
Setelah makan siang bersama, prabu mengajak Tina jalan jalan menelusuri kota besar ramai itu. Tentu saja Tina sangat senang, dia bahkan tak menyangka Prabu mengajak nya keliling kota.
Prabu juga sangat bahagia, ia berani mengajak Tina jalan jalan. Ia semakin mengenggam tangan Tina. Hatinya mulai tenang, bisa sedikit membagi kisah hidupnya pada orang terkasih.
Mereka menelusuri kota dengan berjalan kaki. Hingga tak terasa matahari mulai menenggelamkan dirinya di arah barat. Semburat cahaya orange kekuning kuningan menambah kesan romantis bagi dua sejoli pemalu itu. Prabu mengajak Tina duduk di bangku pinggir jalan, menggenggam tangannya sambil melihat keindahan sesaat itu.
Senja sore itu sangat indah, namun hanya sesaat.
Ku ingin selalu bersama dirimu,
Menelusuri hari hari tua bersama dirimu,
Namun, diriku sadar..
Rasa ini menyulitkan diri ku mendapatkan mu,
Tapi, diriku yakin,
Jika senja mengajarkan kita indah hanya sesaat maka fajar juga akan mengajarkan keindahan datang setelah kegelapan...
Haruskah sekarang? Tina aku sangat menyayangi mu.
Mereka asik melihat senja dan keramaian kota. Hingga lampu lampu germelap menghiasi kota, menambah kesan indah.
Prabu akhirnya mengajak Tina pulang,
__ADS_1
Perjalanan mereka di iringi kebisuan, hati dan pikiran mereka saling berperang. Rasanya enggan meninggalkan keromantisan tadi.
Apakah hanya sesaat rasa bahagia ini?
Ingin ku selalu bersama mu,
Ingin menerjang dunia ini di sisimu,
Kenapa sangat sulit menggapai mu?
Benarkah keindahan senja hanya sesaat? ~batin tina
Ingin sekali membawa dirimu pulang ke rumah ku,
Menemanimu, menjadi sandaran di dalam duka mu,
Tuhan,
Kapan masalah ku selesai? ~batin Prabu
Sepulang mengantarkan Tina, Prabu pulang ke rumahnya. Hari ini, hari yang membahagiakan juga melelahkan. Ia turun dari mobil sportnya dan masuk ke rumah.
Masuk ke dalam kamar dan mengabaikan kehadiran ibunya. Sakit, hati dan pikiran nya harus bertolak. Ia menggunakan logika dalam bertindak. Memang tak ada yang salah antara logika dan perasaan. Namun, jika perasaan itu sudah hancur?
Memasuki kamarnya, dan membersihkan diri. Merendamkan tubuh nya ke dalam air hangat beraromakan lavender. Menenangkan. Sedikit waktu untuk mengkosongkan pikiran nya.
__ADS_1
Ia duduk di meja belajar nya, kembali membuka album foto keluarga nya itu. Rasa sakit di kepalanya sudah sedikit mereda.
Ia buka lembaran selanjutnya, terdapat dua anak perempuan kembar menanam bunga. Seperti foto lama. Satu anak perempuan menanam bunga mawar putih dan yang satunya mawar merah?. Eh? Tunggu.
" mawar putih? "
" apakah ini petunjuk? "
Prabu lepas foto itu dari album plastik lama itu. Di belakangnya terdapat sebuah tulisan latin kecil.
Bersama selamanya, kita saudara!
" apakah ibu tadi mengunjungi keluarga kembarnya? "
" kenapa aku baru tahu, "
Lembaran selanjutnya, foto keluarga kecil yang sangat bahagia. Ada ayahnya,ibunya dan dua anak laki laki? Siapa dua anak laki laki itu? Apakah saudara prabu?
" seingatku, aku tak punya saudara"
Dibawahnya, terdapat foto dua balita laki laki sekitar umur 2 th. Senyuman nya sama, matanya sama tapi kenapa wajahnya sangat berbeda? Senyum itu, mengingatkan prabu pada sebuah memori yang sulit di satukan. Bagaikan potongan puzzle yang saling menghilang.
Kepalanya berdenyut, prabu menghentikan melihat foto foto itu. Istirahat sebentar mungkin bisa meredakan sakitnya itu.
Ia istirahatkan badannya, memandang langit langit kamar nya. Ingatan kebersamaan nya dengan Tina, hari yang bahagia gumamnya sambil menutup mata. Dengan senyum bahagia.
__ADS_1
semoga mimpi indah menghampiri nya.