
Setelah berdesak-desakan dengan para penggila es krim, akhirnya Leo bisa menghirup udara. Sangat melegakan, ini semua dia lakukan demi Tina, sang pujaan hati. Mata besarnya mengedarkan penjuru pandangan di sekitarnya, dan dia menemukan sosok pencuri hatinya sedang duduk manis dan lihat, senyum manis tak pernah lepas dari wajah ayu Tina.
Langkah besar menggiring Leo kearah Tina, ia ingin segera duduk dan menyantap es krim bersama.
" Maaf be-bb lama. " ucap Leo kaku, sebenarnya ia kurang mantap dengan panggilan baru itu. Tapi, apa dayanya yang sekarang menjadi budak cinta Tina. Cinta Tina benar benar menjerat Leo ke akar akarnya. Padahal jika mengingat kelakuannya dulu? Dia bagaikan sosok yang mencintai diam di dalam dan melukai di luar?.
" iya gak papa beb,, aku tahu tadi rame banget. Seharusnya tadi kita ke Alf*m*rt aja, pasti kamu gak uyel-uyelan. " jawab Tina pura pura sedih. Padahalkan itu bukan masalah, ia juga ingin melihat pengorbanan Leo untuk dirinya hehe.
" Gak papa beb,, apapun untuk mu. " kata Leo genit. Sejak kapan seorang Leo menjadi genit?.
" Aaaaa makin sayang aku beb.. "
" harus dong. "
Mereka pun memakan es krimnya, hari memang sudah larut. Bisa di katakan senja pun mulai hilang, lampu lampu taman dan pinggir jalan mulai menyala satu persatu, kermelap lampu di malam hari memang sangat indah. Cahaya warna warni itu bagaikan bintang di gelapnya malam. Mereka masih saja bercanda, seakan lupa jika matahari sudah hilang di ufuk barat.
Sekiranya sudah larut Leo membawa Tina pulang ke rumahnya, hari ini dia pasti lelah. Bagaimana tidak? Setelah acara kenaikan kelas,Leo langsung memboyong Tina pergi hingga larut seperti ini. Tapi, hatinya sangat senang, waktu yang di gunakan Tina belajar kenaikan kelas sudah terbayar dengan kebersamaan mereka hari ini. Mereka memang berjanji masalah pendidikan adalah hal penting, makanya saat hari hari menjelang ujian kenaikan kelas, Leo tidak membawa Tina pergi atau bahkan mereka tidak jalan berdua.
Perjalanan pulang mereka di penuhi canda tawa. Semua orang yang melihat pasti tahu, betapa besar cinta mereka masing -masing. Leo mengendarai mobilnya pulang secara perlahan, rasanya tidak rela jika harus berpisah degan Tina. Ia tidak rela jika harus kehilangan cahaya di hidup nya.
Perjalanan yang lambat itu akhirnya menemui tujuan nya. Mobil Leo terpakir elok di halaman besar rumah Tina. Leo membukakan pintu dan menggandeng tangan Tina menuju rumah, ia juga ingin meminta maaf pada ayah dan bunda Tina karena telah membawa putrinya pulang sedikit larut.
" Ayah, bunda.. Tina pulang. " suara Tina yang menggelegar di rumah itu.
" ya, sayang. Tumben pulang agak larut. " tanya sang bunda.
" maaf bun, tadi Tina saya ajak jalan di sekitar telaga, keasikan bergurau jadi pulang sedikit larut. " jawab Leo sedikit merasa bersalah.
" owh, ya sudah. Besok besok kabarin bunda ya. "
" iya bun. "
__ADS_1
" yah,bun saya pamit dulu.. Sudah larut,. "
" ya hati hati nak. " jawab ayah dan bunda.
Ayah dan bunda memang sudah merestui hubungan mereka berdua, jadi tak heran jika Leo memanggil ayah dan bunda seperti Tina. Mereka percaya pada pilihan Tina, apalagi saat melihat perjuangan Tina mendapatkan Leo. Anaknya memang keras kepala tapi hatinya sangat lembut.
****
Di rumah Leo, mereka sekeluarga sedang makan bersama. Mengobrol ,bercanda, dan tertawa dengan gembira. Kematian Rismary seakan memang sudah terlupakan bagi Leon dan Agus, tapi bukan untuk Leo. Hatinya sering sakit ketika mengingat lagi kilasan surat itu, ia tak menyangka itu semua adalah sebuah fakta. Ia berharap mimpi, namun sayang itu bukan mimpi dan itu realita.
" Leo bagaimana hubungan mu dengan Tina? " tanya Agus. Semua orang tahu, bahwa Leo dan Tina memang pacaran. Sedikit tidak menyangka juga, Leo yang dulu acuh pada Tina sekarang bucinnya Tina.
" semua baik baik saja yah. "
" Bagaimana kalau setelah Tina lulus, kamu lamar dia? Hitung- hitung tunangan dulu deh. "
" memang itu rencana ku, yah."
" wah bagus. Ayah setuju. "
" gak Eon, kakak cuman tunangan.. Nikahnya nanti setelah Tina kerja, aku juga tidak ingin mengekang masa muda nya, toh kita juga masih sama sama muda."
" iya kak bener, nikmati masa pacaran dulu. " gurau Leon.
" iya dong, masa pacaran itu menyenangkan menyusahkan.. Kamu kapan punya pacar? Sendiri terus? Gak laku ya? " ledek Leo.
" enak aja, aku laku tauk... Aku cuman gak mau pacaran nanti aja langsung nikah. "
" Wisss keren. "
" iya dong" ucap Leon sambil mengusap rambut jambulnya ke atas.
__ADS_1
" Eon.. Nasi kamu di rambut. " ucap Leo santai.
" hah? " Leon terkejut dan melihat tangannya. Ternyata telapak tanganya tadi ia gunakan untuk makan lalu ia usapkan ke rambut. " OMG,, padahal gue tadi habis nyalon.. "
" Apa!?? " Leo terkejut " lo ke salon? Beneran? Bukan tukang cukur? "
" bukan,, lo gak lihat warna rambut gue? Nihh gaya sama warna rambut terbaru."
" buahahahhaha,, adik gue ternyata hobi nyalon."
" emang ada yang lucu?.. Gak cuman cewek juga kalik yang bisa nyalon, "
" lo itu aneh banget sumpah,, buat apa lo nyalon? "
" gak aneh, yang aneh itu lo. Lo tahu gak Varel bramansta? Dia juga ke salon, gue nyalon buat pdkt sama Melin. "
" yayaya, Melin? Lo suka sama dia? "
" siapa sih yang gak suka sama dia? Primadona kampus bro. "
" gue gak suka,, cantikan Tina. "
" susah ngomong sama bucin nya Tina. "
" Biarin, cepat mendi sana, bau minyak rambut lo. "
" iya iya, "
" sudah selesai? " tanya Agus. Ia hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah kedua putra nya itu. Mereka sepertinya perlu di ingatkan pada umur.
" sudah yah.. Aku pamit ke kamar dulu. "
__ADS_1
" iya, jangan mikir pacaran aja.. Ingat! Masa depan Tina di tangan mu. "
" ashiaap yah. "