
Legend of Zhishu.
...πππ...
Di sebuah rumah makan ... dua orang paruh baya dan satu orang gadis cantik tengah duduk terdiam, memikirkan anak gadisnya yang nakal belum kembali.
''Sudah lebih dari dua puluh hari ... anakku pergi dan belum kembali. Bagaimana nasibnya, apa dia makan dengan baik? Atau tidur dengan nyenyak.'' Lirih sang Ibu saat ia menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
''Berdoa pada Dewa agar Zhishu anak kita di beri kesehatan dan anugerahnya.''
Ibu Xio melihat gulungan kertas di mana ada lukisan putrinya ... sejak Zhishu pergi, Ia pun pergi untuk mencari anaknya ke kota Kekaisaran namun sampai saat ini ia belum menemukan putrinya.
KimLee yang ikut mencari Zhishu merasa sedih melihat Ibu Xio yang terus memanggil anaknya. ''Bibi ... Zhishu itu adalah wanita kuat, dia pasti baik-baik saja di suatu tempat.''
''Yah, semoga saja dia bisa menjaga dirinya. Tapi yang aku takutkan dia akan mencari masalah, aku sangat takut jika dia di bawa oleh orang-orang istana yang serakah.''
''Apa dia menemukan keluarganya?'' cicit paman Yu Quanci.
DEG.
Jantung Ibu Xio berdetak, ia tidak bisa menerima jika keluarga asli anaknya datang dan mengambil Zhishu darinya. Ia sangat menyayangi Zhishu walau anaknya itu nakal, suka membuat ulah, suka bertengkar dengan seorang pria. Tapi tetap kasih sayangnya jauh lebih besar dari rasa amarahnya.
''Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Zhishu adalah putriku, Putri kesayangaku.''
''Dari pada menduga duga hal yang belum pasti, lebih baik kita mencari lagi Paman, Bibi.'' Ucap KimLee yang di angguki oleh Paman Yu Quanci.
Ketiga orang itu pun pegi dari rumah makan untuk mencari Zhishu lagi. Ibu Xio tidak akan menyerah sampai ia bisa bertemu dengan putri kecilnya.
''Permisi, apa anda pernah melihat gadis ini?''
''Tidak.''
''Permisi Tuan, apa anda pernah melihat gadis ini.''
''Pergilah!''
''Permisi ...''
__ADS_1
Ketiganya terus menanyakan pada setiap orang tanpa ada rasa lelah sambil memperlihatkan lukisan Zhishu.
Sedangkan yang di cari sudah berada di wilayah rahasia Klen Bulan dan di sambut suka cita karna berhasil membawa Kaisar Feng dan Permaisuri FuWei dengan selamat.
''Bagaimana kabar anda YangMulia ... hamba senang jika melihat anda kembali.''
''Tentu kabarku baik-baik saja, Ketua Zu.''
''Kau pasti lelah YangMulia, duduklah ... hamba akan menyiapkan tempat untuk Yangmulia.''
Kaisar Feng tersenyum melihat kursi yang di untuk untuknya lalu menggelengkan kepala. ''Tidak ketua Zu, itu bukan tempatku. Aku bisa duduk di bawah.''
''Tidak YangMulia, itu suatu kelancangan bagi hamba.''
''Ketua, kapan kita akan memulai makan? Cacingku sudah berdemo di dalam perutku.'' Celetuk Zhishu, yang langsung di sikut oleh Qiu Li.
'Jangan membuat malu klen kita di hadapan YangMulia.'' Bisik Qiu Li.
Zhishu memonyongkan bibirnya. 'Tapi aku sudah lapar.' cicit Zhishu.
'Perutmu itu memang perut karet! semalam saja kau sudah habis ubi bakar lebih dari sepuluh biji, dan kau masih berkata lapar.'
'Kau itu mahluk dari mana!'
'Diam! Apa kalian tidak bisa diam.' Bentak Hongli, membuat Zhishu dan Qiu Li langsung bungkam.
''Baiklah, karna anak-anak sudah lapar. Mari kita mulai hidangannya.'' Ketua Zu memerintahkan pada pelayan agar menyajikan makanan untuk semua orang yang ada di ruangan ini. Membuat Zhishu senang karna hidangan sudah ada di depan mata.
β’
...β’...
^^^β’^^^
Sore hari...
Zhishu pergi ke air terjun sendirian. Ia berniat untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket dan bau asam yang tidak tertolong dari arah ketiaknya
__ADS_1
Namun ia menghentikan langkahnya saat kedua matanya melihat murid-murid pria yang sedang mandi. Zhishu yang jahil langsung tersenyum sambil memperlihatkan kedua tanduk goib di atas kepalanya, ia langsung bersembunyi di balik semak semak untuk mengintip para pria yang sedang mandi.
'Ini yang di namakan anugerah dari dewa. Mana mungkin aku akan melewatkan kesempatan ini.' cicit Zhishu terkekeh nakal.
Zhishu mengintip ke arah depan dengan kedua mata berbinar melihat pria pria tampan yang sedang mandi, di mana otot-otot mereka terlihat menggoda dengan perut mereka yang sispek berbentuk roti enam.
''Akan lebih indah jika mereka membuka celana mereka masing-masing. Oh ... astaga ya Dewa, apa yang sedang aku pikirkan. ahhh ... aku memang harus cepat-cepat menikah agar otakku terleasasikan.''
''Empptthh ...'' Mulut Zhishu di bekap oleh seseorang dari belakang dan menyeretnya sedikit jauh dari air terjun.
''Haiisshh!''
''Kau! Sedang apa di balik semak semak!'' sentak Hongli.
''Aku?''
''Iya, Kau! Siapa lagi jika bukan dirimu.''
''Umm ...'' Zhishu nampak berpikir, membuat Hongli ingin menelan Zhishu bulat bulat.
''A-aku sedang melihat pemandangan.''
''Apa katamu! Sudah jelas-jelas kau sedang mengintip para pria sedang mandi.'' Sentak Hongli, namun dengan nada menekan. Takut jika ada yang mendengar.
''Kata siapa?'' Zhishu masih berbelit.
''Ziii ... shuuuu!''
''Apa itu?'' Tunuk Zhishu ke arah belakang Hongli, hingga Hongli menoleh.
''Ahhh ... kaburrrrr.''
Zhishu lari kocar kacir menyelamatkan diri dari amukan Hongli yang terlihat akan menelannya hidup hidup.
β’
...πππ...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE ...