Love A Kind Girl

Love A Kind Girl
Melupakan


__ADS_3

Terima kasih..


telahmenyempatkan membaca karya ku.


semoga suka dengan ceritanya yah.


Happy reading..


___________________________________________


"Aku bisa jalan sendiri. kau membawa mobilkan. jadi sepertinya merepotkan"


Bukan tak mau berjalan bersama nya hanya saja aku merasa tidak nyaman. ketika dia akan mengantarku dengan berjalan. Setelah mengantarku dia kembali berjalan sendirikan.


"Aku lapar. apa ada makanan dirumahmu" Katanya tampa menghiraukan ucapanku.


oh ya tuhan setelah mendengar kata makan perutku kini mulai berperang. semenjak bangun tadi aku memang ingin mengisi dengan makanan tapi apa daya terlalu asyik mengobrol aku malah makan cemilan club saja.


"Makanan seperti apa yang kau harapkan. entahlah dalam kulkas mungkin ada beberapa makanan" ucapku sedikit ragu.


"Naiklah. (Luca membuka pintu mobil) aku mengantarmu dengan mobil saja. kita berbincang diapartement mu saja. sambil mengisi perut." Luca mendorongku pelan hingga aku masuk dan duduk dikursi mobil.


"Tapi..." Aku tak bisa lagi menolak Luca menutup pintu mobil dan berjalan ke arah kemudi. Dia masuk dan duduk lalu mengemudikan Mobil dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama kurang dari 15 menit kami sudah tiba di apartment ku.


"Dekat sekali.." Suara Luca memang pelan tapi aku masih tetap bisa mendengarnya.


"Bukan nya sudah aku katakan. bahwa apartmentku dekat. hhe" Aku terkekeh mendengar keluh nya. " Turunlah. ayo masuk"


Apartmentku dilantai 3 jadi biasanya aku tidak menggunakan lift tapi menggunakan tangga. Luca masih setia mengikutiku dari belakang. Aku membuka Kunci pin pintu. Luca masih dengan lekat memperhatikan apa yang aku lakukan.


"Masuklah." Aku melempar tas ke atas kasur. membuka kulkas mencari beberapa bahan yang bisa aku jadikan makanan. hanya rissoto yang terpikir oleh ku setelah melihat bahan yang tersedia dikulkas. aku segera mengeluarkan bahan dan memasak dengan cepat.


"Apa kau terbiasa memasak." Luca bertanya sambil berdiri di sampingku.


"Yeah. lebih terjamin dan juga hemat ( aku tersenyum melirik ke arahnya) tapi bisakah kau duduk saja di kursi atau dimana pun kau merasa nyaman. Disini sempit."


"Oh sorry" Luca beranjak ke arah ranjang dia duduk di ranjangku dengan menopang berat tubuhnya dengan dua tangan kebelakang. sambil terus menatapku.


"Eum.." Luca tak lagi bertanya.


"Masakanku belum tentu sesuai selera mu. Maaf"


Rissoto saffron yang aku masak telah matang. aku berusaha mencari piring tapi itu berada dirak atas. jadi aku sajikan menggunakan Frying pan saja.


aku menaruhnya dimeja samping raanjangku. mengambil piring dan menata nya.


"Wah. terlihat enak" Luca mengambil piring dan menyendok rissoto.


"Bagaimana dengan pacarmu apa sudah berbaikan." Ujarnya kemudian.


"Aku sedang memikirkannya"


"Why. kau sangat menyukainya kan"


"Yah. dia sangat membantuku selama ini. walau dia menyakitiku aku tak dapat membencinya ku rasa" Luca memandangku dengan mengerutkan dahinya.


"Kenapa?" Aku bertanya heran dengan reaksinya.


"Kau merasa berterima kasih. kurasa kini kau tak lagi patah hati. Rasa sakit dikhianati begitu cepat terlupakan oleh mu. kau yakin sedang patah hati. kau yakin jatuh cinta oada julian " Luca terkekeh melihatku.


"Ahaha. Entahlah aku belum begitu mengerti tentang Cinta. sebelum bersama Julian aku hanya sekedar kencan tanpa rasa suka. Hingga bersama Julian aku merasa nyaman."


"Hahaaa. Berapa banyak pria yang pernah kau kencani."


