Kunti Jatuh Hati

Kunti Jatuh Hati
KJH 23


__ADS_3

Jaka yang telah selesai makan, kemudian pak ustadz pamit undur diri dari rumah Bu Ijah.


"Baiklah, saya rasa pemuda ini akan baik-baik saja. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu."


"Terimakasih banyak pak ustadz, sudah dengan sukarela membantu nak Jaka." Bu Ijah berterimakasih.


"Sama-sama Bu, sudah seharusnya sesama muslim saling membantu jika di perlukan, apalagi ini menyangkut keselamatan jadi saya akan begitu senang hati untuk menolong, tentunya sebisa saya."


"Iya pak ustadz, sekali lagi kami mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan pak ustadz, kalau tidak ada pak ustadz, jujur kami tak tau harus melakukan apa." Timpal Pak Tono.


"Sudah biasa saja, jangan terlalu berlebihan mengucapkan rasa terima kasih, saya yang jadinya tidak enak. Jika tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya mohon pamit, dan buat kamu anak muda, ingat pesan saya yang tadi ya, cepat sembuh untuk kamu, wassalamu'alaikum."


Jaka mengangguk paham, kemudian pak ustadz pun beranjak pergi. Belum lama, pak ustadz pergi. Bu Ijah keluar menghampiri pak ustadz lagi, ada hal yang masih ia ingin tanyakan pada pak ustadz.

__ADS_1


"Pak ustadz tunggu." Panggil Bu Ijah sembari berjalan mendekat.


Pak ustadz yang memang belum jauh, menoleh kearah Bu Ijah. "Ya, ada apa Bu ?" Tanya pak ustadz.


"Begini pak ustadz, saya mau tanya, benarkah nak Jaka itu di ganggu sama hantu perempuan semacam Kunti gitu ya pak ustadz?" Bu Ijah penasaran.


"Bisa jadi iya, bisa tidak, saya juga kurang paham, yang saya tau bahwa makhluk jahat tak kasat mata itu adalah bangsa jin ataupun setan."


"Katakan saja Bu, jangan sungkan."


"Pak ustadz, ini masih tentang nak Jaka, jadi dirumah yang ditempati nak Jaka sebenarnya ada sesosok hantu perempuan disana, saya yakin pasti hantu itu yang merasuki nak Jaka, nah menurut pak ustadz apakah tidak apa-apa jika nak Jaka kembali menempati rumah itu ?"


"Ibu, sekarang tergantung sama manusianya itu sendiri, jika ia selalu ingat kepada Allah, insya Allah, jin ataupun setan tidak akan mampu menggoda dan menggangu manusia, apalagi hingga sampai merasuki tubuh lalu menguasai tubuh manusia sepenuhnya. Jadi menurut saya, pemuda itu tidak masalah tetap tinggal dirumah itu asal dengan catatan, dia mulai memperbaiki ibadahnya seperti sholat 5 waktu, membaca Al-Qur'an, dan dzikir kepada Allah."

__ADS_1


"Baiklah pak ustadz, saya akan coba menasehatinya. Pertanyaan saya sudah selesai, silahkan pak ustadz, bisa melanjutkan urusannya yang sudah tertunda, karena saya."


"Tidak apa-apa Bu, kalau begitu saya permisi. Wassalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam."


Pak ustadz melanjutkan perjalanan kembali, dan Bu Ijah masuk kedalam rumah. Dilihatnya, Jaka masih memegangi keningnya, mungkin masih terasa pusing.


"Nak Jaka istirahat saja jika masih lemas dan pusing, nanti setelah benar-benar pulih, baru nak Jaka pulang kerumah dengan diantar pak Tono."


"Iya pak, bapak istirahat saja dulu, saya akan menunggu disini."


Jaka hanya mengangguk lemas dengan mata setengah terpejam.

__ADS_1


__ADS_2