
Pagi ini diToko Kue Ms Lea, Jam menunjukan pukul 9 lebih sepuluh menit. Ms Lea Tampak bersiap siap hendak menuju ke Zurich.
"Brie, apa kamu sakit?"
"Tidak Ms Lea"
"Kamu tampak sedikit pucat"
"Ah ini mungkin karena aku tidak make up" Tawa ku sedikit membantu untuk menghentikan pertanyaan lain dari Ms Lea
Hari ini Aku kembali membantu Ms Lea Menjaga Toko nya. Yeah dia masih harus mengurus masalah anak nya untuk beberapa minggu kedepan. Keuntungan untukku sebenarnya. Bayaranku disini cukup besar karena toko ini sangat ramai pembeli. Tapi hari ini aku sangat tak bersemangat.
Dan kalian tahu penyebabnya bukan. Benar karena kejadian terakhir di Club tentu saja.
Flashback on
"Ok. Sekarang jelaskan apa yang terjadi. Siapa dia tadi Julian"
Aku duduk diujung tempat tidur dan menatap tajam Julian Yang duduk dikursi belajarku.
"Dia hanya teman brie. Ayolah Honey jangan marah dengan hal ini"
"I know you are lying, Julian"
"No, I Not. Dia hanya teman yang aku temui beberapa minggu lalu"
"Apa maksud mu. Beberapa minggu lalu. kau bisa bertemu dengan nya. ketika kau tak pernah bisa menyempatkan untuk sekedar datang memperlihatkan wajahmu padaku. Tapi.. Apa? Kau bertemu dengan nya"
"Itu tidak sengaja. Aku bertemu dengan nya ketika bersama teman ku yang lain brie. please believe me"
"Entah lah. beri aku waktu jangan menemuiku aku akan sangat marah padamu. Biar aku cari kebenaran dan jawaban untuk kondisi ini"
"Please Honey. Believe me"
Julian tampak putus asa menjelaskan nya padaku. Penjelasan nya sungguh membuatku ragu.
Aku ingin sekali percaya padanya, tapi sikap nya sangat terlihat bahwa dia menyembunyikan sesuatu.
Aku sudah bersama Julian selama 4 tahun dan menjalin hubungan 3 tahun belakangan. Aku sangat tahu gelagat dia ketika berbohong.
Aku takut akan pengkhianatan. Aku takut kehilangan. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa pada kondisi ini. Aku hanya minta agar Dia jangan Dulu menemuiku.
flashback off
cringgg.. cringg
Lonceng diatas pintu toko bergetar dan mengeluarkan bunyi khas nya. Aku tersentak dalam lamunanku. Melihat ke arah pintu yang telah terbuka dengan pelan.
Oh.. Nenek yang waktu itu. Apa dia kembali membeli zofp, Karena hanya hanya roti zofp yang selalu ia beli setiap kali ia datang.
"Hai. Oma " Aku tersenyum riang seketika "Guten Morge. Pagi sekali oma datang hari ini"
Nenek ini tampak sangat menyenang kan untuku entah karena apa. Tiap kali dia datang dia selalu tersenyum manis, Suaranya membuatku merasa bersemangat.
"Seperti biasa frau. Tapi bisa kita berbincang sebentar. Rasanya oma sangat ingin berbincang denganmu"
"Benotigen sie einen freund mit dem sie sprechen konnen"
(Apa anda membutuhkan teman untuk berbicara)
"Yeah. Apa kau mau mendengar ceritaku"
"Tentu saja oma. Tapi sebelum itu apa boleh aku tahu siapa nama oma?"
"stelle meinen namen vor Lara. Lara Alther. Maaf aku lupa memberi tahu mu frau. Dan kau nona"
"Brieaya khara abram Oma. panggil saja aku brie atau khara. Apa pun yang Oma suka"
"Namamu cantik. Tapi sepetinya bukan nama umum disini. Dari mana asal mu?"
"Aku berasal dari Asia. oma aku mempunyai darah campuran. Tapi aku lahir di Amerika, Dan besar di tempat yang berbeda sebelum sekarang disini. Aku paling lama tinggal di indonesia dan Canada."
"Oh. Berapa usia mu"
"Sekarang 25 tahun oma. Dan sebentar lagi 26 tahun"
__ADS_1
"Benarkah. aku kira kau baru berusia 18 tahun khara. Dan bisa kau panggil aku dengan sebutan Lara Saja. agar terdengar lebih akrab"
"Ms Lara. eum No. Oma Saja kurasa" Ms Lara terkekeh mendengar penolakanku.
