
Suasana kamar menjadi hening. Aku dan luca hanya saling memandang bingung. Kecupan luca membuatku tak bisa menjaga kesadaran. Jantungku berdegub kencang. Rasa ini tak semestinya ada. Yah aku punya Julian tapi pandangan mata luca tak dapat aku hindari. Hatiku tak menuruti perintah otak ku. Luca kembali mendekatkan wajah nya dan menghampiri ku hampir menyentuh bibirku. tapi tidak aku tak bisa begini.
"Luca maaf. Ayo kita keluar. Julian akan mencari ku." Aku berusaha menyadarkan Luca bahwa ada seseorang disampingku sekarang. Luca hanya menaikan alisnya dan tersenyum
"Baiklah. ayo kita keluar." Luca berjalan terlebih dahulu keluar dari kamar dan meninggalkan ku.
"Oh ayolah Brie.. kembalikan kesadaranmu." Aku pun berusaha menenangkan diri dan mengikuti Luca.
Berjalan gontai dengan seribu macam pikiran membuatku beberapa kali hampir tersandung. Dan puncaknya memang terjadi, aku melewati satu ubin batu tempat kaki menapak hingga kaki ku mengijak rumput yang sedikit basah. Karena pikiran ku sedang bercabang sehingga aku tidak pokus dan repleks ku tak bagus. Aku terhuyung dan terjerambah. beruntung pelukan kokoh dapat menahan ku mencium tanah.
"Kau baik baik saja." Aku memalingkan mataku untuk melihat wajah sang penolong. Suara Ini jelas dia..
"Dimana pikiranmu bagaimana bisa kau berjalan sambil melamun. Apa Aku sehebat itu. Tapi ku rasa tadi hanya setitik tak bisa membuatmu naik bukan" Wajah Luca sangat dekat sehingga bisikan nya tepat terdengar olehku. Ah brengsek menyebalkan.
"Honey kau tak apa apa. Apa ada uang terluka." Suara Julian membuyarkan pokusku terhadap Luca.
"Ah yah.. aku baik baik saja." Julian segera membantuku berjalan kebangku asalku tadi.Luca hanya memandang tajam ke arahku berjalan.
"Brie. Are you okay?" Nora menatap ku cemas.
"Tenang lah Nora. Brieaya akan baik baik saja. Dia tipe orang yang sanggup bertahan hidup walau kita tinggalkan di pulau terpencil" Kelakar Greta membuat semua orang tertawa. tek terkecuali diriku sendiri.
"Aku baik baik saja Nora. Tenaga kakakmu lebih dari cukup untuk menahan tubuhku yang kecil ini bukan." Kelakarku.
"Apa maksud dari kecil. Brie tubuhmu berat.." Luca menggodaku dengan wajah datar nya. Tapi tak elak membuat semua orang kembali tertawa terpingkal pingkal. Wajah ku yang mulai memerah aku tutupi dengan kedua tanganku.
"Sepertinya kau harus lebih sering bersama Danial. Brie" Tambah Nora.
"Yah.. Supaya Lebam ku merata diseluruh bagian tubuhku." lanjutku sambil mengkedigkan bahu. Kembali mereka menertawakan ku.. Milya malah sampai tergugu dipelukan Sam.
Tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Makanan dan minuman telah habis tak tersisa. Sam,Josh dan Julian telah mabuk berat. Dibantu Nick dan Luca mereka ditempatkan Di kamar Villa. Milya dan Greta menyusul Mereka kekamar Masing masing yang telah aku persiapkan. Sementara aku membereskan Meja yang telah berantakan dan dipenuhi sampah bekas makanan. Luca dan Nora membantuku sedang Nick berada Didapur untuk mencuci piring kotor.
"Apa tidak apa membiarkan Nick mencuci" Nora berbisik padaku.
"Tak usah Khawatir. Dia memang anak yang Baik. Dia juga rajin. Kalau saja Kita meminta nya membereskan semua aku yakin dia akan menyetujui tanpa berpikir."
"Oh benarkah. Sepertinya ada orang lain yang menyerupaimu Kak." Nora melirik Luca dengan senyuman nakal.
"Pria bertanggung jawab memang harus seperti itu. Mengagungkan Wanita."
"Mengagungkan wanita. Sampai harus membayar seluruh hutang nya. Atau membereskan semua kekacauan yang dibuatnya. oh ayolah kak. tak bisa kah kau mencari wanita lain." Tampaknya pembicaraan Nora dan Luca sudah bukan lagi tentang Nick.
"Semua ada alasan nya little bunny. Ada hal yang harus aku berikan dengan royal. sebelum meminta mengembalikan dengan Bunga yang sangat besar."
__ADS_1
"Ah entahlah. Aku harap kakak memutuskan pertunangan dengan wanita ****** itu."
"Stop. Bisa kalian selesaikan pertengkaran ini di tempat kalian saja. Aku merasa terbebani." Ujarku menyetop perdebatan mereka.
"Maafkan Aku brie. aku tak sadar dengan kondisi ini."
