
Sedangkan, di rumah Prabu.
Rosemary menangis sejadi jadinya, ingatan kejadian itu terliang kembali ke ingatanya. Luka hati kembali terbuka, rasa bersalah, dan penyesalan kambali menguap ke permukaan hatinya lagi.
Memori memori rentetan kejadian itu seakan berputar putar di kepala Rosemary. Ia berjalan menuju sebuah laci kecil bawah meja lampu tidur. Ia ambil selembar foto lama, ia peluk dengan penyesalan. Rasa egois yang membawa hidupnya rumit. Bila bisa memutar dimensi waktu, ia memilih pergi menjauh dan membuat kehidupan nya sendiri.
Keluarga satu satunya pergi, karena dirinya? Menyesal menyesal, andai andai, angan angan, semua nya hanyalah suatu imajinasi kisah kelam. Sebaik baiknya menyimpan pasti akan ketahuan, begitupun dengan rahasia menyakitkan itu.
Rosemary berjalan menuju ruang rawat suaminya itu, ia pandang wajah tak berdaya, lemah, dan pucat. Semakin bertambah rasa bersalah itu. Kenapa bukan dirinya saja yang mati? Garis apa yang sedang kau buat tuhan?.
Rosemary meninggalkan ruangan itu. Dia kembali ke kamar dan duduk menghadap jendela kaca besar. Merenungkan kesalahan, seharusnya seharusnya, dan tinggal seharusnya.
" apakah saatnya semua ini terbongkar? Apakah prabu bertambah membenciku? "
__ADS_1
" tuhan , berikanlah aku petunjukmu"
Akhirnya, Rosemary memilih tidur. Ia berharap kejadian tadi pagi hanyalah mimpin semata. Dan harapan akan terus jadi harapan!
••••
Dua anak kembar itu bermain dengan sangat gembira. Sang kakak yang menyabar dan sang adik yang pembangkang. Sangat komplit. Kemana kemana mereka selalu berdua, suka duka mereka jalani walau tanpa ada orang tua yang mengiring keduanya.
Bukan masalah, asalkan dia tak terpisah dengan sang kakak, hidupnya sangat tergantung pada pundak sang kakak.
Tak ada akhir dalam kehidupan sebelum sang makhluk masih hidup. Begitu pula dengan keadaan, rasa kagum, bangga, sayang dan cinta pada sang kakak sirna seketika. Rasa iri dan benci nya membawa dirinya memasuki neraka dunianya sendiri.
Memisahkan kasih sayang ibu kepada anaknya, merebut kasih sayang ayah pada keluarga nya. Iri dan dengki memang selalu membawa pada hal keburukan. Seakan hati telah mati, jiwa telah bosan dan pengkhianatan menggiring dirinya semakin dalam.
__ADS_1
Peristiwa kelam itu pun terjadi, bila memang darah lebih kental dari pada air maka kini bagaikan tidak lagi. Darah bagaikan secair air, kisah persaudaraan itu renggang dan akhirnya hilang. Mengorbankan anak dan ayah yang tak bersalah.
Sandara nya hilang, benar benar hilang. Semua tinggal penyesalan tak berujung di dirinya. Ia baru menyadari betapa dahsyatnya benci dan iri itu. Bila bisa memutar waktu, ia ingin menghapus rasa itu. Yang terjadi tak akan pernah kembali. Masa lalu tak akan pernah bisa terulang, masa lalu memang pelajaran yang sangat berharga.
Sesak! Itulah yang dia rasakan jika mengingat itu semua. Seakan karma tak pernah melesat pada sasarannya, terima lapang dada? Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dalam diri dia berjanji akan menjadikan spion masa lalunya itu.
Biarkanlah sesak, luka, penyesalan, dan sakit ini menjadi satu. Hatinya kini sudah benar benar hancur,goresan yang ia buat sendiri lebih menyakitkan.
Luka yang belum benar benar kering kembali terbuka!
Menyesal memang tak ada gunanya tapi, setidaknya dengan menyesal bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi..
Jadikan penyesalan sebuah cermin kehidupan..
__ADS_1
Jangan pernah luapakan rasa itu, penyesalan patut di kenang, agar setiap individu tak melakukannya berulang ulang~