
Sore ini aku menemui Danial Untuk berolahraga. Seperti biasa kita akan berolahraga boxing,Sambil Danial mengajarkan beberapa Bela diri yang aku minati . aku pun mempunyai dasar bela diri. Aku memang menyukai olahraga keras. Taekwondo , boxing, Karate. Beberapa aku perdalam beberapa setidaknya Dasar nya telah aku pelajari. Hanya untuk menjaga diri saja, sendiri dinegeri orang itu bukan lah hal yang Mudah kan Kawan.
Aku lebih giat lagi sekarang setelah Danial mengajariku. Yah diluar ekspektasi. Wajah yang lugu penuh misterius, Badan yang kurang begitu besar tapi memiliki berbagai keahlian bela diri.
"Kau siap Brie.."
Danial melempar sarung tinju ke arahku dengan kencang.
"Bisa lebih lembut menyambutku. Nial"
"Itu termasuk lembut Brie"
"Serius.. Ingin ku kurangi jatah Roti mu"
Danial hanya meringis mendengar ancaman ku. Pria lugu pencinta roti. Lautherbrunnen adalah desa indah dibawah tebing ber air terjun. Jadi penjual roti enak tak terdapat banyak disini. Hingga aku mempunyai tugas memberi makan roti anak satu ini.
"Kita tarung sekarang. jangan dulu gunakan Sarung. Kita bertarung gaya bebas. dan terapkan beberapa trik yang aku ajarkan."
"Baiklah. Ayo kita coba."
Sejam berlalu keringat telah bercucuran deras. Beberapa badan ku lebam karena hasil pertarungan.
"Kau baik saja"
"Tentu. Harus merasakan seperti ini bukan agar kemampuanku bertambah haha" Aku hanya tertawa membalas pertanyaan nya. Yah aku tau dia memperhatikan lebam ku dan badan ku yang tampak kelelahan.
"Aku harap aku mengajari orang yang tepat"
"Maksud mu. Apa kriteria orang yang tepat dimata mu Danial"
"Orang yang dekat dan menjaga orang yang disayanginya. Dengan nyawa nya mungkin"
"Oh. kata kata mu sedikit menakutkan. Baiklah aku pulang. Teman temanku akan mengunjungiku. dan kau bantu aku menjamu mereka" Aku membereskan barangku dan bersiap untuk kembali ke Villa.
.
"Yang benar saja" Danial melenguh sebal
"Tentu saja benar. Salah satu dari mereka yang selalu membantuku membeli roti kesayangan mu Nial" Aku mengedipkan mataku padanya. Dan berlalu m3ninggalkan nya Walau masih terdengar jawaban dari Danial.
"Selalu Roti" Aku hanya terkekeh mendengar keluhan nya.
****
"Nona. Teman teman anda telah sampai. mereka ada di depan."
"Terima kasih Ms Rose. Tolong tanya Danial apa semua telah siap. biar aku yang menyambut mereka."
"Baik. Saya kebelakang lebih dulu" Aku mengangguk singkat dan bergegas ke depan Villa untuk menyambut mereka. Didepan tampak Sam ,Mily,greta, josh, Nick dan Julian. Mereka serentak melihat kearahku dan tersenyum.
"Honey. I miss you" Julian segera memeluk dan mencium pipiku.
"Too.. Masuk lah. Apa kalian lelah"
"No. aku baik baik saja" Jawab Greta.
"Tentu saja tidak lelah. kau tidur semenjak berangkat. berbeda dengan ku yang menyetir karena Nasib ku yang Jomblo" Nick menoyor kepala greta dan tertawa.
"**** you.. Nick" Ujar Greta sambil membenahi rambutnya dibantu josh yang juga ikut tertawa.
"Baiklah ayo masuk lanjutkan perang kalian didalam."
Nick menyambarku dari pelukan Julian. Dan merangkulku untuk berjalan bersama nya menuju ke belakang Villa. ketempat yang aku siap kan untuk menyambut mereka.
"oh man. she's my girlfriend."
"Dan dia adalah Sahabat ku, Julian. Kau tak boleh mengambilnya sekarang. Dia milik kami." Nick menatap tajam ke arah Julian.
__ADS_1
"Hahaaaa.." Greta dam Mily tertawa melihat persetegangan Nick dan Julian.
