
Legend of Zhishu.
...πππ...
''Suamiku ... ada apa dengan raut wajahmu?'' Tanya Permaisuri FuWei.
"Putrimu sungguh menjengkelkan. Ya Dewa,'' keluh Kaisar Feng sambil menggelengkan kepalanya.
Permaisuri FuWei hanya tersenyum, lalu menghampiri suaminya dan berkata, ''Biarkan dia menjalani apa yang dia inginkan, suamiku. Jangan pernah merenggut kebebasannya. Biarkan dia menjalani apa yang dia sukai ... kita sebagai orangtua hanya bisa melihatnya dari kejauhan, jika dia sudah keluar dari jalur batasannya. Baru kita turun tangan.''
Kaisar Feng mengangguk tanda setuju dengan apa yang di bicarakan istrinya. Lalu Kaisar Feng memandang lama sang istri dan mengecup sekilas bibirnya.
Cup.
''Sudah lama aku tidak merasakannya.''
Permaisuri FuWei tersenyum malu dan memukul dada bidang suaminya dengan gemas.
''Dasar tidak tau umur! Kita itu sudah tua, tidak pantas untuk cinta cintaan.''
''Siapa bilang kita sudah tua, heiii ... kita masih pantas memiliki setidaknya empat atau lima anak lagi.''
''Ya Dewa! Apa kau sudah gila''
Kaisar Feng tersenyum dan mendorong Permaisuri FuWei ke atas peraduan. ''Yaaa ... aku memang sudah gila! Mari, kita gila bersama malam ini.''
Gelak tawa terdengar dari kediaman Kaisar, keduanya melakukan ritual suci yang lupakan sejak pertemuan mereka kembali ... hingga akhirnya mereka melakukannya lagi setelah sekian lama berpisah.
Keduanya tidak pernah bosan untuk melakukan penyatuan lagi dan lagi, walau bukan pertama kali mereka melakukannya ... tapi penyatuan ini selalu membuat keduanya berdebar tak karuan.
Suara erotis akan errangan dan dessahan keluar dari mulut Permaisuri FuWei saat milik sang suami terus menghentak berirama dengan nada yang syahdu akan decapan kulit yang beradu.
Kaisar Feng terus mendorong pinggulnya diikuti dengan Permaisuri FuWei yang bergerak seirama ... setiap peluh yang keluar dari keduanya menjadi saksi akan cinta yang mereka ungkapkan lewat bahasa tubuh.
Hingga kedua insan itu mengerang secara bersamaan saat berhasil mendapatkan pelepasannya. Deru nafas keduanya terengah-engah dan saling berpelukan. Mereka berdua melupakan jika di istana memiliki banyak telinga yang mendengar setiap dessahan mereka, tapi semua orang takut dan berpura-pura tuli saat mendengar suara erotis dari kediaman Junjungan mereka.
β’
...β’...
^^^β’^^^
Malam hari... di Istana yang damai. Seseorang berjalan dengan tergesa-gesa namun terlihat mencurigakan, karna terlihat dari raut wajahnya sangat tegang namun dia mencoba untuk tenang.
Orang itu tidak lain adalah Tuan Xin. anggota mentri pertahanan di Kekaisaran yang masih di beri kesempatan ke dua dari Kaisar Feng, karna selama ini Tuan Xin tidak mencurigakan.
"Selamat malam Tuan Xin." Sapa dua penjaga, saat melihat Tuan Xin di depannya.
"Apa YangMulia Kaisar ada di dalam?" tanyanya dengan nada netral.
__ADS_1
Dua penjaga itu saling pandang lalu menggeleng, "YangMulia Kaisar sudah berada di kediamannya, Tuan."
"Ahh ... baiklah."
"Apakah ada sesuatu hal yang penting, Tuan?"
"Ahh ... begini." Tuan Xin bergelagat ingin membisikkan sesuatu, namun tanpa di sangka dia mengeluarkan belati di punggungnya dan.
JLEEB! JELEB!
Tuan Xin langsung menusuk penjaga itu dan melemparkan tubuh kedua penjaga itu ke arah lain dan berjalan kembali dan masuk ke ruang baca Kaisar.
Tuan Xin segera mencari sesuatu yang sudah lama ia incar dan menurutnya sangat penting, dan mencoba untuk menyalin apa yang ia perlukan. Setelah selesai, dia lansung pergi dengan cepat namun salah satu penjaga melihatnya keluar dari ruang baca Kaisar.
''Bukankah itu Tuan Xin?'' Gumamnya lalu berjalan untuk memeriksa, namun ia terkejut melihat tubuh temannya yang tergeletak tidak bernyawa.
''Pengkhianat!" Teriaknya menggema, yang mana membuat semua penjaga datang.
Semua orang berkumpul, lalu satu penjaga berlari untuk melaporkan apa yang sedang terjadi.
"YangMulia Kaisar .... YangMulia Kaisar"
Kaisar Feng dan Permaisuri yang sudah beristirahat langsung langsung keluar untuk menemui para penjaga.
