
Perjalanan kisah asmara mereka baik baik saja. Semua terlihat berjalan mulus, rasa percaya satu sama lain adalah kuncinya. Rasa cemburu? Tentu saja pernah , tapi semua itu di tangani dengan baik. Leo dan Tina adalah pasangan yang serasi. Hubungan mereka bahkan tak ada yang mengganggu, tak seperti novel novel yang mereka baca atau drama korea kesukaan Tina.
Waktu berjalan dengan cepat, hingga tak sadar Tina sudah memasuki kelas 12. Leo sudah memasuki perkuliahan semester 3, semua berjalan dengan indah. Harapan untuk hidup dengan Tina semakin besar, ia mulai membuat imajinasi hidup bahagia dengan Tina. Orangtua mereka juga sudah merestui, hubungan yang tidak banyak drama.
Rasa cinta yang tiap hari kian besar, seakan hati mereka telah terukir indah nama masing masing. Syukur tak henti hentinya Leo ucapkan kepada Tuhan,berkat Tina bibirnya kini berfungsi baik. Dulu ia yang jarang senyum kini selalu tersenyum. Sifatnya berubah menjadi ramah, tau sopan santun.
Di hari kenaikan kelas ini, Leo membawa Tina ke danau buatan di taman kota itu. Bisa di kira bukan, danau itu adalah sebuah saksi bisu kisah mereka. Banyak waktu di habiskan di danau itu. Leo memang suka membawa Tina ke sana, karena tempat nya yang sejuk dan nama mereka yang terukir indah di batang pohon besar itu.
Mereka asik membuat suatu angan angan, suatu harapan di masa depan.
" kak Leo, "
" Iya Tina. "
" bolehkan aku memanggil mu bebeb?. "
" panggilan unik apa itu? "
" kamu tidak tahu? Itu panggilan yang sering orang lain ucapan kepada pasangannya. "
" tidak, lebih baik kita buat panggilan spesial saja.. Jangan ikut ikut orang lain. "
" kenapa? Ikut ikut juga gak papa tuh. " jawab Tina dengan mengembungkan pipi nya. Saat melihat ekspresi Tina yang seperti itu membuat Leo gemas sendiri, kekasihnya ini memang sangat mengemaskan.
" kan biar beda gitu sayang.. "
" emm bagaimana kalau TinLo? "
__ADS_1
" TinLo? Kenapa tidak gaul? "
" ya sudah ganti, kalau yank? "
" terlalu alay. "
Bukankah panggilannya bebeb juga alay? Batin Leo.
" kamu punya ide? Aku bingung juga. "
" bagaimana kalau ilo?. "
" ilo? Apa artinya? "
" gak tahu, kayak nya bagus. "
" kamu jangan rewel deh honey. "
" honey? Madu? Manis dong. "
" honey itu kayaknya terlalu tinggi deh buat kita. "
" iya juga yah.. Itu biasanya digunakan sama sepasang suami istri. "
" bagaimana kalau sweety? "
" enggak. Terlalu kuno. "
__ADS_1
" lalu apa? "
" bebeb. "
" huhhfff baiklah, sepakat bebeb? "
" iya,"
" es krim? "
" wah kamu perhatian ya beb. "
" iya dong, mau rasa apa? "
" Vanilla. "
" oke, tunggu di sini dulu ya.. "
" siap beb. "
Di hari yang menjelang sore itu, mereka menikmati es krim sambil melihat pantulan sinar matahari yang sangat nampak di air tenang danau itu. Kalau di bilang danau sepertinya terlalu dalam, seharusnya telaga yang lebih cocok. Ya, sekarang bukan danau tapi telaga. Telaga cinta antara Leo dan Tina.
Tina melihat lihat dengan jeli semua hal yang pernah ia lakukan dengan Leo. Ukiran nama itu masih ada, malah terlihat jelas sekarang, lalu kertas yang di gulung dalam botol? Boleh tidak ya di lihat?. Jangan, karena belum saatnya. Tina kembali melihat dengan teliti lagi sekitar telaga itu. Perasaan nya tidak enak ada rasa sesak. Tapi apa? Oh ya Leo belum kembali.
Ia segera bangkit dan menyusul Leo. Hebusan nafas lega, ternyata pacar nya sedang mengantre untuk membelikan nya es krim. Leo adalah sosok penyabar bagi Tina, sosok yang kuat dan tangguh di hadapannya. Ia pria istimewa di hatinya selain ayahnya.
Tina duduk di dekat kedai itu, melihat bagaimana perjuangan Leo untuk membelikan dirinya sebuah es krim. Pasti rasa es kimnya nanti rasa cinta.
__ADS_1