
Seminggu berlalu besok adalah hari libur Brieaya. dia bermaksud menepati janji nya pada Julian. Brieaya sedang membaca dan menyelesaikan beberapa laporan pagi ini. Ketika Nora mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerja Brieaya.
"Masih banyak.."
"Tidak hanya satu berkas lagi. Semua telah selesai. Tak percuma aku begadang."
"Kau akan memberi kejutan pada Julian."
"Yah Nora. aku merasa bersalah pada kejadian terakhir kali"
"Karena bersama kakakku.."
"No. Karena menolak kencannya. Aku merasa bersalah."
Flasback on
Brieaya Pov
"Kenapa kau menolak kencan. ini hari liburmu." Tanya Nora padaku.
"Aku ingin menghabiskan waktu bersama mu." Aku menjawab sambil menggandeng tangan nya masuk kedalam. Aku terus berbaring sampai siang bertukar cerita tebtang masa kecil dan kejadian kejadian luar biasa.
"Apa kau tak merindukan Keluargamu brie"
"No. Hanya satu orang ,Nenek ku. Itu pun tak bisa dibilang rindu. hanya ingin tau apa dia sudah bahagia ketika aku sudah tak lagi disampingnya."
"Kakakku adalah satu satunya orang yang menyayangiku. jadi dia adalah biang segala galanya. Rinduku cemasku dan duniaku"
"Jelas. begitupun dia bagi mu. benarkan."
"Tapi sekarang bertambah satu orang yang ada dihati kakakku"
"Tunangan nya. Yah semoga ada jalan lebih baik. bersabarlah. Waktu akan membantu menjawab semua Nora. Kau dan deritamu yang luar biasa saja bisa meluluhkan pertahanan ku."
"Terima kasih berada disampingku."
"Aku yang harusnya berterimakasih. Kau mau berbagi luka denganku"
Flasback off
Bern.
"Kau tampak kacau Julian." Sela adam ketika melihat Julian sedang duduk termenung.
"Adam. Kapan kau sampai disini."
"Kemarin. Adahal yang ingin aku sampaikan padamu."
"Kerjaankah. Rasanya bisnis berjalan lancar tak ada banyak gangguan. Ada apa adam."
"Kau bekencan dengan elena. Atau kau berselingkuh dengan nya."
"No. itu hanya one Night Stan. Terjadi begitu saja. Why. "
"Sepertinya kau harus menemuinya. Sekarang dia berada disini. Aku mengajak nya bertemu dengan mu tapi dia menolak keras. Tapi aku rasa kau harus menemuinya. Harus Bila kau pria bertanggung jawab."
"Apa maksudmu."
"Ini alamat Elena. lebih baik kau melihat dan mendengar langsung darinya. Pergilah kumohon. Kau teman ku tapi elena juga sahabatku." Julian tampak termenung menerka nerka alasan apa yang menjadi pokok pertimbangan Adam memerintahkan dirinya bertemu elena. Ada satu hal yang terpikir tapi terus dia tolak dengan keras.
Siang Hari akhirnya Julian pergi ke alamat yang Di berikan oleh Adam. Julian melihat Elena keluar dari apartemen dengan menjinjing tas kecil. Tapi betapa Kagetnya Julian ketika melihat perut Elena yang tampak sedikit buncit.
"No. Tuhan aku mohon jangan sampai itu aku" Bisiknya pelan. Julian mematung ketika pandangan elena tertuju padanya.
"Julian. Sedang apa kau disini" Julian yang masih terkaget mendekatkan dirinya berjalan walau hampir terhuyung.
"Elena.. Kau.." Mata Julian tertuju pada perut elena yang membesar. Terlihat seperti hamil 4 bulanan.
"Yah. Maaf tak memberi tahu mu. Tapi aku disini bukan untukmu. Sungguh."
"Bisa kita mencari tempat untuk berbicara tapi tidak diapartement mu"
"Baiklah lagi pula kau sedang menuju Swalayan. kita bisa mengobrol di Cafe seberang."
