Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 28


__ADS_3

Pak ustadz berusaha lebih mendekat kearah ranjang Jaka. Namun selangkah lagi akan dekat, Kunti mengancam akan menghabisk*n nyawa Jaka.


"Berhenti disitu, atau dia akan aku hab*si." Kuku-kuku jari tangan Kunti memanjang runcing berwarna hitam.


"Tidak ada hak mu mengatakan itu, hidup dan mati hanya milik Allah, bukan makhluk terkutuk seperti mu." Pak ustadz begitu geram.


"Hahahaha...tapi buktinya dia takut kehilangan diriku ketimbang Tuhannya, apakah masih pantas kalau dia bukan menjadi hak ku ?!"


"Aku sudah memberimu waktu terlalu banyak dan melepaskanmu begitu saja tapi kesalahan tidak akan terulang lagi, ku pastikan kau hari ini akan hangus terbakar."


"Banyak omong ! buktikan kalau kau mampu huahahaaaaa."


Usai tertawa lebar, si Kunti malah menghilang ntah kemana. Mendapati Kunti tidak ada, sontak pak ustadz dan Bu Ijah bersiaga, berjaga-jaga kalau secara tiba-tiba Kunti muncul dari arah yang tak disangka maka akan bisa membahayakan diri mereka juga, mereka harus jangan sampai lengah sedikitpun.

__ADS_1


"Bu Ijah tetap waspada, kita gak tau darimana dia akan muncul."


"Baik pak ustadz."


Kira-kira 10 menit keberadaan Kunti tidak ada lagi, namun Jaka belum terbangun dari tidurnya, posisi tubuh Jaka juga masih sama yaitu telentang.


Pak ustadz curiga jika Kunti pasti saat ini sedang berada di alam mimpi, menahan jiwa Jaka disana. Pak ustadz pun mendekat ke Jaka yang terbaring, kemudian pak ustadz memeriksa Jaka, mulai dari membuka kelopak mata, dan denyut nadi di pergelangan tangan.


"Alhamdulillah, dia masih bisa diselamatkan." Ucap lirih pak ustadz.


"Maha besar Allah, pemuda ini masih bisa kita tolong, sebab dia belum terlalu lama ditawan oleh makhluk itu, saya sudah periksa kondisi tubuhnya masih terjaga, hanya saja suhu tubuhnya sedikit dingin, tapi ibu tidak perlu risau, kita pasti bisa membawa kembali jiwa pemuda ini yang ditahan olehnya."


"Pak ustadz, kalau saya boleh tau kenapa sampai sebegininya makhluk jahat itu menggangu nak Jaka ? jujur saya belum tau."

__ADS_1


"Besar kemungkinan jikalau makhluk itu telah jatuh hati pada pemuda ini, dan sepertinya pemuda ini pun merasakan perasaan yang sama, itulah salah satu sebab utamanya, tetapi ini hanya dugaan saya saja, saya hanya menangkap apa yang makhluk itu katakan."


"Ya Allah, apakah mungkin pak ustadz makhluk halus menyukai manusia apalagi sampai jatuh hati seperti itu ?" Bu Ijah tak menyangka.


"Tentu saja bisa Bu, bukan tanpa alasan dikarenakan si manusianya itu sendiri yang mengizinkan hal itu sampai terjadi. Tapi sudahlah Bu, panjang jika harus saya terangkan secara detail, sekarang yang terpenting kita harus segera menyelamatkan jiwa pemuda ini dan secepatnya mengeluarkannya dari sana, pemuda ini harus terbangun sebelum hari gelap selambat-lambatnya pukul 5 sore ini Bu atau dia akan tetap tinggal disana tanpa bisa bawa kembali jiwanya." Pak ustadz menjelaskan.


"Astaghfirullah al adzim, ayo segera tolong nak Jaka, pak ustadz. Tolong bawa kembali jiwanya." Wajah Bu Ijah menjadi sedih dan juga merasa bersalah.


"Tenang Bu Ijah, waktu kita masih ada beberapa jam. Pasti kita akan mengembalikan jiawanya."


"Iya pak ustadz, bismillah. Semoga Allah membantu kita, mempermudah semuanya."


"Amiin amiin ya rabbal a'lamin. Kita doa bersama-sama Bu."

__ADS_1


Bu ijah mengangguk mengiyakan.


__ADS_2