Aku tahu Nick tak begitu menyukai aku kembali bersama Julian karena Pengkhianatan nya. tapi dia berusaha menerima nya demi diriku. Mereka memang sahabat sejatiku.
Dibelakang Danial sedang menyusun meja dan makanan. Aku berlari kecil menuju Danial.
"Thank you. My Partner. hehe"
"Semua selesai. Aku boleh kembali ke rumah sekarang. Aku berjanji membantu memperbaiki pagar kandang Kambing milik Mr Vetrik."
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih" Belum sempat Danial menjawab Julian memeluk ku dari belakang.
"Siapa dia" Tanya nya disamping telingaku.
"Dia Danial teman kerja ku disini."
"Hai. aku Julian. Brieaya Boyfriend" Julian menjulurkan satu tangan nya. Tapi Danial hanya menatap Julian dengan tatapan tajam tanpa menghiraukan Tangan Julian.
"Apa aku harus tau statusmu" Danial tersenyum sinis dan berlalu begitu saja.
"Oh shit. fucking boy" Julian tampak kesal dengan kelakuan Danial
"Julian sopan lah. Kau yang menyinggung nya. Dia rekan kerja ku. jangan berlebihan." Mata Julian hanya menatap ku dengan sendu. merasa bersalah mungkin. tapi dia harus tau batasan yang harus dia ketahui.
Aku mempersilahkan Mereka untuk segera menikmati makanan yang telah tersedia. Ada Gazebo dan tempat nyaman untuk sekedar menikmati makanan dan duduk duduk santai diarea belakang.
"Kemana dia. kenapa belum juga datang"
"Kau menunggu siapa Honey" Julian bertanya sambil duduk disampingku.
"Nora dia belum juga datang"
"Biar aku saja yang memanggil nya. Bagaimana." Greta menawarkan diri untuk memnaggil Nora di Villa nya.
"Aku Rasa,Biar aku saja. Lagi pula kau tak akan di izinkan masuk kesana Greta" Cegahku pelan agar Greta tak merasa tersinggung.
"Setiap Orang mempunyai masalahnya sendiri bukan Gret. Jadi kita harus menghormati itu. kita tidak tahu keadaan nya sehingga membuat dia membutuhkan sesuatu yang kita anggap berlebihan."
"Maaf kan Aku Brie. jangan marah. baiklah kita tunggu saja." Belum sempat aku Balas Sam berdiri dan mendadak termangu sambil memanggil nama seseorang.
"Alex...." Semua mata tertuju pada Seorang pria yang berjalan disamping gadis manis sahabatku Nora. Aku pun melihatnya dan segera menghampirinya.
"Akhirnya kau datang. Aku baru saja hendak menghampiri mu. Nora." Nora tersenyum manis kepadaku.
"Ini ulahnya.. Dia lebih sibuk dari manusia biasa Brie. entah kenapa dia hidup seperti itu. bila aku tidak menjatuhkan diri dia tak akan berhenti berkutat dengan laptopnya." Aku tertawa melihat gelagat tek enak Luca.
"Tak apa.. Luca harus berkerja keras itu pun untuk mu bukan. Benarkan Luca"
"Ah yeah. begitulah" Tatapan Luca beralih pada teman teman ku. "Sam kau datang. "
"Apa maksudmu dude. kenapa kau tak memberi tahuku kau berada di Swiss." Sam datang menghampiri Luca dan memeluknya. Wajah terkejut nya tampak jelas. Aku saja baru sadar bahwa mereka berteman bukan.
"Aku juga butuh suasana sepi damai dan tenang. bukan"
Sam hanya tertawa sambil mengajak kami berkumpul. kami berbincang dengan nyaman berbagai topik pembicaraan bisnis pekerjaan kemajuan club dan hal hal berbau lelaki diangkat menjadi topik perbincangan mereka dan aku pun senang karena Nora dapat berbaur dan mengobrol dengan Mily greta maupun Nick. Ah ya Julian dia selalu ada disampingku merangkul ku dan sesekali mengecup pipiku. Aku merasa terus ada yang mengawasiku. Ketika mata ku bersitatap dengan Mata tajam dan mendebarkan milik Luca.
Tatapan yang tak bisa ku artikan tepat. Wajah tak suka nya tatapan menyayatnya. Tak bisa tepat ku artikan. Cemburu pun tak mungkin, terganggu mustahil sedang Josh dan Greta bergelayut mesra dengan cumbuan yang mengganggu saja tak dihiraukan nya.
