
" Ehekmm"
Suara deheman dari belakang Shfi'yah membuat,Shfi'yah terkejut.
"Astagfirullahhalazim"pekik Shfi'yah karna terkejut.
"kenapa Lo?..."tanya Dimas ketus.
Shfi'yah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban,dan tubuhnya masih membelakangi Dimas.
"gue mau ngomong sama Lo"ucap Dimas
"iya silahkan"jawab Shfi'yah gugup.
"kalo orang ngajak Lo ngomong ngadep ke orangnya jangan ngebelakangin,gak sopan apa lagi gue ini su..."ucap Dimas yang kalimat terakhir nya tidak di lanjutkan lagi.
Shfi'yah pun pelan-pelan berbalik menghadap kearah Dimas.
"setelah ini kita pindah"ucap Dimas datar.
"Pindah... kemana"tanya Shfi'yah bingung.
"ke apartemen gue,besok kita langsung pindah"jawab Dimas.
Shfi'yah hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
yah sebaik-baiknya seorang istri itu menaati dan menuruti,setiap ucapan suaminya,ya walou Shfi'yah menikah Tampa cinta tapi dia harus tetap ada kewajiban menurut dan patuh kepada suami,karna sebaik-baik nya suami itu adalah seorang kepala rumah tangga dan surga seorang istri ada pada ridho nya suami.
Saat Shfi'yah ingin berbalik lagi menghadap lemari,tiba-tiba Dimas meringis kesakitan.
"Ssset,kenapa harus sekarang sih,S**l"kesal Dimas dengan memegang perutnya,Shfi'yah yang mendengar itu pun cepat-cepat mendekat.
"Kak ada apa"tanya Shfi'yah.
"perut gue sakit"jawab Dimas sambil meringkuk untuk menahan rasa sakitnya.
"Kakak belum makan"tanya Shfi'yah,tapi Dimas tidak menjawab saat ini dia sedang kesakitan.
"tunggu bentar Shfi'yah bawain makan sama obat"lanjut Shfi'yah lalu dia pun berjalan keluar kamarnya dengan tergesa-gesa.
"Mau kemana dek"tanya Ilham saat berpas-pasan dengan Shfi'yah di tangga.
"Shfi'yah mau ke dapur ambil makan"jawab Shfi'yah lalau dia pun berjalan,menuju dapur.sesampainya di dapur dia melihat umi nya sedang berbenah di bantu oleh Nathan,Fikri,Dika dan Agis dan dua sahabatnya.
__ADS_1
"loh ada apa Fia"tanya Azizah kepada Shfi'yah.
"ini masih ada lauk gak"tanya Shfi'yah.
"Ada,emangnya buat apa dek"tanya Nathan lembut.
"itu buat kak Dimas dia maag nya kambuh"jawab Shfi'yah,yang membuat yang lain mengangguk.
Lalu Fikri pun menyodorkan satu tablet obat maag kepada Shfi'yah.
"Ini Shfi'yah,obat Dimas,emang itu anak kebiasaan selalu telat makan kalo gak di ingetin ya gitu nyusahin"ucap Fikri,Lalu Shfi'yah pun menerima obat itu dan mengucapkan makasih.
"makasih
"Sama-sama,"jawab Fikri,ya Fikri selalu ke biasaan membawa obat maag untuk berjaga-jaga.
"ini sayang makanannya sama air anget"ucap umi Shfi'yah memberikan nampan yang berisi satu piring makanan dan air putih hangat.
"Makasih,mumi maaf ngerepotin,kalo gitu Shfi'yah ke atas dulu ya"ucap Shfidan dan di anggukan kepala oleh Umi Shfi'yah.
Setelah kepergian Shfi'yah mereka pun kembali lanjut dengan aktifitas mereka.
Sesampainya Shfi'yah di dalam kamarnya dia melihat Dimas yang masih meringkuk menahan sakit,Shfi'yah pun mendekat dan menaroh naman itu di atas laci yang ada di samping tempat tidurnya.
"Kak"panggil Shfi'yah dengan lembut.
"makan dulu,terus setelah itu makan obatnya"ucap Shfi'yah.
Dimas tidak menjawab tapi pelan-pelan dia duduk di tempat tidur,Shfi'yah pun Tampa ragu membantu Dimas agar bisa bersender dengan nyaman,Sesaat Dimas terdiam karna dirinya begitu dekat dengan Shfi'yah.
Setelah melihat Dimas nyaman dengan posisinya Shfi'yah pun mengambil makanan nya dan memberikannya kepada Dimas.
"Makan dulu kak"ucap Shfi'yah.
"Gak bisa tangan,gue buat nahan ni perut biar gak sakit"jawab Dimas dengan kedua tangannya masih mencengkram perutnya yang semakin,lama semakin sakit.
"Emmh Shfi'yah suapin ya"tanya Shfi'yah,dan Dimas meresponnya dengan anggukan kepala.
