
Setelah beberapa hari di rawat Leo akhirnya pulang ke rumah. Ia di sambut oleh sang ayah yang masih duduk di kursi roda. Keadaan ayahnya masih lemah, otot otot dan sendi masih kaku jadi, masih perlu terapi rutin. Di sana senyum lebar sang ayah, Agus sangat bersyukur masih bisa melihat anak nya. Ia dulu menggira bahwa tidak akan pernah bisa melihat kedua anaknya itu.
Siapa yang tahu? Jodoh, kematian ada di genggaman nya. Kita bisa apa? Sebutir debu ini hanya bisa berdoa, berdoa agar di beri kemudahan. Jangan pernah berdoa jangan di kasih cobaan? Kehidupan, tak akan pernah menjadi pelajaran tanpa sebuah cobaan. Tuhan maha pandai, semua sudah di atur. Berusaha, berdoa, menyerahkan segalanya di iringi doa dan usaha adalah sebuah jembatan kehidupan.
Hidup memang tak mudah. Hidup juga tak sulit, tergantung kita bagaimana menyikapinya. Semua terasa ringan dengan senyuman, semua terasa menantang dengan cobaan. Mari! Nikmati hidup mu, ingatlah hidup hanya sekali, gunakan kesempatan ini untuk membuat sebuah kunci surga.
Keluarga Alwanta seakan hidup kembali. Kebahagiaan yang terlah hilang beberapa tahun itu seakan menghampiri lagi. Mereka asik bercanda dan bergurau. Kehidupan Leo dan Leon kembali lagi.
Besuk mereka akan berencana berziarah ke makam Rosemary. Sudah sangat lama mereka tidak mengunjungi makam Rosemary. Jika mengingat Rosemary mengingatkan Leo pada tantenya Rismary. Rasa kecewa bercampur benci itu kembali datang.
Di sebuah gudang kosong,
" hiks hiks hiks hiks hiks,,,, Tuhan, aku tahu.. Aku salah!! Aku telah menghancurkan kebahagiaan keluarga kakakku.. Aku menyesal tuhan"
" jika ada kehidupan selanjutnya, aku hanya ingin mengabdikan diriku pada Mu"
__ADS_1
" jika kau benci caraku, tak masalah tuhan.. Aku lelahhh, dan menyerah untuk hidup ini... "
" kak,, aku datang! Semoga kamu dapat menerima maaf ku"
Rismary mengambil sebuah pisau dan memotong urat nadinya, darah mengalir sangat deras. Kesadaran nya mulai hilang. Sekelebat bayangan kakaknya datang dengan wajah sedu nya, seketika itu pula rasa bersalah semakin kuat. Dirinya tersenyum, untuk terakhir kalinya.
" Leo tante selalu menyayangi mu nak" kalimat itu adalah kalimat terakhir sebelum ajal benar benar menjemput nya.
Keluarga alwanta,
Malam harinya, Agus, Leo dan Leon menikmati makan malam dengan hikmat. Tak ada satupun yang mengingat Rismary. Sosoknya bagaikan hilang di telan bumi, tak ada yang tahu. Dan mereka tidak ada yang peduli. Mungkin ini alasan mengapa Tuhan melarang membenci , karena kebencian akan menutupi hati nurani.
Kamar Leo,
Setelah ritual gosok gigi itu, Leo duduk di meja belajarnya sambil membuka kembali sebuah album keluarga nya. Terbesit kata andai dalam pikiran Leo.
__ADS_1
Andai saja Tante tidak egois,
Andai saja Tante lebih bijaksana,
Semua tak akan jadi seperti ini,
Kita masih bisa berkumpul bagaikan keluarga harmonis.
Andai hanya bisa menjadi andai. Semua sudah terlanjur, sesal? Terlambat. Semua sudah berubah. Berfikirlah sebelum bertindak adalah pelajaran kisah ini. Jangan terlalu gegabah.
Leo berjalan ke arah balkon, menikmati syahdunya semilir angin malam. Dingin, hangat menjadi satu. Menikmati mendung nya malam, tak ada bintang, tak ada bulan. Gelap.
" ahhh di saat bahagia malah gelap gulita " gumam Leo.
Akhirnya Leo memutuskan untuk tidur, dalam rencana esoknya. Ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Tina. Sangat tidak baik membuat Tina menunggu. Semoga jantungnya bisa diajak kompromi.
__ADS_1
Ia tutup matanya perlahan, sembari bersenyum membayangkan ekpresi Tina jika di tembaknya. Pasti sangat terkejut dan langsung mengajaknya ke KUA. Hah terlalu banyak berkhayal.
Malam dunia,