
Author Pov
Matahari mulai merambat naik perlahan. Suara burung dan gemuruh air terjun terdengar lebih jelas dipagi hari yang dingin ini. Dikamar tampak Brieaya masih tertidur lelap sedangkan pemilik Rumah sudah berada diluar untuk menikmati pagi.
"Boss. Apa yang kau lakukan pagi pagi tanpa memanggilku"
"Shadow. Aku berolahraga apa lagi"
"Lain kali panggil aku.."
"Lain kali aku akan bersama wanita. Untuk apa berlari bersama mu. Sudahlah aku harus kembali, melihat seseorang yang sedang bermimpi"
"Bereskan dahulu hal yang akan menggangu sebelum mengejar hal istimewa itu boss"
"Yeah.. Itu berarti kalian semua harus bekerja lebih keras. karena tak ada satu pun laporan masuk hari kemarin.. " Ujar Luca dambil meninggalkan pria Tinggi tersebut.
Luca kembali ke kamar membersihkan Diri dan kembali masuk kebawah selimut yang sama dengan Brieaya. Luca memeluk lembut tubuh Brie. Dan menghadapkan Tubuh kecil brie kejadapan nya. Mengecup kening Brie dan memejamkan matanya. Luca akhirnya kembali terlelap hingga terbangun ketika tepukan kecil dibahunya membangunkannya dari tidur lelap.
"Kak. Bangun..." Nora telah berjobgkok disamping ranjang Luca sambil menatap Heran kakak nya yang tertidur lelap sambil memeluk Brieaya.
"Alexander park.. Wake up.. Please.. Open your eyes.. Alex.." Suara dan tepukan Nora akhirnya berhasil Luca membuka Mata dan melihat ke arah Nora.
"Bunny ada apa.. Apa ada masalah?" Luca belum juga terbangun karena tertahan tubuh kecil Brie yang memeluk erat Luca sehingga membuat Luca tek berani bergerak.
"Bisa jelaskan pemandangan ini.. Sejak kapan Kakak bisa tertidur disamping Wanita.. Ouhh.. itu tidak penting.. Teman teman nya mencari Brie mereka akan pamit pulang.. "
"Apa kau akan membangunkan nya.. aku tak tega bunny.." Luca memasang wajah memelas.
"Aku pun sama. Bagaimana ini.." Brieaya akhirnya memperlihatkan gerakan kecil dan mulai terbangun dari tidur lelapnya. Yang selama ini tak pernah Dia rasakan....
"Haii.. Sweety Good Morning.. Tidurmu nyenyak.." Sapa Luca lembut didepan Wajah Brieaya.
"Morning.. eum sangat nyenyak.." Brieaya menjawab pelan tapi sepersekian detik Brieaya tersentak menyadari suara yang disampingnya bukanlah suara Nora.
Sambil membuka mata dan memandang Luca dengan wajah terkejutnya.
"Luca.. Kau sedang apa disini.." Tatapan Mata brie kini mengedar kesekeliling ruangan. Dan mata nya terpaku pada sosok kecil disamping ranjang yang berusaha menyembunyikan diri disambing tubuh Luca.
"Nora.." Panggilnya, Dan muncullah wajah ceria Nora yang menyembunyikan rasa bersalahnya.
"Kau tertidur dikamarku Sweety. Dan bangunlah. Teman temanmu mencarimu. Aku tak bisa bangun bila kau belum juga turun dari ranjang." Luca tersenyum hangat dihadapan Brieaya.
"Why.. Ahhh" Brieaya baru tersadar dia masih memeluk tubuh Luca dengan sangat erat.
" I am sorry " Brieaya melepas pelukan nya dan segera memasuki kamar mandi. Menghindari malu terlihat adik kakak dihadapannya.
"Brie. Teman temanmu ingin berpamitan. Dan Julian Dari tadi mencarimu. jadi aku tunggu di Depan ok" Teriak Nora diambang pintu kamar mandi.
"Ok.." Jawab Brieaya
"Ayo kak. cuci muka mu dikamarku saja. Tamapak nya kau sudah mandi." Nora menuntun tangan Luca menuju kamarnya membantu luca berbersih dan akhirnya keluar.