"Eumm. kurasa Hanya Julian yang bersama ku dalam waktu lama" Luca tersenyum sambil menatapku. Tatapan nya membuat aku salah tingkah


Ponsel Luca berbunyi. Dia menatapku sambil memegang ponselnya. "Angkatlah" kataku


"Hallo."

__ADS_1


"..........."


"No. aku tidak berada disana. aku di Bern sekarang."


"............."


"Gaby. Kumohon jangan keluar batasmu. Kau hanya tunanganku. Aku tutup, Aku sedang bersama temanku"


Luca menutup sambungan telpon dan menyimpan kembali ponselnya kedalam saku jaketnya.


What. Tunangan. Oh jadi Luca mempunyai tunangan.


"Kau bertunangan." Tanya ku.


"Yeah. aku punya tunangan. Anak sahabat Ayahku." Aku hanya mengangguk ngangguk kepala ku pelan.


"Kenapa apa kau kecewa"


"Oh Luca. Bercandamu berbahaya" Aku tertawa menutupi rasa aneh didadaku.


"Dia hanya tunangan." Luca menatapku sambil memainkan sendoknya. aku kembali menyendok makanan ku. menghindari tatapan yang tajam terhunus kewajahku.


Kenapa dia sangat senang menatapku seperti itu.


"Kau menarik Brie. Sungguh menarik. dan tenanglah. wajahmu tampak memerah" Luca tertawa renyah melihatku tertunduk malu.


"Yeah. aku biasa saja" Ujarku datar mencoba menenangkan diri. "Kapan kau kembali ke Los Angeles"


"Siang Nanti. Urusanku disini telah selesai. aku hanya berada dua hari disini. Kau bekerja dimana sekarang. Sam bilang kau tak lagi bekerja di Club. ketika aku memintanya memanggilmu"


"Aku dapat tawaran pekerjaan di tempat lain"


"Benarkah Apa pekerjaan nya menyenangkan. apa tempatnya bagus"


"Pekerjaannya aku belum tahu. Kalau soal tempat. aku sanggup menghabiskan seluruh sisa hidupku disana. Teman.. eummm.. aku akan mendapat teman baru. dia gadis manis dengan sejuta luka ku rasa. dan aku akan menjadi teman nya. agar lukaku bisa menjadi penyembuh luka nya. hahahaa"


"Kenapa bisa menyembuhkan"


"Kau bilang baru mendapat teman baru berarti tidak lama. kenapa sangat ingin berteman"


"Kau tahu. ketika kita tulus menyayangi dan memperhatikan orang lain. suatu saat orang itu akan berlaku sama padamu. memberi hati dengan tulus. itu keyakinanku "


"Benarkah.." Luca kembali menyendok makanan nya sambil terus menatapku.


"Brie. Apa kau akan kembali pada Julian. kau akan memberinya kesempatan"


"Entahlah. kita lihat saja Nanti. Tapi sepertinya kita tidak akan bertemu lagi ju rasa. aku akan pindah dari sini mulai besok"


"Kau yakin.." Luca menatapku dengan lembut bibir ujung nya terangkat dengan manis.


"Jangan terlalu yakin. sesuatu yang menarik akan akan selalu dipertemukan."


"Hahhaa.. semoga saja kita bertemu lagi" .


setelah selesai mengisi perut Luca membaringkan Tubuh nya diranjang. Luca menatap langit langit kamar. tampak sangat tenang. Aku membersihkan tempat makan yang kotor setelah dipakai. setelah selesai aku melihat Luca telah tertidur lelap diranjangku. Oh shit dia sangat tampan. Wajahnya sangat tampan.


Aku duduk diujung Ranjang dan menatap Wajah Luca. Bagaimana dia tidak bijaksana aku juga ingin membaringkan tubuhku. Aku rasa tubuhnya lebih tinggi dan lebih besar dari Julian. hingga kasurku tampak sangat kecil untuk ukuranya.


Hoamm.. aku menguap karena perutku sudah terisi kini hanya kantuk yang kuhadapi. aku meringkuk disamping Luca tak lama aku pun terlelap didalam Mimpi.


 


\\*


 


Pukul sepuluh pagi Ms Lara tampak berada di luar apartment dengan tangan kanan nya Ms Rose. Ms Lara Memandang 2 pria berjas diujung lorong.


"Rose bukan kah Itu Carlos dan Edward"

__ADS_1


"Sepertinya begitu. tapi sedang apa mereka disini."


"Sepertinya kita tunda menjemput Khara. panggil mereka mendekat."