Pekerjaan telah selesai. Nick pun datang dari arah dapur sepertinya pekerjaan nya pun telah selesai.
"Brie. Aku tidur dikamarmu yah." Nick bertanya sambil terduduk diayunan besar seberang gazebo.
"Baiklah. Aku akan tidur...."
"Dengan Julian.." Potong Nick yang disambut tatapan Tajam Luca padaku.
"Kau bercanda. Aku sedang tak ingin bersama nya sekarang."
"Jadi. Kau tidur denganku saja.. Aku yakin tak akan berbuat apapun padamu. meski kau bertelanjang didepanku."
"Sialan.. aku akan menginap di Tempat Nora. Bolehkan Teman." Nora tampak berjingkrak senang. Di ikuti tawa Nick dan Luca.
"Tapi aku belum mengantuk brie. jadi aku akan menggangumu dengan banyak cerita."
"Tak masalah. Aku akan mendengarkan semua ocehan mu. Besok adalah hari libur bukan. aku bisa bersantai dengan mu"
"Ah.. kau memang teman sejatiku."
"Aku akan kekamar kalau begitu." Nick pamitan menuju kamar ku untuk istirahat.
Aku pun berjalan menuju tempat Nora diikuti Luca dibelakangku. Sesampainya Dikamar Nora, ternyata Luca mengikuti kami kekamar Nora.
"Apa yang kau lakukan. kenapa kau disini"
"Tentu saja menjaga adikku"
"What. tapi aku disini. Nora akan tidur bersama ku. apa lagi yang kau khawatirkan."
"Maaf tapi penjaga Nora sedang berada agak jauh dengan tugas lain. jadi aku akan menemani nya. tenang saja aku akan tidur disofa."
"Oh my. Kenapa aku sangat iri pada Nora. " Bathinku. Jangankan Perhatian seperti itu kakakku mungkin akan segera mengusirku bila aku pulang sebentar saja. Bisa jadi mengusirku kembali ketika baru mendarat dari pesawat.
Nora telah selesai dengan semua rutinitas sebelum tidurnya. Dan aku telah tidur tengkurap sambil membaca majalah fashion yang berada di Nakas Nora.
"Kau sangat tertarik pada Fashion?"
__ADS_1
"Terpaksa. kakakku mempunyai bisnis dibidang itu. Aku harus mempelajari semua yang berkaitan dengan bisnis kakakku."
"Oh. Tapi bila Fashion tak akan menyita begitu banyak otak pintar mu bukan."
"Apa maksudmu. Kakakku adalah salah satu jenis manusia tanpa rasa puas. dia bekerja terlalu keras. Fashion,Otomotip,perangkat pintar, Bursa saham, Pariwisata, penerbangan, Mall, Dan banyak lagi. Hah aku saja bingung untuk apa semua uang itu. Mungkin untuk wanita ****** itu yang selalu membuat onar dan menghabiskan begitu banyak uang"
"Kenapa kau sangat membencinya. Dia tunangan kakakmu bukan berarti dia Adalah calon kakak iparmu"
"Aku berharap. Dia putus. Dia tak pernah bersikap baik padaku. Aku tau aku sangat tidak menyenangkan. Wajahku yang oriental sering kali membuatku dibully. termasuk dia padaku."
"Jangan Khawatir. Tak akan ada yang membully mu lagi. Aku akan menghajar mereka. Kau punya aku . tak akan ku biarkan seorang pun menghina atau menyakitimu."
"Kalau ada yang telah menyakitiku. amat sangat dalam. apa kau akan membalaskan sakitku."
"Tenti saja. Akan ku bunuh dia."
"Bagaimana bila ketika kau membalas itu. Dia lebih kuat darimu." Potong Luca tiba tiba.
"Aku akan menghajarnya sampai dimana diantara kita ada yang mati." Mata ku nyalang berpikir bahwa saja ada orang yang akan menyakiti Nora.
"Kakak. belum tidur.."
"Apa kau siap bercerita padanya Bunny. Apa dia sangat kau percayai."
"Tentu saja. Jadi bisa kakak keluar. aku akan menceritakan semua kejadian yang menimpaku pada Brie." Sorot mata Luca seperti memendam rasa perih yang teramat dalam mendengar Perkataan Nora. Dia menatap ku dengan tatapan yang hangat yang mebuat hatiku kembali berdetak tak karuan.
"Terima kasih bunny. Telah lebih kuat. Dan brieaya apapun yang kau inginkan aku janji pasti akan aku penuhi. Aku janji. "
"Apa yang kau bicarakan. kenapa harus memenuhi keinginanku. keluar saja sekarang. aku ingin mendengar cerita sahabatku."
Luca menghampiri Nora dan mengecup kening nya sambil mengelus lembut rambut panjang Nora. Dan berlalu keluar kamar meninggalkan ku dengan Nora.
"Dari mana aku mulai.. Dari masa Kuliah.. atau dari awal aku mengenal ******** itu."
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
To be continued