"Kakak tadi lari pagi"
"Yah. Hanya sebentar"
"Kenapa tak mengajakku" Langkah kaki Luca terhenti seketika. Nora telah kembali, Anak yang ceria dan suka keramaian telah kembali. Luca menatap wajah Nora dengan berseri memeluk tubuh kecil adiknya.
__ADS_1
"Thank you sister. I love you little bunny. Oh my God. Thank you very much".Semua kata terima kasih yang ditujukan pada kebahagiannya melihat perkembangan Nora menuju sehat kembali.
"Sudah kak. aku tak bisa bernapas. lepas." Luca melepaskan pelukan nya dan kembali mengikuti langkah kaki Nora. Sambil berjalan Nora mengajukan pertanyaan.
"Wanita istimewa yang membuatmu menambah kecepatan dalam bekerja. Apa dia Sahabatku.." Tanya Nora membuat senyum manis terkembang diwajah Luca.
"Bagaimana dengan Gabby.. Dan dia mempunyai Julian."
"Gabby.. Hanya beberapa waktu lagi.. Julian. Aku kira dia tak menyadari hati wanita nya telah pergi. Yang dia rengkuh adalah raga sahabatnya yang masih menghormatinya karena bantuannya dan rasa terimakasih"
"Terlalu percaya Diri.Tapi Aku doakan semoga kakak bisa bersama Brie."
Sesampainya Dihalaman depan Tampak Nick dan Sam berjalan mendekat ke arah Nora dan Luca.
"Alex. Aku hendak menemuimu. Bagus sekali kau keluar dari villa." Sam menyapa lebih dulu. Luca hanya tersenyum. mereka akhirnya duduk dibangku samping Villa. Nora duduk di ayunan ditemani Nick sedang Luca mengobrol bersama Sam. sambil menunggu Brieaya keluar.
"Apa Brie tidur denganmu."
"Ahh.. Itu.. yah dia bersama ku" Nick tampak melihat sedikit wajah bingung Nora. Tapi tak berniat bertanya lebih jauh.
"Syukurlah. kalau dia bersamamu. Aku hanya tak ingin dia bersama Julian tadi malam. " Nick mengutarakan isi hati nya dengan jujur.
"why. Are you love his. Bukan kah kau sahabatnya."
"What the ****.." Nick terdiam sejenak merasa terlalu kasar. " Bukan maafkan aku.. Maksud ku bukan karena aku menyukai Brie tapi karena aku menyayangi Brie seperti adikku sendiri. Dia wanita yang ingin ku jaga. bukan yang ingin ku cintai. kau pasti tau maksudku. karena kau memiliki kakak laki laki." Nick memandang Wajah Nora cemas. Begitupun dengan Dua pria dihadapan Nick yang memandang tajam bagai hunusan pedang.
"Hahahaa.. Its ok. kau sangat Lucu. Brieaya memang wanita hebat. aku tau semua orang akan menyayanginya. Maaf karena mencurigai perasaanmu. Tapi kenapa harus sebegitu marah Nick. Tak akan ada yang marah Atau salah paham." Ujar Nora sambil terus terkekeh.
"Ah itu. hanya.. " Nick tak dapat melanjutkan ucapannya karena bersitatap dengan mata Luca yang sangat menakutkan.
"Hai.. Kalian disini.." Brie telah sampai disamping mereka. Merasa ada aura yang dingin dan mencekam dari dua orang pria yang sedang saling tatap. Brie memposisikan Wajahnya dihadapan Luca yang tampak siap berperang.
"Brie.. jangan menggodaku.." Sambil menyandarkan Punggungnya disandaran Kursi kayu dan melipat tangan nya. Nora melihat hal yang luar biasa lagi pagi ini. Amarah Alex yang sangat sulit padam kini bisa mencair dalam hitungan Detik.
"Oh tuhan. Kau telah mendengar doa ku. akhirnya aku menemukan wanita pilihanku." Bisik Nora pelan. tapi tak luput dari pendengaran Nick. Kini Nick memperhatikan interaksi dari Luca dan Brie. Sangat hangat dan menyenangkan.
"Baiklah. mana yang lain?." Tanya Brieaya kemudian.
"Yang lain itu tak termasuk aku Honey." Julian datang dari arah depan Villa bersama yang lain.
"Kau datang. "
"Yah setelah hampir satu jam menunggu. Kau kemana saja Honey. maaf tadi malam aku mabuk berat " Julian Memeluk Brie dan mengecup bibir Brie.