Setelah berada didalam Cafe Julian segera memesan beberapa makanan dan minuman. yang diminta elena.
Julian memandang elena dengan Sorot wajah kaget dan cemas.
"Apa aku..yang..." Kata pertama yang keluar setelah beberapa saat hening.
"Yah. " Potong Elena cepat. Wajahnya menjadi memerah dan air matanya lolos begitu saja. Melihat itu Julian beranjak duduk disamping elena. Menyandarkan Kepala elena di bahunya.
" Iam so sorry. elena"
"No. Don't"
__ADS_1
"Itu kesalahanku ..."
"Ini bukan kesalahan. Ini anakku Julian." Kini wajah Elena memandang mata julian dengan tajam. Wajah elena yang memerah membuat Julian terenyuh. Dikecup nya bibir ranum Elena sedikit menenangkan nya. Tanpa Julian Sadari satu pasang mata disebrang kursi menatap tidak percaya.
"Ternyata ini bukan tempat yang baik untuk bercerita. ayo ke apartemen mu." ajak Julian.
Sesampainya di apartemen Elena bercerita. Menjelaskan alasan nya disini dan mengapa dia tak menemui Julian.
"Kalau kau di usir ayahmu. kau bisa tinggal bersama ku. Adam tak berkewajiban menghidupimu itu benar. Dan untuk alasan bahwa aku memiliki hubungan serius dengan Brie. aku tahu. aku pun tak bisa begitu saja bersama mu. Aku sangat mencintai Brieaya."
Elena tersenyum pahit. wajahnya menunduk dalam. Air mata kini meleleh. membuat Julian sedikit terenyuh. Kembali diKecupnya bibit elena. Tapi balasan elena membuat Julian berhasrta lebih. Hingga cumbuan semakin panas. Dengan tubuh elena yang lebih berisi padahal pada tubuh Normal saja sudah sangat menggugah Nafsu. m3nghilangkan akal sehat Julian. Hingga berakhir diranjang.
Brieaya. Pov
Aku kini berada di bern. untuk membuat kejutan pada Julian. Hari ini dia bekerja jadi aku akan menghampirinya ditempat kerjanya.
Aku sampai terlalu cepat. Hanya membunuh waktu aku berjalan jalan disekitar tempat kerja Julian. Hingga perutku tak lagi bisa diajak bermain. Aku memasuki sebuah Cafe memesan beberapa makanan untuk mengisi perutku. Menelpon Ms. Lea untuk memesan Roti kesukaan Danial. Selang beberapa waktu Seorang wanita sepertinya sedang hamil muda berjalan masuk diikuti oleh Julian. Yah.. Julian. kekasih yang akan ku temui. Kini bersama seorang wanita.
"Ah aku tak boleh berburuk sangka. tapi wajah wanita itu sangat tidak asing" Batin ku.
"Elena.."
Degg.. Nama yang sama dengan wanita di Club. Aku menatap nanar pemandangan diSeberangku. Lebih terhantam perih ketika melihat Julian Mengubah tempat duduknya. Dan berciuman tepat didepan mataku. Berusaha tegar dengan apa yang kulihat.
Aku beranjak ingin menghampiri Julian dan meminta penjelasannya. Ketika dia pun beranjak dan menuntun Tangan Elena dengan lembut. Pikiran ku kosong dan kini entah kenapa aku mengikuti Julian hingga memasuki Apartemen seberang Cafe. Karena tanpa pintu depan aku bisa masuk hingga ke depan pintu apartemen yang dimasuki Julian.
Aku terduduk bingung apa yang harus kulakukan. Hingga mulai terdengar desahan dan Teriakan Khas orang bercinta. Membuatku tambah meradakan Sakit yang tak berdarah.
Hari sudah mulai Gelap tak ada tanda tanda Julian akan keluar sehingga aku berniat menelpon nya. Ah tapi ponselku dimana.
"Ponselku tertinggal di Cafe." Aku dengan lambat berjalan kembali ke Cafe. Masuk kedalam dan menanyakan keberadaan tas dan Ponselku.