"Ah.. aku suka Kue ini. Tapi sudah hampir habis karena Nick tak berhenti mengunyah dari tadi.." Gerutu Mily sambil mengayun ngayun toples kue ditangan nya.
"Akan aku ambilkan lagi. tenang lah mily. masih tersedia. "Aku berlalu untuk mengambil kue yang dimaksud Mily, meninggalkan mereka yang masih tetap berbincang heboh.
Aku mencari toples kue yang biasa tersimpan rapi di Rak makanan. Tapi nyatanya Toples itu berada di jajaran tertinggi hingga aku sedikit kesulitan mencapainya. Satu kaki ku telah aku injakan kegundukan kayu bawah rak agar bisa membantuku mencapai Toples. Toples nya tercapai tapi tak berhasil aku genggam. Disudut mataku terlihat toples meluncur ke arahku. Aku menutup mataku rapat menunggu toples mendarat dikepala ku. Sedetik dua detik tapi Toples tak kunjung menyentuh kepalaku. Ku buka mataku dan tampak tangan kekar dengan Tato kecil berwarna hitam mengenggam dengan ketat.
"Lain kali. minta lah pertolongan, Bagaimana bila wajah kecilmu hancur karena tertimpa toples.. Aku rasa itu akan sangat memalukan" Ujarnya Sambil terkekeh. Suara nya jelas sangat aku kenal.
"Luca.. terima kasih. Yah memang akan sangat memalukan. haha" Aku menjawabnya sambil tertawa. Dia membalik tangan nya dan menyimpan toples kue dimeja.
__ADS_1
"Ada apa kau kesini. Luc"
"Hanya ingin meminta tambahan kaleng Bir. Masih ada kah. atau aku harus membelinya keluar"
"Oh my god. Apa semua nya telah habis.. Dasar peminum." Mataku menatap Luca dengan Mengerucutkan bibir kecilku.
"Jangan seperti itu. Aku kira tak akan sanggup menahan godaan nya" Luca menunjuk bibirku sambil menggodaku.
"Kau ini.." Ah wajahku pasti saja merah karena ulahnya.
"Kau kembali bersama dengan nya"
"Siapa maksudmu"
"Siapa lagi. seseorang yang mengkhianatimu"
"Julian maksudmu. Hemm. hanya memberinya kesempatan. Tak adil bukan karena satu kesalahan aku harus melupakan berpuluh hal baik tentang nya. Dia juga sangat menyayangiku. Yah kita lihat nanti saja"
"Ok. Mana Bir nya.."
"Oh tuhan. Arah pembicaraan mu sangat bercabang. Dan belokan nya sangat tajam." Dia mengubah topik pembicaraan seperti membalik telapak tangan saja.
"Jadi. Apa masih ada"
"Ada tentu saja masih sangat banyak. Apa kalian bisa menghabiskannya. Biar aku bawa semua stok Bir Dikamar ku" Aku berlalu di ikuti oleh Luca tak lupa menyambar toples Kue yang dia tenteng.
"Ini kamarmu" Didepan pintu kamar aku berbalik.
"Kau tunggu disini jangan Masuk"
"Why"
"Oh tunggu saja aku mohon. kamar ku berantakan.." Ceklek pintu kamar dibuka dengan segera oleh tangan Luca wajah nya melintas tepat didepan wajahku membuat aku kepanasa.
"Oh my. Luca.." Belum sempat aku selesai berbicara dan menahan nya. Luca telah terlebih dahulu masuk kedalam.
Aku menutup pintu dan berjalan melewati Luca yang sedang mengamati kekacauan dikamarku. Tapi aku sudah tak peduli lagi. Aku hanya pokus pada Bir yang berada di Pendingin mengeluarkan nya dan membawanya.
"Ayo. Ini birnya."
"Kemari, Biar aku saja." Luca mengambil Satu Carton Bir ditanganku.
"Kamarmu tak begitu berantakan Brie. apa yang membuatmu malu.
"Kau.. Aku malu karena kau" Ucapku tanpa berpikir.
"Brie.." Luca menatap ku lekat berjalan mendekatiku yang masih mencerna jawabanku sendiri sepertinya ada yang salah.
Wajah Luca tambah mendekat hingga
Cuupp. Kecupan kecil hinggap di bibir tipisku.
"Luca........".............
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be Continued