
Keesokan harinya,
Leo bangun lebih awal, ia memandangi makhluk tuhan penakluk hatinya itu. Sungguh, Tina bagaikan kucing manis yang tertidur nyaman di sofa abu abu itu. Senyuman terbit di bibir Leo. Bahagia, satu kata itu yang mewakili suasana hatinya sekarang. Hingga suara pintu membuat pandangannya teralihkan.
Ceklek.
Sosok yang sangat di rindukan pun datang. Sang adik tercintanya, sudah sangat lama Leo tidak melihat Leon. Hubungan mereka yang pernah renggang itu, kini kembali ke sedia kala. Rasa haru bagaikan tak tertahan , air mata kebahagiaan kini mengalir di sela sela pendangan rindu itu bertemu. Ia tahu, dia laki laki tapi, kenapa sangat cemen? Entahlah.
" kak leo" kata Leon. Kalimat singkat itu bagaikan cahaya di ulu hati Leo. Kalimat yang sangat dia rindukan itu. Wajah yang selalu mengadu di hadapan nya dan tubuh yang selalu berlindung di belakang nya kini tumbuh dewasa. Dia menjadi pribadi yang kuat, memang segalan ujian pasti akan ada sebuah hikmah yang bisa di petik. Tuhan tak tidur, semua sudah diatur.
Leon menghamburkan pelukan kepada sang kakak tersayangnya, kakak yang selalu menjadi benteng baja dirinya. Dulu, dia pikir tidak akan bisa hidup tanpa adanya sang kakak. Namun? Lihat sekarang! Dirinya bisa, tapi rasa kagum itu tak akan pernah hilang. Kakaknya adalah gambaran semangat dirinya.
Mereka asik pelukan, sampai tidak sadar Tina telah terbangun dari mimpinya. Tina melihat, bagaimana pelukan kedua kakak beradik itu. Sangat mengharukan. Hingga air mata Tina sampai mengalir. Sebesar itukah? Cinta seorang kakak kepada sang adiknya?. Kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya tak ada bandingannya, darah mengalir dengan suku yang sama. Rahim yang di tempatipun sama, tumbuh dan berkembang di tempat sama.
Acara kangen kangen nan mendadak itu pun usai. Rasa canggung malah menghampiri hawa haru tadi. Semua diam, tak ada yang memulai awal topik pembicaraan untuk menghilangkan sunyi itu.
Klek.
Suara itu pun mengeluarkan mereka dari rasa canggung itu. Seorang yang sangat di benci pun tiba, seseorang yang tega memisahkan dia dengan sang adik, kematian ibunya dan komanya sang ayah. Rasa dendam itu bagaikan tinta di baju putih, walau bisa hilang namun bekasnya selalu menggintari perjalanan hidup nya. Diam. Semua seakan bisu dengan kedatangan Rismary.
" maaf, aaaku hanya akan memberi tahu. Ayah kalian sudah sadar. Permisi" rasanya Rismary tak kuat, semua orang membenci dirinya. Orang yang dia sayangi pun terlihat sangat membenci nya. Mungkin, benar kata dokter, Prabunya sudah pulih oh tidak bukan Prabu tapi Leo keponakannya.
__ADS_1
Ia berjalan lunglai di lorong lorong sepi rumah sakit itu. Sedih, kecewa, marah dan cacian untuk dirinya sendiri. Semua berawal dari dirinya. Nyawa kakaknya hilang karena ke egoisannya. Awal rencana ia ingin memaksakan takdir tuhan kini? Hancur sudah. Kini dia duduk termenung, melihat langit meluapkan semua rasa sedih itu.
Sedangkan, Leo dan Leon sangat bahagia. Ayahnya telah sadar dari tidur panjangnya. Mungkin kah ini jawaban tuhan atas setiap doa doanya? Tuhan maha adil memang. Yang berulah akan mendapatkan karmanya, yang bersabar akan mendapatkan keberkahannya. Leo tambah bersemangat untuk cepat sembuh, semoga saja ia cepat di perbolehkan pulang dan memeluk erat ayahnya itu.
" Eon? Kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau ayah sudah sadar? " tanya Leo penasaran. Bagaimana adiknya sampai tidak memberitahu berita bahagia ini?. Pertanyaan yang sangat menuntut sebuah jawaban logika.
" maaf kak, aku kemarin tidak pulang. Aku, menginap di hotel dekat rumah sakit " jawaban Leon.
" kenapa? "
" aku marah dengan bibi Ris"
" huhhhff, sudahlah semua sudah terjadi. Yang terpenting semua sudah kembali lagi"
" aku tahu, memaafkan segala kesalahan tante Ris memang tak mudah. Tapi, bukalah pikiran mu. Tuhan saja dapat memberi ampun bagi hamba nya yang berdosa kenapa kita tidak bisa? "
" baik kak"
" hahahaha, kamu ternyata masih sama saja"
Keduanya pun tertawa, ingatan masa kecil mereka kembali terliang di memori otaknya.
__ADS_1
" emm, kak Leo dan kak Leon. Aku pamit dulu ya, aku harus pulang. "
" oh maaf Tina. Ya, terima kasih kamu mau menemani aku selama koma. Sekali lagi terima kasih"
" sama sama kak Leo ,permisi "
Setelah pintu tetutup itu, si kepo Leon beraksi.
" kak itu siapa? Kakak sudah punya pacar? Kapan nikah?udah tunangan belum? Oh ya, siapa tadi namanya? Kamu pinter milih kak.. Salut aku" oceh Leon.
" ssssttt diam, aku mau tidur. Kemarin kurang tidur. "
" jangan jangan kakak sudah... "
Bukkkk
" aduh"
" diam, masih kecil pikirannya kotor"
" ingat, kita itu kembar. Selisih 8 menit saja"
__ADS_1
" kalau kamu tetep ngoceh, aku jahit mulut kamu itu"
Langsung mincep Leon, sungguh kakaknya tambah sadis sekarang.