
Bu Ijah belum dapat menjelaskan kepada pak Tono tentang sebab Jaka bisa seperti itu. Bu Ijah berusaha memohon lagi agar Jaka secepatnya dibawa ke kediamannya. Pak Tono yang masih bingung harus bersikap, akhirnya pak Tono bersedia dengan apa yang di inginkan oleh Bu Ijah. Jadi Pak Tono kembali ke tempat kerja dan menemui pak Ferdi, ia menerangkan apa yang dikatakan oleh Bu Ijah. Awalnya Pak Ferdi tidak setuju namun pak Tono berhasil membuat pak Ferdi memberikan izin untuk membawa Jaka kerumah Bu Ijah.
Pak Ferdi menghubungi dokter klinik, ia memberi tahu bahwasanya Jaka tidak jadi dibawa kerumah sakit, mendengar itu reaksi dokter terkejut, ia mempertanyakan sikap pak Ferdi yang dinilainya meremehkan sakit dari Jaka. Dokter menolak dengan menjelaskan kembali kondisi Jaka yang harus sesegera mungkin mendapatkan penanganan intensif. Pak Ferdi juga menjelaskan alasannya membatalkan Jaka untuk dibawa kerumah sakit. Percakapan yang cukup panjang via telepon, dan dengan berat hati dokter menyetujui permintaan pak Ferdi. Dokter mengizinkan pak Ferdi untuk membawa Jaka pulang dengan keadaan masih belum sadarkan diri.
Sambungan telepon telah selesai, pak Ferdi menyuruh pak Tono untuk membawa Jaka kerumah Bu Ijah.
"Dokter sudah setuju, kamu bisa bawa Jaka kerumah Bu Ijah."
"Baik pak."
"Naik taksi saja, ini ongkosnya." Pak Ferdi memberikan 2 lembar uang 100 ribu.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya pergi sekarang."
__ADS_1
"Jika sampai terjadi apa-apa dengan Jaka, saya tidak akan bertanggung jawab. Sesuai kata kamu, ini sepenuhnya tanggung jawab dari Bu Ijah."
"Iya pak, saya akan menyampaikannya kepada Bu Ijah."
"Kamu boleh berangkat sekarang. Lekas kabari saya jika keadaan Jaka membaik, ya walaupun saya ragu tapi mudah-mudahan saja Jaka bisa segera sadar." Sebenarnya ada rasa khawatir namun pak Ferdi percaya ucapan dari Bu Ijah yang disampaikan melalui pak Tono.
Pak Tono menuju ke klinik, membopong Jaka masuk kedalam taksi kemudian membawa Jaka kerumah Bu Ijah.
Pak Tono membaringkan Jaka di sofa ruang tamu Bu Ijah.
"Pak Jaka sudah saya bawa kesini, lantas bagaimana selanjutnya ? tidak mungkin pak Jaka dibiarkan saja seperti ini." Pak Tono meminta penjelasan Bu Ijah.
"Iya pak, tunggu sebentar saya sedang menunggu pak ustadz untuk datang kesini."
__ADS_1
"Pak ustadz ? maksud ibu, pak Jaka ini tidak sadarkan diri karena hal gaib gitu ?"
"Benar pak, saya yakin nak Jaka sedang di ganggu oleh penunggu rumah itu." Raut wajah Bu Ijah seketika sedih.
"Kenapa ibu begitu sangat yakin ? bukan hanya pak Jaka yang pernah tinggal dirumah itu Bu, sebelumnya ada 3 orang, dan mereka tidak mengalami hal semacam ini."
"Saya juga heran pak kenapa nak Jaka bisa sampai seperti ini." Bu Ijah memandang sendu wajah Jaka yang terlihat pucat.
"Sebelum ibu memberitahu saya, ibu kantin yang ada ditempat kerja juga mengatakan hal yang sama, namun saya tidak mempercayainya tetapi karena ibu begitu sangat yakin makanya saya berusaha untuk percaya."
"Pak Tono lihat saja nanti, setelah pak ustadz datang kesini untuk mengobati nak Jaka, pasti pak Tono akan percaya dengan ucapan saya."
"Baiklah bu, saya akan menunggu dan melihat."
__ADS_1