Lalu Shfi'yah pun berjalan untuk mengambil kursi belajarnya dan setelah mengambil nya dia pun berjalan cepat menuju Dimas lalu setelah Kursi itu di letakan dekat tempat tidur Shfi'yah pun duduk,dan mengambil piring yang tadi dia letakan sebentar.
"Ini kak,baca Do'a dulu"ucap Shfi'yah,Dimas diam dan menurut,setelah selesai Shfi'yah pun dengan tangan sedikit gemetar meyuapi Dimas,dengan telaten,sebenarnya Dimas menyadari itu semua tapi dia memilih diam.
Setelah selesai makan Shfi'yah pun mengambil air dan berserta obat maag yang di berikan oleh Fikri tadi.
__ADS_1
"ini kak obatnya di minum dulu setelah itu istirahat"ucap Shfi'yah dengan tangannya menyodorkan satu butir obat yang berwarna hijau itu.
"gue gak mau makan obat"tolak Dimas
"loh kenapa,ini biar kakak cepet sembuh dan gak sakit lagi"tanya Shfi'yah keheranan.
"Heh Shfi'yah,lo harus tau ya kalo obat itu pait dan gue gak suka minum obat"jawab Dimas dengan kesal menatap obat yang masih di ulurkan oleh Shfi'yah.
"ini gak pait Ko kakak,kakak cuman perlu ngunyah sebentar lalu di Telen terus di susul sama air hangat"ucap Shfi'yah mencoba membujuk.
"Gak,Shfi'yah yang namanya obat itu pait gak ada yang manis,mending Lo kasih sini air nya ajah"ucap Dimas kepada Shfi'yah.
"katanya ketua geng motor tapi minum obat ajah takut"ucap seseorang yang nongol di balik pintu yang tidak tertutup rapat.
"Siapa yang takut"jawab Dimas dengan menatap horor orang yang tengah menatap nya.
"udah lah Shfi'yah suami Lo itu paling takut kalo di suruh minum obat,cemen"ucap orang itu dengan menatap Dimas remeh.
"Fikri,gue buktiin ke Lo kalo gue gak Cemen"jawab Dimas dengan wajah yang mereh karna kesal.
"manah"tantang Fikri.
Tampa ba-bi-bu Dimas pun mengambil obat yang ada di genggaman Shfi'yah dan memasukannya ke mulut nya lalu mengunyah nya dengan cepat lalu buru-buru meminum air yang di sodorkan oleh Shfi'yah,dengan begitu tergesa-gesa sampai ada air yang keluar di sela-sela bibirnya Dimas.
Shfi'yah pun tidak merasa jijik menadah air yang bercucuran itu menggunakan tangannya.
Setelah selesai,Dimaspun menatap Shfi'yah,Shfi'yah hanya memberikan senyuman lalu dia pun dengan cekatan mengelap tangannya dan juga membersihkan dagu Dimas yang basah,Dimas diam tertegun mendapatkan perlakuan seperti itu,apa lagi dia melihat di mata Shfi'yah tidak ada rasa jijik di sana.
"ehekmm"dehem Fikri yang membuat Dimas mengalihkan perhatiannya kearah Sahabatnya itu.
"ngapain Lo kesinih"tanya Dimas ketus,karna harga dirinya jatuh di depan Shfi'yah karna Shfi'yah tau rahasia besarnya.
"gue mau pamitan"jawab Fikri.
"hemmm
"yaudah kalo gitu,Dimas, Shfi'yah gue pamit dulu ya Assalamualaikum"pamit Fikri yang masih hanya menyembulkan kepalanya saja.
"Waalaikum salam"jawab Shfi'yah dan Dimas.
Lalu Fikri pun pergi dan menutup pintu Kamar Shfi'yah rapat-rapat.
Sebenarnya bukan hanya sekedar pamit,Fikri menemui Dimas di kamar nya,tapi dia lupa memberi tau Shfi'yah kalo Dimas itu sangat susah di suruh minum obat,dan ya Dimas anti minum obat di tidak suka obat menurutnya pahit,dan itu hanya di ketahui oleh Fikri,itu dulu tapi sekarang ada dua orang yang memegang rahasianya,yaitu Shfi'yah dan Fikri.
__ADS_1
Menurut Fikri obat tidak sepahit hidupnya yang Tampa orang tua.
Dan makanya kalo mau nyuruh Dimas itu harus dengan cara mengejek dan merendahkan Dimas,karna waktu itu pertama kali Dimas sakit,Fikri kebingungan saat menyuruh Dimas meminum obatnya,tapi dengan idek cemerlangnya akhirnya Dimas mau meminum obatnya,dan ada juga kejadian Dimas sampai-sampai menangis karena di suruh minum obat,waktu itu Dimas demam dan mereka berada di markas nya BLACK BOOM hanya berdua, seperti anak kecil memang ya itu lah Dimas di balik sikapnya yang dingin dia memiliki sisi yang lainya dan Dimas hanya bisa memperlihatkan itu hanya pada satu orang ya itu sahabatnya Fikri,tapi tidak tau sekarang mungkin saja akan bertambah menjadi dua orang.