
"Stttt...." Yuan meletakan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan Yihua untuk tidak bersuara.
Yuan menari lengan gadis itu untuk membawanya merapatkan diri pada batang pohon besar.
"Ada apa?" tanya Yihua dengan berbisik.
"Ada kawanan serigala liar yang melintas." jawab Yuan tak kalah pelan.
Yihua hanya mengangguk mendengar jawaban itu.
Serigala liar memang cukup kuat tetapi membunuh mereka pun tidak akan mendapatkan apa-apa karena mereka bukan hewan spiritual. Serigala itu berjumlah banyak dan jika semuanya dibunuh maka ditakutkan akan menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem hutan.
Hal yang paling tepat tentu adalah menghindar saja, agar mereka tidak menyerang. Lagi pula ini memang tempat mereka jadi wajar jika ada serigala liar.
Yuan mengintip sedikit, ternyata kawanan serigala itu telah berlalu cukup jauh.
"Sudah pergi."
Mereka kembali melakukan perjalanan, hari memang sudah sore dan mereka belum juga mencapai titip yang harusnya mereka capai.
"Sepertinya sedari tadi kita berjalan, tidak ada hal yang aneh mengenai gunung Tianji ini." celetuk Yihua.
"Kau benar, sepertinya memang tidak ada yang aneh."
"Tapi Yuan sedari tadi kita tidak bertemu hewan spiritual, bukankah gunung Tianji ini tempat tinggal dari banyak hewan spiritual."
Senyuman tipis tersemat di bibir Yuan, "Kau ingin melihat merak emas? Aku tahu dimana sarang mereka."
"Apakah merak emas itu hewan spiritual nomor 19 itu?"
Yuan mengangguk, "Benar sekali, mereka sangat cantik."
"Benarkah? Kalau begitu aku ingin melihatnya."
__ADS_1
***
"Yang aku inginkan adalah tahta, mohon pertolongan dari dewa iblis untuk membantuku."
Ucap seseorang dengan jubah yang menutupi kepalanya itu, karena gelapnya ruangan, orang yang tengah mengobrol dengan dewa iblis itu bahkan sama sekali tidak dikenali.
"Itu sangatlah mudah, terlebih kau seorang pangeran."
"Meski begitu ayahku sepertinya tidak memiliki niat untuk memberikan tahta itu padaku, dia terus saja menunda-nunda pengangkatan putra mahkota ... jadi kusimpulkan jika ayah tidak berniat memberikan tathanya padaku."
"Han Pu ambilkan pil pelahap hati."
Seorang pelayan setia dari dewa iblis itu beranjak, pergi ke ruang penyimpanan, lalu kembali lagi dengan sebuah kotak kecil di tangannya.
"Bawa pulang ini, dipastikan beberapa hari lagi kaisar akan memberikan kau gelar putra mahkota."
"Terima kasih dewa iblis."
Lelaki itu menerima kotak dengan senyuman yang tercetak di bibirnya.
Apapun perjanjian dengan dewa iblis pasti memiliki sebuah timbal balik, dewa iblis tidak akan membantu seseorang dengan cuma-cuma. Saat ini dia bersedia membantu karena yang meminta adalah pangeran, yang nantinya pasti akan membantunya untuk menahlukan dunia.
"Tentu saja, semenjak kemarin aku kesini aku sudah memutuskan untuk berkerja sama dengan dewa iblis yang agung. Tapi aku tidak tahu bayaran seperti apa yang perlu aku bayar untuk saat ini."
"Saat sudah naik tahta kau memimpin bersamaku, aku akan membantumu menjadi seorang kaisar paling hebat sepanjang masa."
"Baiklah, tentu saja dewa iblis yang agung, kita akan bersama-sama menahlukan dunia."
Dewa iblis tersenyum miring, "kau tahu ambisi para dewa iblis untuk menahlukan dunia?"
"Tentu saja, saat itu semua manusia dan semua benua yang ada akan berada di bawah pimpinan dewa iblis. Yang memberontak akan mati, saat itu pasti akan sangat luar biasa."
"Ha... Ha... Ha... Benar sekali."
__ADS_1
Tawa menggelegar itu terdegar, tetapi jika mendengarnya lama-lama tentu bulu kuduk kita akan berdiri.
"Aku akan setia membantu apapun keinginan dewa iblis."
"Ya kuharap kau tidak mengatakan ini pada siapapun bahkan pada orang yang sangat kau percaya. Tetap rahasiakan keberadaanku dan nanti kita berdua akan sama-sama duduk di singgahsana yang menguasai seluruh dunia!"
"Baik dewa iblis."
"Sekarang kau kembalilah, datanglah lagi setelah kau naik tahta."
"Terima kasih dewa iblis, aku pamit."
Setelah lelaki itu benar-benar hilang dari singgahsana dewa iblis, pelayan dewa iblis melangkahkan kakinya mendekat.
"Tuan apakah benar akan menguasai dunia bersama pangeran yang penuh ambisi tadi?" tanya pelayan itu.
Pasalnya ia tahu sendiri jika dewa iblis tidak suka berbagi dengan manusia, apalagi berbagi kekuasaan.
"Ha... Ha... Ha... Han Pu mengapa kau bodoh sekali! Tentu pangeran itu hanyalah sebuah bidak, aku tidak ingin membagi kekuasan atas dunia pada manusia licik sepertinya."
"Ah Tuanku memang bijaksana. Pangeran ke-lima itu memanglah sangat licik, bahkan ia membunuh saudaranya sendiri agar tidak mengacam posisinya."
"Dia pangeran ke-lima?" tanyanya, dewa iblis ini tidak tahu dia pangeran keberapa.
"Benar Tuan."
━━━━━ The Legend of Sword Lord ━━━━━
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
__ADS_1
With love,
Khalisa🌹