
Tina menuruni anak tangga dengan berlari, ia tak ingin ketinggalan belajar memasaknya bersama sang bunda. Ya, tina sudah mempunyai suatu harapan untuk menjadi istri yang baik untuk Leo. Pemikiran yang jauh sekali, tapi dengan pernyataan Leo tadi membuat Tina semakin yakin. Membayangkan dia menikah bersama Leo, mempunyai anak, dan hidup sampai tua bersama. Semoga semua itu menjadi nyata.
" bunda, tunggu dulu." teriak Tina di akhir tangga dan berlari menuju dapur.
" jangan lari lari Tina, bunda baru menyiapkan peralatan nya.. Santai saja ya. "
" hehe iya bunda. Oh ya bun, aku tadi di tembak sama kak Leo. Lihat deh bun, aku di kasih cincin. Bagus banget gak bun?."
" selamat kesayangan bunda.. Cincin nya bagus. "
" makasih bunda,, bunda tahu gak? Kak Leo udah buat rencana loh bun buat melamar aku setelah lulus. "
" wah, leo berarti serius sama kamu tin. "
__ADS_1
" iya yah bun. Aku seneng banget.. Padahal dulu aku kira, aku gak akan pernah bisa mendapatkan kak Leo."
" semua bisa terjadi di dunia ini sayang. "
" iya bunda. "
Acara belajar memasak itu pun di mulai. Banyak hal yang di tanyakan oleh Tina, ini harus apa? Ini namanya apa? Ini gimana?. Semua itu di jawab dengan sabar oleh sang bunda. Dan makan malam sudah siap.
Seusainya makan malam, Tina begegas ke kamar untuk belajar. Kejadian tadi memberinya pelajaran bahwa ia harus belajar terus, karena ulangan mendadak bisa datang kapan saja dan di mana saja. Begitu pula hidup, apapun bisa terjadi. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia tak abadi ini.
Hari mulai larut, Tina segera tidur. Ia berdoa semoga besok bisa bangun pagi dan tidak di hukum oleh si ketos Brian ketek. Eh? Kenapa harus ketek? (monyet) padahal monyet itu aktif? Sedangkan Brian? Kaku, dingin, cuek dan teman teman nya yang lain. Entahlah, panggilan itu serasa serasi jika di gabungkan 'ketek Brian' iya sangat serasi. Dengan ulasan senyum tipis Tina mulai memejamkan matanya. Dan dia tidur dengan pulas.
Di kamar Leo, keluarga Alwanta.
__ADS_1
Sama halnya dengan Tina, Leo juga mulai menutup matanya. Namun, sekelebat bayangan surat itu menghampiri. Iya, dia melupakan surat misteri itu. Mata Leo kembali terbuka lebar. Ia berjalan menuju meja ia menaruh surat itu.
Kertas berwarna putih kecokelatan, di depan ada sebuah tulisan " untukmu Leo fajar alwanta tersayang "
Berarti surat itu memang di petunjukkan untuk diri nya? Dari siapa?. Dengan perlahan Leo nembuka surat itu. Rangkain karta yang tidak terlalu panjang. Dan di akhir kata terdapat sebuah nama yang sama berarti dalam hidup nya sesudah ibu nya. Rismary.
Leo membaca dengan perlahan, mengikuti alur tulisan dari kata per kata surat itu. Sebuah kulasan yang menyayat, sebuah alasan yang akhirnya terbongkar. Raut sedih, kecewa dan marah menjadi sebuah satu rasa. Surat itu bagaikan kisah melodi sedih untuk kehidupannya. Surat itu sebuah pernyataan maaf, sebuah cinta, ketulusan dan ke egoisan. Lalu siapa yang bersalah?.
Ia pun menuruti permintaan Rismary, isakan tangis nya pecah. Rasa anak durhaka datang di benak Leo. Ia tak menyangka semua jadi seperti ini. Di akhir hidup nya ia bahkan tak mau memberi sebuah kecupan sayang di kening nya.
" Mommy.. " kata itu meluncur dari mulut Leo. Ia berharap Rismary mendengar.
Leo menutup kembali surat itu, kilasan memori antara ibu dan tantenya pun bergentayangan di pikirannya. Dan memori itu yang mengantar kan Leo pada alam mimpi, alam yang apapun bisa terwujud sesuai keinginan kita. Alam kehaluan yang hanya mengintari jiwa imajinasi tak ada kenyataan.
__ADS_1