Pelayan memberi tahu bahwa ada seorang pria yang mengambilnya dan meminta menghubungi Nomor yang dia berikan. Si pelayan segera menghubungi nomor yang tertera. Pria diseberang menyuruh ku untuk menunggu.
"Tadi pria itu menelpon ponsel anda Nona. Karena terus berdering sehingga saya menjawabnya. Dan dia datang tadi sore untuk mengambil ponsel anda."
"Thank you. Maaf aku tadi sampai lupa belum membayar makanan nya. tunggu sampai tas ku datang aku akan membayarnya."
"No.. Tagihan nya sudah dibayarkan oleh tuan itu Nona."
"Oh really.." Setengah jam berselang. Sebuah mobil berhenti didepan Parkiran Cafe. Walau pun belum terlihat siapa yang ada didalam nya. Aku sudah bisa menebak. Mobil siapa itu.
Pria itu berlari memasuki Cafe mata nya berkeliling mencariku..
"Brie.. Are you ok.." Tanya nya sambil berlari menghampiriku.
"Tenang lah aku disini.. Aku disini Brieaya.." Pelukan hangat Luca membuatku sedikit merasa tenang.
Aku telah sedikit lebih tenangm Hingga segukan ku mulai terkendali. Luca melonggarkan pelukan nya. Mendorongku lembut dan menatap Wajahku.
"Jadi lebih baik sekarang bagaimana. Masih mau disini atau ikut aku.." Tanya Luca lembut.
"Atau mau ketempatku Brie.." Suara lain menyela Diantara Ambang batas sadarku. Aku membalikkan Wajah tampak Nick berdiri sambil memandangku cemas.
"Nick. kau ada disini.." Tanyaku heran.
"Oh god. Brie apa aku hantu. atau kau tak lagi mengenaliku bagaimana bisa kau tak sadar kehadiranku. Aku dari tadi disini. Bahkan keluar dari mobil yang sama dengan lelaki dihadapanmu. Oh tuhan rasa khawatirku lenyap sudah." Gerutuan Nick berhasil membuat senyumku keluar.
"Baguslah. Senyummu kembali. Kalau begitu ayo kita keluar dari Sini. Cafe ini perlu ditutup bukan." Luca tersenyum kepadaku. Akhirnya aku ikut Luca ke hotel tempatnya menginap. Nick duduk didepan sedangkan aku dan Luca duduk dibelakang.
"Edward. Tunda meeting malam ini." Luca berkata sebelum turun dari Mobil.
"Baik Boss. Apa laporan dari Carlos ditunda juga."
"No kirim itu lewat surel.. Ayo Brie.. " Lanjutnya. Aku hanya mengikuti Luca dan Nick. Sesampainya dikamar Hotel aku tertegun.
"Kamar ini terlalu besar bukan. Kamu menyewa nya hanya untuk tidur. untuk apa memesan kamar sebesar ini"
"Ini Hotel Gemma Brie kau tak tahu. Dan ini tempatku bila aku sedang ada urusan di Bern.Aku membeli kamar ini khusus untukku"
"Lagi pula lebih baik aku pulang."
"Apa maksudmu pulang. Kau saja belum menjelaskan alasan meninggalkan Ponsel dan tas mu. Tak membayar makanan mu. serta menangis seperti itu." Gerutu Nick lagi.
"Ah.. itu..." Aku menggaruk kepalaku walau tak gatal.
"Yah Ah itu.. ah itu.. apa" Ulang Nick.
"Kau siap untuk bercerita. atau ingin bercerita dengan Nick saja. Atau ingin teman mu yang lain disini"
"No. Kalian boleh mendengarnya. Tapi jangan menertawakanku Nick. Dan jangan marah. Apa kau bisa berjanji.."
"Yah.. aku janji.." Ujar Luca pelan.
"Kau.." Tanyaku pada Nick yang tak merespon permintaanku.
__ADS_1
"Liat saja nanti.." Hah sudah aku duga dia tak akan mendengarkan ku.
