
Setibanya di tempat kerja, Jaka memarkirkan motornya didekat pos satpam. Pak satpam yang melihat Jaka, kemudian menghampiri.
"Pagi pak Jaka." Sapanya ramah.
"Pagi pak." Balas Jaka dengan nada lemas.
"Pak Jaka sakit ya ?" Tanya pak satpam karena dilihatnya wajah Jaka sedikit memucat.
"Gak tau ni pak, sewaktu mau berangkat dari rumah masih semangat pak, ya cuma pegal-pegal aja, tapi setengah perjalanan tadi tiba-tiba jadi lemes gini badannya."
"Sebaiknya bapak segera berobat, kebetulan pak Ferdi juga sudah ada diruangannya, bapak bisa permisi."
"Tidak usah pak, masa saya baru masuk kerja udah minta izin. Makasih ya pak perhatiannya, saya ke gudang dulu."
"Iya pak, pesen saya kalau sedang sakit lebih baik bapak izin pergi berobat, daripada bapak paksakan, soalnya wajah bapak pucat sekali, saya takut bapak pingsan nanti, kalau dipaksa bekerja." Pak satpam khawatir dengan kondisi kesehatan Jaka yang terlihat tidak baik.
__ADS_1
"Kerjaan saya gak capek kok pak cuma sekedar ngecek-ngecek. Yasudah pak, sekali lagi terimakasih sarannya, saya masuk dulu."
Jaka berjalan meninggalkan si satpam, sementara si satpam yang masih cemas pandangannya tak lepas dari memerhatikan Jaka, sebab Jaka berjalan begitu lambat.
"Gak yakin saya kalau pak Jaka baik-baik saja." Gumamnya.
Setelah Jaka masuk kedalam gudang, si satpam pun berhenti memerhatikan Jaka, ia kembali ke pos satpam.
Sementara Jaka yang sudah berada di dalam gudang langsung mengecek seluruh barang, baik yang akan keluar ataupun yang masuk dan juga mengecek ketersediaan barang. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 siang, tubuhnya benar sangat lemas, wajahnya semakin pucat. Untuk memulihkan kondisi, Jaka kemudian menuju ke kantin untuk beristirahat sekaligus makan siang.
"Iya mas, tunggu bentar."
Si ibu kantin cekatan membuat pesanan Jaka, dalam beberapa menit pesanan Jaka sudah siap, si ibu mengantarkannya ke meja Jaka.
"Ini mas pesenannya."
__ADS_1
"Makasih ya Bu." Ucap Jaka dengan nada lemas.
"Lho mas wajahnya pucat sekali ( serunya kaget ), mending mas pulang aja istirahat dirumah."
"Saya gak apa-apa kok Bu, saya cuma lapar, nanti juga setelah makan, saya baikkan lagi."
"Walah mas..mas.. apanya yang baik-baik aja, saya aja lihat wajah mas pucat gitu, bibir mas juga pucat lho. Saran saya mending sekarang mas pulang, takutnya mas nanti jatuh, bisa bahaya mas." Si ibu kantin benar-benar mengkhawatirkan kondisi si Jaka sama seperti si satpam.
"Bicaranya nanti saja ya Bu, saya mau makan dulu, soalnya saya lapar." Jaka meminta ibu kantin untuk tidak berbicara lagi.
"Iya mas, silahkan dimakan, tehnya mumpung masih panas minum sedikit demi sedikit biar badan mas nya ada tenaga. Saya balik kedalem dulu." Ada rasa berat meninggalkan Jaka yang terlihat tidak sehat.
Si ibu masuk kedalam kantinnya, dengan kedua matanya masih memperhatikan Jaka.
"Ya Allah, apa mas ini ketempelan ? jangan-jangan hantu yang ada dirumah itu, padahal sudah saya bilangin kalau yang sebelumnya tinggal disitu diganggu, ini malah udah sampe pucat gitu kayak mayat. Saya mau nolongin juga bingung, soalnya mas nya ini gak percaya sama hal-hal gituan, tapi kalau saya gak nolongin kasian, niat merantau bekerja malah diganggu setan." Si ibu kantin bingung sendiri, dia benar-benar khawatir melihat Jaka seperti itu.
__ADS_1