
Sebuah kamar luas itu merupakan peraduan milik sang kaisar, ada sepuluh orang pelayan istana dan juga seorang tabib yang dengan setia menjaga kaisar, memastikan junjungan mereka baik-baik saja. Sebuah kelambu tipis memisahkan mereka dari kaisar yang telah terbaring lemah tak berdaya itu.
Pintu kamar itu terbuka menampilkan sosok Bai An yang masuk tanpa permisi, sebenarnya di luar tadi dia dicegat oleh pengawal agar dirinya tidak masuk ke dalam tetapi bukan Bai An namanya jika tidak berhasil masuk.
"Hormat kepada pangeran ke sembilan belas." ucapan tabib itu diikuti oleh para pelayan yang sekarang bersimpuh untuk memberi hormat.
"Kalian semua keluarlah!"
"Tapi Pangeran, saat ini baginda tidak bisa untuk di kun-"
"Keluar! Atau kalian mau kutebas satu-satu?"
Para pelayan itu bergetar ketakutan mendengarnya, mereka tentu tahu sedari dulu reputasi Bai An tidaklah sebagus itu, yaitu seorang pangeran yang nakal dan tanpa belas kasihan. Semua orang tentu akan ketakutan dengan pangeran satu itu.
Mereka semua menurut dengan berat hati, takut saja jika Bai An melukai kaisar tetapi mereka juga tidak bisa berbuat lebih selain keluar dari sana.
Setelah memastikan mereka semua keluar Bai An melihat sekelilingnya, dia memang tidak ahli merasakan energi, apalagi itu energi yang telah disembunyikan. Bai An langsung beranjak pada sebuah benda tempat membakar wewangian, ia membubuhkan flamboyan suci yang diberikan Yuan lalu membakarnya dengan api. Seketika aroma wangi keluar begitu menenangkan, katanya ini bisa mengusir energi jahat.
__ADS_1
Setelah selesai dengan wewangian itu, kini Bai An beranjak menuju ranjang, membuka kelambu tipis yang menutupi ranjang. Begitu kelambu itu terbuka kaisar membuka matanya, rupanya ia menyadari jika ada yang datang.
Kaisar sangatlah kurus, terbukti dengan tulang pipinya yang begitu menonjol. Terkulai lemah di ranjang seperti tidak akan bisa bangkit lagi dari ranjang.
Dari sorot matanya kaisar terlihat terkejut, meski tidak mengatakan kalimat apapun tetapi nampak kini wajahnya ketakutan.
"K-kau da-datang un-untuk membunuhku?" tanyanya dengan susah payah, hanya untuk mengeluarkan beberapa patah kata saja ia nampak begitu kesulitan.
Mengapa kaisar menanyakan itu? Tentu saja ia masih ingat bagaimana perlakuannya terhadap Bai An, ia tidak pernah lupa akan siksaan yang setiap malam ia berikan karena terlampau kecewa dengan Bai An yang tidak begitu berbakat dan justru memiliki meridian yang cacat. Bai An memanglah putranya, putra yang sangat ia harapkan untuk menjadi penerus tetapi begitu mendengar Bai An tidak berbakat dalam kultivasi, ia menjadi takut jika putranya itu tidak mencapai tingkat sembilan.
Kaisar sendiri yakin jika Bai An terlampau membencinya, sedari dulu pergi dan kembalinya ke sini pasti untuk membalaskan dendam, kini adalah waktu yang tepat untuk membalaskan dendam.
Kaisar adalah orang yang paling pantang meminta maaf, tetapi di penghujung usianya ini sekarang ia ingin Bai An memaafkannya. Bai An adalah satu-satunya putranya dengan ratu, putra yang kelahirannya begitu ia nantikan dan saat itu justru kaisar sendiri yang melukai putranya.
Bai An tidak menjawabnya, ia beralih pada sebuah ramuan obat di meja, ia memasukan daun yarrow emas yang ada di gengamannya. Dengan kultivasinya ia melarutkan daun itu dengan ramuan obat.
Daun yarrow emas ini adalah obat yang diambil oleh Yuan di penyimpanan dekat danau, daun ajaib ini dapat menetralkan semua kekuatan jahat dan juga mengubah nasib seseorang yang tadinya akan mati. Tetapi begitu langka, untung saja ada di ruang penyimpanan itu.
__ADS_1
Bai An menyuapkannya pada kaisar tanpa sepatah katapun, ekspresinya juga datar. Kaisar tidak menolaknya, ia tidak tahu apa yang disuapkan Bai An tetapi ia tetap berusaha menelannya. Jika itu racun ia tetap akan menerimanya sebagai tebusan atas dosanya ada Bai An.
"Jika kau tidak tahu maka akan kuberi tahu, yang membuat kau seperti ini adalah putra kesayanganmu itu. Jadi jangan pernah menerima makanan atau minuman apapun darinya, jangan biarkan juga dia mengganti wewangian kamar ini." ucap Bai An dengan nada terlampau datar.
Setelah mengucapkan kalimat itu Bai An melangkahkan kakinya, tidak memperdulikan kaisar yang sepertinya amat terkejut dengan ucapan Bai An.
Begitu sampai di luar kamar, sudah ada pelayan dan tabib yang tadi disana. Bai An menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka.
"Jangan biarkan siapapun masuk sampai besok pagi, sekalipun itu ratu atau putra mahkota."
━━━━━ The Legend of Sword Lord ━━━━━
Suka dengan cerita ini?
Jangan lupa berikan like dan juga sebuah kalimat di kolom komentar sebagai bentuk aparesiasi, setiap jejak kalian sangat dihargai!
Terimakasih and love you full.
__ADS_1
With love,
Khalisa🌹