Legend Of Zhishu

Legend Of Zhishu
Bab 22 : Zhishu ternyata ...


__ADS_3

Legend of Zhishu.


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


Hoss ... Hosss ...


''Zhishu.''


''Astaga!'' Zhishu terkejut saat FuWei menepuk bahu sambil memanggil namanya.


''YangMulia, Permaisuri.''


''Kau kenapa, Nak?''


''Ahh ... tidak YangMulia. Aku baru saja di kejar badak berkepala kera.''


FuWei mengerutkan dahinya. ''Memangnya ada?''


''He he ... tidak ada, aku hanya bercanda YangMulia. Um, YangMulia mau kemana?''


''Ingin membersihkan diri di sungai, apa kau mau ikut?''


''Bolehkah?''


''Tentu saja, aku senang jika kau mau menemaniku.''


Keduanya pun berjalan ke sungai, membuat Hongli yang sedang mengejar Zhishu mengurungkan niatnya.


'Awas kau gadis brandal.'


''Mbleee ...'' Zhishu malah meledek Hongli, seakan tau apa yang tengah Hongli umpatkan padanya.


Sesampainya di Sungai ... Ibu dan anak yang tidak saling mengenal itu mandi dengan tenang. Bercerita banyak hal dan pengalaman masing-masing.


Zhishu membuka Hanfunya dan memperlihatkan bahu cantiknya, membuat FuWei tersenyum melihatnya.


''Kau memiliki bahu yang sangat indah, Zhishu.''


''Benarkah YangMulia? Umm ... aku juga memiliki tanda lahir yang unik, dan seorang pun tidak ada yang punya.''


''Tanda lahir?''


Zhishu mengangguk dan memperlihatkan punggungnya, di mana ada tanda lahir berbentuk bunga. Dan itu membuat FuWei melototkan kedua matanya tidak percaya.


''It-itu ...''


Zhishu segera membenarkan hanfunya dan kembali duduk berendam, namun FuWei terdiam dengan jantung berdetak tidak karuan. FuWei berdiri dari duduknya dan langsung naik ke permukaan dan berlari ... membuat Zhishu mengerutkan dahinya bingung.

__ADS_1


''YangMulia ... YangMulia Permaisuri, anda kenapa?'' Teriak Zhishu heran.


''Eh ... kenapa larinya kencang sekali, seperti melihat hantu saja.'' Zhishu menggidikkan bahunya lalu kembali asik membersihkan diri.


Sedangkan FuWei yang tengah berlari dengan air mata menetes di pipinya, ia ingin menemui suaminya sesegera mungkin.


''Hosshh ... hosshh ... Dimana Kaisar Feng?''


Kedua pemuda langsung menunjuk ke arah ruang baca, lalu FuWei pun berlari kembali dan membuka pintu dengan kencang.


Braakk!


Pintu terbuka dengan lebar, membuat Kaisar Feng dan ketua Zu langsung menoleh ke arah pintu.


''Istriku, ada apa?''


Bruugh!


Kaki FuWei lemas seketika, membuat Kaisar Feng sangat khawatir dan langsung menghamprinya. ''Heii ... sayang, kenapa?''


''Itu ... ak-aku Zhishu!''


''Ada apa dengan anak itu?''


FuWei menatap Kaisar Feng dengan dalam, lalu menangis di pelukannya. Meluapkan rasa sesak, sakit, kerinduan, dan kecemasannya selama ini.


''Apa yang kau temukan?''


''Dia ... aku menemukannya. Anak kita.''


DEG.


''Putri kita?''


FuWei mengangguk. ''Yaaa ...''


FuWei pun menceritakan dimana Putrinya lahir ke dunia, ia sempat melihat jika anaknya memiliki tanda lahir berbentuk bunga di punggungnya. Dan baru saja ia melihat tanda lahir yang sama di punggung Zhishu. Pantas saja FuWei mencari selama delapan belas tahun tidak pernah bertemu, karna Zhishu di besarkan di bukit Guantai. Bukit yang tidak bisa sembarangan orang bisa masuk.


Kaisar Feng pun terdiam ... saat bertemu dengan Zhishu untuk pertama kali. Ia sempat menaruh curiga karna gadis kecil itu sangat mirip dengan istrinya, entah dari nada bicara, kelakuan dan sifat. Apa lagi garis wajah mereka begitu sama.


''Apa yang harus kita lakukan? apa kita harus berbicara pada Zhishu langsung?'' tanya FuWei penuh harap.


''Tidak.''


''Mengapa?''


''Kita belum tau situasinya, apakah Zhishu benar-benar di asuh oleh kedua orang yang terakhir kali kau menyerahkan ketika dia masih bayi atau tidak. Kita juga belum tau, apakah kedua orangtua yang nengasuhnya memberitahu Zhishu kalau Zhishu bukan anak mereka. Jika kita mengatakannya sekarang, gadis kecil itu tentu tidak akan percaya.''

__ADS_1


FuWei menghapus airmatanya.


''Jadi kita harus menyembunyikan nya?''


Kaisar Feng mengangguk.


β€’


...β€’...


^^^β€’^^^


Istana.


Kaisar SunTao yang duduk di singgahsana nya tengah menunggu kabar dari seseorang. Di sebelahnya tentu ada Permaisuri SuLien dan ada putra Mahkota.


Tidak lama beberapa orang datang dan memberi hormat.


''Lapor YangMulia.''


''Bagaimana?'' Tanya Kaisar SunTao, yang sudah tidak sabar.


''Setelah hamba selidiki, ada tiga orang penyusup dari klen bulan yang menayamar dan menyelamatkan Tawanan, YangMulia.''


Kaisar SunTao mengepalkan tanganya. ''Klen bulan! Mereka benar-benar belum menyerah sedari dulu.'' Geramnya.


''Apa yang harus kita lakukan YangMulia.''


''Ayahanda. Bagaimana jika kita serang markas klen bulan dan memberikan mereka sedikit pelajaran,'' kata Pangeran Mahkota dengan menggebu-gebu.


Kaisar SunTao diam, namun Permaisuri SuLien berkata. ''Yang di katakan oleh putramu itu benar, YangMulia ... jika kita diam saja, aku sangat yakin jika Feng JianYu tidak akan diam dan berencana merebut kekuasaannya kembali.''


Kaisar SunTao memincingkan matanya melihat ke arah depan. ''Tidak akan aku biarkan itu terjadi!''


Permaisuri SuLien tersenyum lalu memegang tangan Kaisar SunTao. ''Titahkan prajurit istana untuk menyerang markas klen bulan. Akhiri semuanya sebelum terlambat, jika bisa ... bunuh saja Feng JianYu agar tidak menjadi halangan untuk kita.'' hasut Permaisuri SuLien.


''Benar Ayahanda. Biarkan putramu ini yang memimpin serangan. Aku berjanji akan membawa kepala Feng JianYu dengan tanganku ini.''


Hawa panas di Aula istana begitu terasan saat mereka membicarakan penyerangan terhadap klen bulan, dan merencakan untuk menghabisi Kaisar Feng JianYu.


Tanpa menyadari jika ada seseorang di balik dinding mendengar semua percakapan mereka, lalu pergi dari sana secara diam-diam.


β€’


...πŸƒπŸƒπŸƒ...


...LIKE.KOMEN.VOTE ...

__ADS_1


__ADS_2