"Stop it.." Brie menjauh dari Julian. Merasa kurang nyaman karena perlakuan julian.
"Ada apa dengan mu Honey. wajahmu tampak sangat buruk" Josh menyelidik dengan seksama.
"Hanya menonton beberapa Film Sedih tadi malam. jadi aku menangis sangat keras " Brieaya berbohong.
"Oh little girl. Jangan membuat kakakmu ini khawatir." Josh duduk disamping Sam diikuti Greta yang duduk dipangkuan nya.
"Kenapa kau duduk disini" Tanya Josh.
"Aku takut kau memangku adikmu itu" jawab Greta sambil tertawa. Diikuti dengan tawa renyah lain.
"Honey. Kau libur hari ini. aku ingin mengajak mu kencan." Ujar Julian. Nora Dan Nick berpandangan dan kini beralih melihat ekspresi Luca. yang tampak sangat Datar.
__ADS_1
"Kakak mu. mempunyai wajah pengusaha Sukses. Dapat menahan amarah dengan menampilkan wajah datarnya" Bisik Nick ditelinga Nora.
"Kau.." Nora tersentak kaget. Betapa sensitif nya Nick hingga dapat mencerna keadaan dengan sangat baik walau yang lain akaj sangat susah menebak wajah cemburu Luca. Nora memandang Nick dengan seksama berharap dia hanya menebak. tapi tidak senyumana nya menjelaskan segalanya.
"Baiklah. Karena aku mempunyai acara lain sepertinya aku akan berangkat sekarang." Greta berdiri di ikuti Josh dan yang lain nya.
Ketika semua berjalan menuju parkiran Mobil. Tampak Danial melambaikan tangan ke arah Brieaya.
"Danial.. Ada apa" Brie berlari kecil menghampiri Danial.
"Kau akan ke Bern. Roti ku. jangan lupa. kalau kau kesana Rotiku." Ucapnya sambil berlalu.
"Sialan.." Brie menendang angin diikuti tawa keras Nora dibelakang.
"Kenapa mereka selalu bertingkah konyol" Nora masih terus tertawa. Josh dan yang lain masuk ke Mobil dan berpamitan sedangkan Jylian masih diberdiri mematung. Menunggu jawaban Brie untuk pergi berkencan.
"Julian.. kau belum berangkat." Tanya Brieaya Heran.
"Honey.. aku mengajakmu kencan kau lupa" Julian terlihat sangat kecewa. tapi dia tahu,harus lebih berusaha agar Brieaya dapat kembali seperti dulu. Sebelum pengkhianatan nya terjadi.
"Aku tak bisa pergi Julian. Ada beberapa hal yang harus aku kerjakan dan bereskan Minggu depan aku janji"
"Ok baiklah. aku pulang honey. See next week. Love you" Julian merangkul pinggang Brieaya dan ******* bibir brie sebelum akhirnya dia meninggalkan Lautherbrunenn.
*****
"Dimana Dia sekarang. Jawab aku" Gabby tampak marah marah karena tak menemukan tunangan nya dimana pun.
"Sial dimana dia sekarang." Teriaknya lagi.
"Miss. Bagaimana dengan urusan ini. kita harus segera membayarnya kalau tidak mereka akan datang pada ayah anda."
"Brengsek. Ayo temui mereka. " Gabby kembali berulah hingga berjudi membuat hutang menumpuk dan harus segera dilunasi. tapi penjamin nya telah hilang entah kemana.
Gabby mendatangi tempat berjudi langganannya.
"Dimana atasan mu." Ujar Gabby. prnfawal itu mengantarnya kelantai atas.
"Oh cantik. akhirnya kau datang. mana uangnya. Kau berniat melunasi hutang mu bukan. atau aku adukan pada ayahmu."
"Beri aku waktu. Tunangan ku sedang Bekerja Di luar."
"No. Harus hari ini. Tapi bila kau mau menerima tawaranku. Melayani tamu ku. Aku bisa saja melunaskan hutangmu.
"Sialan." Gabby berpikir. Tak ada ruginya memang bila dia melayani saja Tamu yang dimaksud ketua ini. Lagi pula hasratnya memang telah beberapa minggu tak terpuaskan walau telah berhubungan badan dengan pria bayaran nya.
"Baiklah" Gabby menerima tawaran dari ketua itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
To be Continued.