Lake Of Love

Lake Of Love
Lake of love: bab 39


__ADS_3

" Hallo, apakah ini dengan bapak Rewanta dan ibu resti calon mertua bapak Leo? "


" iya dengan saya. " jawab Rewanta sedikit takut. Sementara, Resti sudah menahan tangis gemetar.


" kami dari Rumah Sakit Makmur, mengabarkan bahwa anak bapak atas nama Leo dan seorang wanita mengalami kecelakaan dan kondisinya kritis. "


" apa!?? Baik saya akan segera kesana. "


Dengan tangis yang sudah benar benar pecah, Rewanta memboyong Resti ke Rumah sakit secepatnya.


Sementara di rumah Alwanta,


Di Kamar Leon,


Sadari tadi Leon sangat gelisah, setelah telepon Leo tidak di angkat. Sejak tadi ponsel itu seakan tidak aktif, hatinya berdenyut nyeri ketika mengingat Leo. Ada apa ini??. Dia sudah mondar mandir sejak tadi, sampai ingin subuh tapi ia tidak bisa tidur. Hingga telepon itu berdering. Hp nya jatuh, dunianya runtuh, kakaknya kecelakaan dab kritis.


Dengan cepat Leon segera membangunkan ayahnya dan segera ke rumah sakit.


****


Tina dan Leo sedang duduk di depan telaga buatan di kota. Mereka asik berbincang, tertawa dan serasa dunia milik mereka berdua. Hati mereka sama sama berbunga bunga. Hati yang sedang di lingkup cinta. Cinta yang menghanyutkan samudra kasih.


" beb,, aku harus pergi. "


" pergi kemana sayang?? " tanya Leo heran.


" sudah waktunya aku pergi beb, kamu jangan merepotkan semua orang. Dan kamu harus menghadiri perpisahan akhir. "


" aku tidak mengerti maksud mu,, kamu ingin apa?? "


" aku ingin doa mu. "

__ADS_1


" kamu memang selalu di doa ku. "


" terima kasih, karena doa itu adalah penolong ku. "


" Tina sayang,, maksud mu itu apaaa??"


" aku harus pergi. " tina beranjak dari duduk nya. Ia terus berjalan tanpa melihat ke arah belakang.


" Tina tunggu.. Kamu mau kemana??? Tina jangan tinggalkan aku,,, tunggu. "


" kak Leo, aku mohon jangan ikut aku!!! Kamu harus menjaga bunda dan seluruh keluarga. "


" tapi kamu mau kemana??? Kenapa aku tidak boleh ikut?? "


" aku tidak bisa menerangkan nya. "


" segitukah cinta mu tina?? Kamu ingin meninggalkan semua cinta kita?? Mana rencana kita itu pergi?? "


Dengan secepat kilat, Tina sudah pergi bersama kupu kupu indah itu.


" TINAAAAAAAA." teriak Leo. Ia menangis meraung raung, dunianya gelap, ia tidak kuat.


****


" apaaaa??? Tina anak ku. " teriak bunda. Anak satu satunya sudah menghadap pada sang kuasa sang pencipta.


" yahhh aaannaakk kita yahh. " ujar bunda dengan isak tangis ngilu, ia memukul mukul dada sang suami, berharap ini masih mimpi.


Ia kuatkan hati, dia langkah kan kaki menuju kamar di mana jasad Tina berada. Wajahnya hangus, bibirnya nyaris tak ada, sekujur tubuhnya terbakar api. Bunda tambah menangis histeris, anaknya mati dengan kondisi mengenaskan. Mana senyuman ceria itu?? Mana Tina yang ceria itu?? Tina yang keras kepala pada cinta nya pada Leo.


Bunda memeluk tubuh kaku Tina, ia masih menangis. Sedangkan ayah, ia hanya bisa diam. Putri kesayangannya sudah tiada. Putri yang selalu di pamerkan pada kolegan kolegan bisnis, putri yang selalu menjadi adu debatnya, adu mengerumpinya, adu nonton film azab dan putri kebanggaan nya. Semua itu hilang, sirna di bawa hawa kuat.

__ADS_1


Lemas, kakinya lemas hanya untuk berdiri saja. Air mata yang sengaja dia tahan pun mengalir dengan deras. Tina putri kesayangan nya sudah pergi untuk selamanya.


Agus dan Leon pun turut menangis, baru kemarin dia menasihati Leo untuk semangat belajar dan segera menikah dengan Tina, menasihati agar putra harus sukses agar Tina bahagia. Semua itu ternyata hanya imajinasi. Agus, Leon, Rewanta, Resti semua terpukul atas kematian Tina.


Mereka juga harus di bendung kesedihan, Leo masih di tangani dokter. Ia banyak kehilangan darah, bahkan 4 kantong darah masih kurang. Sungguh, darahnya keluar sangat banyak. Mungkin, karena kecelakaan itu di temukan lama, dan waktu mengambil jenazah lama karena mereka berada di bawah jurang dalam.


Semua masih bedoa agar Leo segera sadar dan menceritakan apa yang terjadi. Semua masih belum percaya akan analisa pihak kepolisian. Kesedihan masih membendung mereka. Hingga dokter keluar dari ruang penangganan Leo.


" bagaimana dok?? " ucap Leon gemetar. Semua hanya diam, mereka masih kalut akan berita kematian Tina.


" semua berjalan lancar, dia sudah melewati masa ktitis nya. Tapi, dia masih harus di beri darah, karena darah yang keluar dari tubuhnya sangat banyak. "


" terima kasih dok. "


Setidaknya masih ada nafas lega di benak Agus dan Leon. Tapi, bukan di benak Rewanta dan Resti. Mereka hanya mempunyai satu putri dan kini, putrinya telah pergi.


Pukul 6.00 tina sudah di bawa pulang untuk proses pemakaman. Bunda masih menangis, tanggisan seorang ibu yang di tinggal pergi oleh putrinya. Semua pasti tahu tangisan itu, tangisan yang menyayat hati. Rasanya ngilu jika mendengar tangisan itu.


Semua teman Tina sudah tahu kabar kematian Tina. Apalagi Maya, dirinya sampai pingsan. Sahabatnya sejak dulu harus pergi selama lamanya. Kesedihan itu sangat jelas di wajah seluruh teman, dan guru. Tina adalah gadis periang, pintar dan kadang suka membantah peraturan sekolah. Tina anak yang ceria.


Brian pun juga merasa sangat sedih, di lumbuk hatinya dia mempunyai perasaan lebih pada Tina. Ia menangis dalam diam, dia mengingat kembali bagaimana Tina mengatainya dengan sebutan Brian ketek. Nama itu seakan masih membekas pada diri Brian, suara itu terliang liang di telinga Brian. Apalagi saat melihat jenazah Tina, hatinya ikut terluka.


Leo sudah sadar, di saat sadar ia sangat linglung. bibirnya terus mencari Tina, Agus dan Leon tidak sanggup jika harus memberitahukan semua pada Leo.


" Tina Tina Tina dimana kekasih ku?? " ucap Leo lirih.


" kak, kamu tenang dulu.. "


" dimana kekasihku???? Aku harus menyemat kan cincin ini kembali pada nya. " jawab Leo tegas. Di genggaman tangan nya masih ada cincin Tina, yang di berikan Tina sebelum mobil itu meledak. Ada rasa khawatir pada diri Leo. Dia berharap, semua itu mimpi.


" kak, Tina-tina..." rasanya Leon tak sanggup berucap.

__ADS_1


__ADS_2