
Aroma bunga masih merebak di dalam kamar Jaka, namun Jaka tidak mau ambil pusing, ia latih hidungnya agar terbiasa mencium aroma bunga seperti ini. Jaka rebahan di ranjang sembari memainkan game diponselnya, saat asyik bermain, sebuah pesan singkat masuk, tertera dilayar nama pak bos, Jaka menghentikan permainan gamenya, segera membuka isi pesan.
\=Besok pagi kamu naik kendaraan umum berangkat ke cabang perusahaan, sebab sepeda motor untuk transportasi kamu ada di sana\=
\=Iya pak\= Balas Jaka singkat.
Usai membalas pesan dari pak bos/pak Seno, Jaka melanjutkan permainan gamenya yang tertunda. Sedang asyiknya bermain game terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.
"Siapa ya yang ketuk pintu depan ? mungkin Bu Ijah kali ya, off dulu aja main gamenya, samperin Bu Ijah dulu, mungkin penting." Jaka meletakkan ponsel di sisi ranjang, ia pun berjalan ke arah pintu depan.
Jaka membuka pintu, dan benar saja jika yang datang adalah Bu Ijah.
"Eh ibu, ada apa ya Bu ?" Tanya Jaka langsung.
__ADS_1
"Gak apa-apa, ibu cuma mau tanya. Kamu sudah makan belum ? kebetulan ibu tadi masaknya agak banyakan, jadi ibu bawain untuk kamu." Bu Ijah menenteng bungkusan plastik warna hitam berisikan makanan.
"Saya sudah makan mi instan tadi Bu, tapi saya makasih banget lho Bu udah repot-repot bawain saya makanan." Jaka sungkan.
"Gak apa-apa, yaudah ini dimakan ya, maklumin kalau rasanya kurang pas di lidah kamu."
"Woah makasih banget ini lho Bu, soal rasa sama saya santai Bu, pasti habis saya makan seorang diri." Jaka menerima dengan perasaan senang.
"Nak Jaka, Ibu mau tanya, gimana menurut kamu rumah ini ? nyaman tidak ?" Tanya Bu Ijah.
"Syukur deh kalau nak Jaka ngerasa nyaman, ibu jadi lega."Ucap Bu Ijah sembari mengelus dada.
"Emangnya kenapa Bu ? hm yang sebelumnya gak ngerasa nyaman gitu tinggal dirumah ini ?" Reaksi Bu Ijah yang seperti itu, memantik rasa penasaran Jaka, ia pun ingin tau mengenai karyawan yang sebelumnya.
__ADS_1
"Ah bukan apa-apa kok nak Jaka, yaudah ya ibu pamit pulang dulu, mari nak Jaka." Bu Ijah buru-buru pamit pulang.
"Lho saya tanya kok ibu malah pulang, jawab dulu pertanyaan saya Bu." Seru Jaka masih penasaran karena Bu Ijah belum memberi jawaban.
"Besok saja ya nak Jaka, ibu buru-buru ini, ibu lupa lagi masak air. Udah ya nak Jaka selamat istirahat." Bu Ijah berjalan tergesa-gesa.
Jaka heran dengan reaksi Bu Ijah yang sepertinya menghindar tidak ingin menjawab pertanyaannya tadi.
"Aneh Bu Ijah, aku tanya soal karyawan sebelumnya malah buru-buru pulang kayak panik gitu, padahal sebelum aku tanya, bicaranya santai aja. Udahlah mungkin Bu Ijah beneran lagi masak air, daripada mikirin Bu Ijah mending aku lanjut makan aja. Moga aja Bu Ijah kasih lauk+nasi nya." Jaka melupakan sikap aneh Bu Ijah, ia fokus ke bungkusan plastik yang ia pegang.
Jaka menutup pintu dan segera membuka bungkusan plastik ini. Wajahnya begitu sumringah saat melihat sepotong gulai paha ayam yang dibungkus oleh plastik kecil putih, kemudian nasi putih yang terbungkus kertas.
"Wih rezeki nomplok, tau aja bu Ijah kalau aku mulai laper, main game terlalu asyik bikin perut laper lagi. Nah tadi abis makan mi instan eh dapet ayam gulai+nasi juga, bakalan kenyang aku ni malem. Gas kalau gitu, selesai makan langsung otw tidur aku, pasti nyenyak..senyenyak..nyenyaknya tidurku ni malem."
__ADS_1
Jaka menyantap dengan lahap dan singkat, tanpa ada sisa nasi sebutirpun tertinggal.