"Julian... Dia bertemu dengan Wanita itu lagi.."
"What.. Damn.. Fucking julian.. I kill him."
"Nick.. Kau tak ingin mendengar ceritaku." Nick kemudian terdiam. Aku menceritakan semua kejadian tadi siang hingga aku kembali ke Club.
Nick terdiam begitupun Luca. Mereka tampak takut untuk berkomentar.
"Jadi bagaimana perasaan mu sekarang brie.. Apa yang ingin kau lakukan.."
"Aku akan menemuinya pagi pagi didepan apartemen wanita itu.."
"Aku ikut.." Sela Nick..
"No.. Jangan.. tak boleh"
"Tentu saja boleh. Bisa dan pasti akan ikut."
"Nick.."
"Brie..."
"aku mohon.."
"Atau aku menelpon Josh dan yang lain.."
"Baiklah kau menang kau boleh ikut.."
"Aku akan antar.. Jadi sekarang istirahatlah." Luca menengahi perdebatan kami berdua yang sedikit kekanankan.
"Tapi aku tak bisa menemanimu. Brie ibu ku pulang dia ada dirumah. kau tak keberatan dijaga oleh Luca saja. Aku sangat ingin menemanimu. Tapi ibu bilang ini sangat penting."
"Pergilah Nick. Aku akan baik baik saja.. Dan kalau pagi hari kau tak bisa datang itu lebih baik."
"No aku pasti datang. Aku titip dia Alex. Jangan macam macam." Luca hanya tersenyum menanggapi ocehan Nick. Nick akhirnya pergi untuk bertemu Ibunya. Sedangkan aku sekarang berada di sini bersama Luca. Sebentar Kenapa hanya aku yang memanggilnya Luca.
"Luca. Boleh aku bertanya.."
"Yah.. tentu saja.."
"Kenapa semua memanggilmu Alex. Sedang aku Luca.."
"Kau ingin memanggil namaku dengan Alex. itu terserah padamu."
"No.. aku lebih suka Luca.."
"Aku pun lebih menyukai kau memanggilku Luca. Serasa spesial bukan." Wajahku pasti memerah sekarang. oh tuhan dia selalu dapat membuatku tersipu bagaimana pun keadaanku.
"Kenapa dengan wajahmu Brie. Kau memerah." Aku langsung berdiri dan berlari kekamar.
"Jangan kunci pintunya Brie aku tidur dikamar depan. Kalau perlu apa apa kau bisa memanggilku" terdengar suara langkah menjauh Sepertinya Luca telah berlalu ke kamarnya.
Dengan berbagai cara aku berusaha tertidur tapi itu sangat sulit. Bayangan kejadian tadi terus menghantuiku. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar mengambil minum demi menenangkan pikiranku.
Aku membuka pendingin dengan perlahan. Agar tak membangunkan Luca. mengambil botol minum dan gelas. aku megisi air kedalam gelas dan meminumnya. Aku tak langsung beranjak ke kamar kembali. Hanya tetap berdiri dan melamun.
"Kau akan kesiangan brie. Bila tak tidur srkarang juga." Suara berat Luca memecah lamunan ku. Luca tampak terduduk disofa sambil memangkku Laptopnya. Dia berdiri setelah menyimpan Laptopnya dimeja dan menghampiriku.
Kini kami berhadapan. Tatapan luca membuatku kembali merona.
"Kau tak bisa tidur.." Tanyanya..
"Yeah. begitulah"
"Mau ku temani.."
"Apa... ahh tak perlu.. itu aku. "
"Tak perlu khawatir aku tak akan berbuat apa pun yang tak kau sukai.."
"Ahh.." Akhirnya aku mengangguk. Luca menuntunku kekamar berbaring bersama ku diranjang sambil memelukku hangat.
"tidurlah Brie. aku disini.." Entah sihir apa kata Luca seperti obat tidur bagiku. kantukku datang dengan cepat dan kini mulai membuatku terlelap ditidur malam ku..
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be continued.