Dua pria itu mendekat ke arah Ms Lara. Mereka tampak berbincang ,Wajah Ms Lara tampak berkerut seperti berpikir. Lalu meminta Rose membawa nya kembali.


"Kita kembali lagi Nanti" ucap Ms Lara lalu masuk ke dalam Mobilnya.


Dikamar Luca terbangun oleh suara Dering ponselnya. Tangan nya mencari keberadaan ponsel dibalik jaketnya.


LUCA Pov


"Hallo...(.........)....ok tunggu" aku membuka mata melihat sekeliling. Aku masih belum sadar dimana aku berada.


" Oh .." Gerakan kecil dusampingku menyadarkan ku, dimana kini aku berada. Dusampingku brie tertidur dengan lelap wajah cantiknya terlihat damai. aku membelai lembut pipi brieaya. mencoba membangunkannya. Brie tampak menggeliat dan terbangun. terkejut dengan keberadaanku yang berbaring disampingnya dia bergerak terlalu cepat hingga hampir terjungkal. aku menarik nya sambil menahan tertawaku. Brie memukul dadaku sambil menggerutu.


"Kau membuatku terkejut. jam berapa ini. ah Oma.. mana ponselku." brie mencari tasnya dan mengambil ponselnya. Dia tampak menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"Oma. jam berapa akan menjemputku. maafkan aku. aku ketiduran. ini ( melihat jam dinding yang telah menunjukan 10.30 ,Oh masih ada waktu) masih ada waktu ternyata"


"Oma akan menjemputmu jam 12 siang bersiaplah"


"Baiklah Oma. aku tunggu. sampai nanti" Brieaya menutup ponselnya dan kembali memperhatikanku. " Maaf aku tak membangunkan mu. apa kau kesiangan"


"Tidak tenang saja brie. Aku harus berangkat sekarang ada hal yang harus aku lakukan sebelum ke bandara."


"Oh baiklah" Brie beranjak kekamar mandi. setelah 15 menit dia keluar dengan hanya memakai handuk.


"Apa kau ini tak takut padaku atau sedang menggodaku" bisikku pelan.


"Yeah apa yang kau gumam kan Luca" Aku tak menjawab hanya memandang nya mencari pakaian yang akan dia kenakan didalam lemari pakaian nya. setelah mendapat baju yang iya cari dia kembali berlalu ke kamar mandi.


Dia memakai kaos putih dan skiny jeans hitam di tambah dengan Jaket denim warna biru.


"Kau tidak kekamar mandi. sekedar mencuci mukamu"


"Apa muka bantalku mengganggu"


"Apa kau bercanda. Dengan wajah seperti itu didalam kubangan lumpur pun akan tetap terlihat memukau bukan" Wajah Brie tergelak setelah berbicara. wajah nya memerah dan membuang muka. Ah menggemaskan sekali wajahnya.


"Terima kasih atas pujian nya. jadi dimatamu aku tampan. tentu saja semua orang bilang begitu" Aku tertawa sambil beranjak ke kamar mandi. mencuci muka dan memperbaiki penampilanku.


Brie tampak mengeluarkan semua koper koper yang telah tersusun rapi dipinggir ranjang.


"Aku bantu. " Aku membawa koper koper yang berjumlah 3 buah keluar apartment nya.


"Terima kasih. Dan selamat tinggal." Ucapnya padaku. Dia memasang wajah mengemaskan. Oh wanita yang manis. Tanpa Sadar aku mendekat dan mengambil tengkuknya. menyambar bibir mungilnya ******* lembut aku menarik pinggang nya agar tak memiliki jarak dengan tubuhku. Aku melepaskan pelan pautanku menatap wajahnya untuk membaca pikirannya. Dia tampak sangat terkejut. wajah merahnya berhasil menambah manis.


"What is this, Why are you kissing me"


(Apa ini, kenapa kau menciumku)


"Just think of it as a goodbye kiss"


(Anggap saja ini ciuman perpisahan)


Aku memeluknya." Selamat jalan. aku berangkat sekarang" Aku masuk ke dalam Mobil meninggalkan Brieaya yang masih tampak terkejut. berdiri disana, aku memperhatikan dengan spionku sampai menghilang karena belokan jalan didepanku.


Dengan Cara apa aku bisa kembali padamu. aku akan kembali pasti.


🍇


🍇


🍇


🍇


🍇

__ADS_1


🍇


To be continued


__ADS_2