
" Tina kenapa Eon?? Jawab aku." bentak Leo.
" kak Tina sudah tiada. "
" Apaaaaaa???? Tidak ahhhh. " marah bercampur sedih dan menyesal. Kenapa dia harus membawa Tina berlibur. Jika Tina hari ini masih tidur di rumah, ia masih bisa memandang wajah ayu Tina. Leo segera bangkit, ia melepas infus dan selang darah nya.
Dia berlari mencegat taksi, Agus dan Leon pun terkejut. Mereka segera menyusul Leo. Sedangkan di taksi Leo masih menangis antara percaya atau tidak. Hatinya sangat terpukul baru kemarin, dirinya mengucapkan janji, baru kemarin dirinya memadu kasih dan baru kemarin dirinya membuat wajah Tina senang berseri seri. Rasanya ini semua tidak mungkin.
Sesampainya di rumah Tina, Leo segera berlari. Disana banyak pelayat yang datang. Bahkan teman sekolah Tina datang semua. Tidak!! Ini hanya mimpi. Leo tak mengubris sekitarnya, ia tetap berlari. Di ruang tengah terdapat peti mati Tina, dengan langkah lemas ia menghampiri peti mayat itu.
Ia buka secara perlahan dan terus berdoa ini semua mimpi. Tangannya gemetar saat akan membuka peti itu. Ia buka perlahan, hatinya remuk melihat wajah tina hanggus. Tapi, dirinya masih cantik. Ia sentuh wajah itu dengan tangan gemetar, air matanya sudah tidak tertahan ingin keluar semua.
" Tina sayang.. " lirih Leo sambil memeluk tubuh dingin, kaku Tina.
" bangun Tina sayang.. Jangan tinggal kan aku.. Aku mohon. "
" tina, kita masih harus menikah, pergi ke Perancis untuk jalan jalan. "
" tina, mana janji yang kamu buat di bawah pohon besar itu?? Mana cinta mu itu?? "
" TINA AKU MOHON BANGUN!!!. " teriak Leo.
__ADS_1
Ia meringsut jatuh di bawah peti Tina, hatinya sakit. Sangat sakit, hatinya sudah hancur sehancur hancurnya. Bunda dan ayah semakin menangis, apalagi melihat kondisi Leo yang masih menggunakan pakaian rumah sakit.
Leo tak beranjak dari sisi Tina, dirinya bagaikan orang gila. Ia terus mengajak Tina berbicara dan dirinya lah yang menjawab. Semua yang melihat itu bukan tertawa tapi semakin menangis. Begitu rapuhnya sosok Leo yang dingin, kaku itu.
***
Prosesi pemakaman sudah berakhir, semua sudah pergi dari tempat dimana jasad tina di pendam. Bunda pingsan, jadi ayah, Leon dan Agus panik masing masing. Kini tinggal Leo yang sendiri. Dirinya masih duduk di samping kuburan Tina, dirinya masih menangis. Seakan stok air mata itu masih ada. Ia meraba batu nisan bertulis nama pujaan hatinya itu, ia cium, dia peluk.
" Tina sayang.. Kamu tega meninggalkan aku. "
" bukan Tina tapi bebeb, ya bebeb hahaha. " ujar Leo tertawa dan menangis. Suara tawa renyah itu seakan memberi tahu semua bahwa itu bukan tawa bahagia, itu tawa kesedihan yang mendalam.
" beb ini tidak lucu..."
" beb, ahh sudah lah.. Aku pamit pergi dulu, aku harus membongkar janji itu, agar kamu tahu,.. Aku tulus mencinta mu. " ia kecup batu nisan itu lalu beranjak dan pergi ke arah telaga buatan kota.
Di telaga itu, Leo termenung. Tampilan nya acak acakakan, masih memakai baju rumah sakit, tanpa alas kaki. Benar benar seperti orang gila. Dirinya menangis di bawah pohon rindang itu, pohon yang teruki nama nya dan juga Tina. Ia raba batang pohon itu, lagi lagi air matanya bertambah deras.
Leo gali tanah di bawah pohon itu, terdapat sebuah botol kaca di gembok rapi. Dengan perlahan dia membuka botol kaca itu, terdapat kertas yang di gulung. Dengan gemetar, Leo membuka gulungan kertas itu. Di bacanya tulisan itu perlahan. Tulisan yang di tulis dengan tawa canda kegembiraan Tina. Tulisan tangan dirinya juga Tina. Sebuah janji yang hanya sebuah janji.
Kita berjanji akan selalu bersama,
__ADS_1
Kita berjanji akan hidup dan mati bersama,
Sebuah ikatan pernikahan, sebuah janji pada tuhan yang akan menyatukan kita,,
Sebuah pertemuan yang tak mengenal sebuah perpisahan,
Cinta abadi ini akan tetap abadi di sepanjang zaman..
Leo cinta Tina, Tina sangat cinta Leo.
**Leo ❤ Tina**.
" hahahaha. " tawa Leo " tina lihat ini, lihat,, kita tulis berdua, kita tulis dengan perasaan yang sama. Dimana sebuah kata janji itu?? " tangis Leo.
Ia kembali duduk di depan telaga itu. Ia kembali mengenang bagaimana dirinya menembak Tina, dan bagaimana reaksi Tina. Di telaga ini dirinya, kembali rapuh, dulu ada sebuah tangan mungil yang akan menghapus air matanya dan menepuk punggungnya dengan sayang. Namun, kini berbeda. Dirinya rapuh sendiri, tak ada lagi cahaya di malam nya hati. Semua sudah hilang.
Ia lihat kedai es krim itu, kedai es krim itu dirinya melihat Tina bahagia, berceloteh seperti anak kecil, tersenyum riang merasakan manis, pahit, dingin sebuah es krim. Namun, itu semua hanya lah sebuah imajinasi. Tinanya sudah pergi, dan sekarang sudah berada di sisi Tuhan.
Ia ambil cincin itu, ia kecup pelan cincin itu. Imajinasinya untuk memiliki Tina hilang sudah, sebuah angan angan ingin hidup menua pudar sudah. Ia buat cincin itu bagikan liontin kalung. Dia kalungkan di leher putih Leo, berharap cinta nya pada Tina tetap abadi di hatinya. Ia tutup rapat rapat hatinya, Leo harus bangkit, dia harus sukses seperti janjinya pada Tina. Dirinya akan sukses, Leo segera bangkit dan kembali ke rumah.
Telaga itu adalah sebuah saksi bisu perjalanan cinta Leo dan Tina. Cinta yang tak abadi, cinta yang suatu saat akan hilang, tak ada sebuah cinta yang abdi kecuali cinta mu pada Tuhan mu. Dan selamat jalan cinta, semoga kelak di akhirat kita bisa bersatu dengan garis yang berbeda.
__ADS_1