
"kak, tunggu. "
" kau ini, jangan lambat lambat" ucapnya sambil mengelus lembut kepala sang adik.
" kau yang terlalu cepat,,,," jawab sang adik yang akan mode on merajuk.
" es krim? "
" mau, ahh kamu memang kakak terbaaaiikkk ku"
" kak aku juga mau mobil mainan itu"
" iya, nanti kita beli bersama"
" walau kita seumuran,tapi kamu lebih dewasa. Aku sayang Kaakak"
" kau ini, kalau ada maunya memuji"
" hehe"
••••
" bibi ,kenapa hanya sayang kakak? "
••••
" kakak"
••••
" kak, jangan pergi! "
••••
" aku tak bisa membenci mu kak"
__ADS_1
••••
" bibi, jangan bawa pergi kakak ku"
•••
" hiks hiks ibuuuu"
••••
Kala itu, hujan badai mengguyur kota besar nan ramai. Di lebatnya hujan itu, ada dua anak laki laki berteduh di bawah pohon besar. Suara petir menggelegar di penjuru kota. Menambah kesan menakutkan. Tubuh keduanya menggigil, sang kakak memeluk adik kesayangan nya.
Tiba tiba kilat menyambar, dan.
Classs, brukkkk
Ranting pohon itu putus dari awaknya, ranting itu menggenai kepala sang kakak. Darah keluar dengan deras. Sang adik menangis histeris. Suara tolong bagaikan rintikan hujan. Sepi. Tak ada satupun melewati jalan itu.
Darah dan air menambah kesan khawatir, takut. Tangisan nya semakin menjadi jadi. Dan, akhirnya kakaknya tak sadarkan diri. Sang adik tambah histeris, namun, apa yang bisa di lakukan? Hanya menunggu bantuan datang. Mencoba berdoa, mencari sang pencipta.
Hujan mereda, tubuhnya pucat. Orang baik menemukannya pingsan di bawah pohon. Pakaian nya penuh noda darah, wajahnya kebiru biruan. Terlihat seperti mayat. Tapi, detak jatung masih berbunyi, pertanda kehidupannya belum berakhir.
••••
Ruangan dengan nuasa biru laut, kasur empuk, hangat. Ruangan yang sangat asing baginya. Kepalanya terdapat lilitan perban. Ia tak ingat apapun.
Suara pintu terbuka, sosok wanita cantik datang membawa minum dan makan. Ia bilang dia mommy nya. Percaya? Tentu saja, ia tak ingat apapun.
Udara di negara itu asing baginya. Ia hidup di rangkul kasih sayang sang mommy.
••••
Sang adik menangis sejadi jadinya. Kakaknya hilang. Kakak, sang pelindung, bagaikan malaikat hidupnya hilang. Orangtuanya mencari, namun masih belum berhasil. Rasa bersalah kian menjadi. Darah. Ia takut dengan darah. Darah yang membawa kakaknya pergi, darah yang membuat kakaknya kesakitan.
Ketakutan, kebencian nya pada darah.
__ADS_1
••••
Kebohongan tak akan bisa tertutupi, tali kebatinan cukup kuat. Memori otaknya kembali. Ia pergi meninggalkan pembohong itu.
Mencari sang adik tersayang, kedua orangtua nya yang asli.
Kejadian naas terjadi, peristiwa yang merubah semua bayangan dan angan angan itu.
•••••
Mobil dengan kecepatan tinggi, melaju tak beraturan di kota kecil itu. Pengendara sedang mabuk berat. Hingga, remaja yang di landa kesedihan itu berjalan tak lihat arah. Sang ibu, berteriak.
Teriakan itu bagaikan melodi indah, ia malah menikmatinya. Dan, akhirnya, tubuhnya terhuyung ke samping jalan. Kepalanya terbentur pembatas jalan. Ia melihat sendiri, ibunya tertabrak. Tubuh ibunya terlempar jauh di jalan sepi itu. Kepalanya mengeluarkan isinya, ngeri. Darah muncul di mana mana.
Sang adik menangis sejadi jadinya, ibunya telah tiada. Ingin sekali menolong. Pandangan matanya kabur, pening, buram dan akhirnya....
•••••
" hah" Prabu terbangun.
Apakah itu tadi memori kejadian lampau? Pikirannya.
Kepala nya berdenyut hebat. Teriakan prabu sampai ke penjuru rumah. Ibunya langsung bergegas ke lantai atas.
" Prabu, ada apa nak? "
" SAKITTT" teriaknya sambil menjambak rambut nya sendiri. Rasa sakit yang belum pernah ia alami. Rasanya bagaikan ada pukulan keras di kepalanya.
" ayo kita kerumah sakit, jangan di jambak nak. "
" aku tidak tahan bu, sakit sekali" kepalanya kian berat. Nafasnya mulai beraturan. Ia pingsan.
Ibunya terkejut, berteriak memanggil seluruh maid untuk membantu membawa Prabu ke rumah sakit.
Rosemary benar benar khawatir, ia berdoa. Berdoa agar prabu tidak terjadi apa apa. Perjalanan yang seharusnya cepat kini malah kian melambat.
__ADS_1