaka bermimpi bertemu dengan Kuntiyana di tempat yang cukup asing. Kuntiyana menggenggam tangan Jaka dan menggiring Jaka ke sebuah rumah tepas, kondisi rumah nampak usang, dan juga halaman dipenuhi rerumputan yang cukup rimbun. Jaka hanya bisa mengikuti Kuntiyana tanpa mau menolak, walaupun hanya dalam mimpi tetapi Jaka seperti nyata berada ditempat ini.
__ADS_1