"Apa yang terjadi."
"Yangmulia, Tuan Xin sudah membunuh dua penjaga dan masuk ke dalam ruang baca. Dia menyalin dan mencuri beberapa gulungan militer kita."
Rahang Kaisar Feng mengeras dan mengepal.
''Baik, YangMulia.''
''Ayahanda, ada apa?'' Tanya Zhishu saat melihat kericuhan di malam hari.
''Ikut dengan Ayahanda.''
β’
...β’...
^^^β’^^^
Zhishu dan semua anggota istana berkumpul di Aula, mereka membicarakan apa yang sudah terjadi dan mencari keberadaan Tuan Xin yang membawa beberapa dokumen yang penting dari istana.
Salah satu penjaga kepercayaan Kaisar lantas mengabarkan jika Tuan Xin sudah kabur ke Kerajaan tetangga, dimana Kerajaan itu adalah Kerajaan musuh yang selalu ingin menumbangkan Kerajaan Yen Utara.
Kaisar Feng mengeraskan rahangnya, dan menunjuk Hongli secara langsung untuk menangkap Tuan Xin si Pengkhianat.
''Jenderal! Aku perintahkan kau untuk menangkapnya. Bawa orang kepercayaan mu yang akan membantu dirimu.''
Hongli berdiri dan membungkukkan kepalanya, ''Baik YangMulia.''
__ADS_1
''Ayahanda, aku akan ikut bersamanya dan menangkap Pengkhianat itu.'' Ucap Zhishu dengan tegas.
Hongli mengerutkan keningnya sambil menahan nafas.
Kaisar Feng menggelengkan kepalanya. ''Tidak! Kau tetap berada di sini, akan ada banyak bahaya di luar sana yang akan mengancam nyawamu.''
Hongli yang menahan nafas membuangnya secara perlahan saat mendengar ketidak setujuan Kaisar. Tidak bisa ia bayangkan jika pergi dengan Zhishu yang pecicilan.
''Tidak Ayahanda, aku tetap akan ikut dan menangkap sendiri Pengkhianat itu.''
Hongli yang tau jika dirinya akan di repotkan oleh Zhishu, ia langsung protes, Namun Zhishu kali ini menjawab dengan tegas dan tidak akan merepotkan Hongli, bahkan perjalanan kali ini dia tidak akan melibatkan perasaannya ... Yang mana perkataan Zhishu membuat Kaisar Feng mengizinkan Zhishu ikut bersama Hongli, dengan satu syarat. Zhishu tidak boleh melibatkan perasaannya.
Setelah perbincangan di Aula selesai dan emua orang pergi, termasuk Kaisar. Ada Hongli dan Zhishu yang belum beranjak dari tempat duduknya.
''Mengapa kau selalu ingin merepotkan diriku! Tidakkah kau pikir itu sangat menjengkelkan. Sudah aku bilang jika aku tidak menyukaimu, apa lagi berniat unuk menikahi dirimu.''
Zhishu menghela nafasnya dan membuang secara perlahan, ia berdiri dari duduknya dan menatap Hongli.
''Bukankah sudah aku bilang jika perjalanan kali ini aku tidak akan melibatkan perasaanku? Tenang saja, aku tidak akan merepotkan dirimu.''
''Tapi tetap saja kau ini seorang perempuan.''
''Hei. Jaga perkataanmu! Walau aku perempuan, tapi aku ini adalah calon penerus tahta Kekaisaran!'' Sentak Zhishu dengan tegas, yang mana membuat Hongli sedikit terkejut.
''Apa dia memiliki dua kepribadian? Mengapa kali ini tatapannya begitu dingin?" Gumam Hongli melihat kepergian Zhishu.
β’
Kediaman Zhishu.
Zhishu yang sudah berada di kediamannya lantas mengambil baju, dimana dirinya akan menyamar sebagai seorang pria untuk perjalanan kali ini. Namun belum juga ia mengganti baju, kedua ibunya yang tidak lain adalah Permaisuri FuWei dan Ibu Xio datang.
''Apa kau yakin akan ikut, Nak?'' Tanya Ibu Xio sangat khawatir, ia tidak mau berpisah untuk kedua kalinya.
''Percayalah pada anak mu ini, Ibu. Semua akan baik-baik saja.''
Permaisuri FuWei membelai rambut Zhishu dengan lembut. ''Kami berdua akan menanti kepulangan mu, Nak.''
Zhishu tersenyum dan mengangguk.
Permaisuri FuWei pantas mengeluarkan sesuatu dari dalam hanfunya dan memberikan itu pada Zhishu.
''Ibunda.''
''Selama bertahun-tahun belati ini yang sudah menemaniku, kini Ibunda serahkan padamu dan dia akan selalu menemanimu.''
''Terima kasih Ibunda, aku akan selalu menjaganya.''
Mereka bertiga berpelukan lalu Zhishu berpamitan untuk bersiap, karna sebentar lagi ia dan Hongli akan pergi.
β’
__ADS_1
...πππ...
...LIKE.KOMEN.VOTE...