Aku terkejut Ms Lara memanggilku khara. Tapi aku senang dengan panggilan apa pun. Hanya saja pelapalan nya terdengar lucu olehku.
"Banyak yang bilang seperti itu Oma"
Topik perbincangan kami tak jauh dari hobby. tempat pavorite dan Makanan kesukaan. Nenek banyak menceritakan banyak hal. Tentang masa muda dan anak anaknya. Ternyata dia sangat mencintai anak anaknya. Begitu pun Mereka. Oma sangat bahagia berbicara tentang keluarganya.
Perbincangan panjang kami terhenti karena beberapa pembeli lain yang datang ke toko Ms Lea. Aku menyiapkan Pesanan Oma terlebih dahulu Karena dia pamit pulang dan berjanji akan datang lagi lebih Pagi besok untuk menemaniku bercerita.
****
"*Guten abend brie"
"Guten abend*. Kau tampak lebih cantik hari ini."
Mily berdandan sangat cantik malam ini diluar kebiasaan nya. Aku senang melihatnya berdandan. Dia tampak memakai Shif Dress navy dengan luaran Coat warna senada dipadu dengan boot tinggi.
"Yeah aku datang dari kencanku Brie"
"Oh sungguh. Suykurlah Siapa lelaki beruntung itu"
"Brie. Kamu berlebihan akulah yang beruntung mendapatkan nya"
Wajah Mily tampak merona merah. Aku hanya tertawa melihatnya.
"Tak ingin memberi tahuku"
"Sepertinya aku akan memberi tahumu nanti Brie. Aku akan mengajak mu bertemu dengan nya"
"Sungguh. Baiklah akan aku tunggu"
Kami bergegas berganti seragam. Menjalani rutinitas sebagai pelayan Club. Mily bertugas mengantar ke ruang Vvip memang Sejak awal dia bekerja. Tapi hari ini Mr Samuel meminta ku membantu Milya ke Ruang VVip.
"Mily. Apa tamu disana tidak tampak menyerankan dengan body guard sebangak itu"
"No. Brie mereka teman dekat Sam. Tapi di level yang berbeda. Tapi bukan nya kamu pernah masuk kesana"
"oh really. Siapa?"
"Aku tak tahu nama nya hhahaa"
Mily hanya melongo mendengarku tertawa dan memukul kencang tangan kiriku. aku terus tertawa sambil memegangi tanganku yang sedikit sakit.
"Sudahlah. Ayo kita antar ke atas minuman nya sudah siap"
Sembari berjalan aku sekelebat melihat sosok Julian berjalan ke ujung lorong. tapi ku abaikan saja. aku belum siap bertemu dengab nya rasanya sangat takut.
"Kau masuk duluan Brie"
"Ok. Apa aku akan diperiksa lagi" Aku menatap lekat pengawal yang dulu berada diposisi ini. "Dan sekarang aku bersama Milya. Dia tidak sedang berurusan dengan toilet kurasa"
Pengawal itu tersenyum sedangkan Milya terlihat bingung dengan kerutan di keningnya. Aku hanya tersenyum sekilas padanya sembari mengedipkan mata.
"Masuk lah" Suara Samuel terdengar dari dalam.
Aku menaruh baki yang berisi minuman yang ku bawa di atas meja kayu bulat besar itu. Setelah semua tersusun rapi aku hendak berlalu ketika suara seksi yang aku kenal memanggil entah siapa.
"Hei. Bisa kah kau tidak pergi?" Tanya nya.
Aku hanya melihat ke arah suara. Dan itu benar benar suara seksi yang ku kenal. Pria yang ku temui beberapa hari lalu.
"Oh. Hai .padaku kah"
"Yah siapa lagi kurasa. tentu saja kau Sweet girl"
"Terima kasih tapi aku sedang bekerja."
"Duduk lah Brie. Kau boleh duduk teman ku memintamu duduk bukan" Samuel tersenyum padaku dan mengisyaratkan agar aku duduk didekak pria itu.
"Tidak terima kasih. Aku akan kembali bekerja bersama Mily"
"Mily juga akan duduk disini tentu saja brie. sit beside me baby" Perintah Sam pada Milya membuat ku hampir mengeluarkan bola mataku dan diterima dengan tawa renyah Sam dan Milya.
__ADS_1
"He is my boy friend . Brie kenalkan" Mily terkekeh melihat keterkejutan ku.
"Ah kalian menyebalkan" Aku terduduk disamping pria yang tadi memintaku tetap tinggal.
"Jadi nama mu Brie"
"Ya. Brieaya Semua orang memanggilku Brie Lalu siapa namamu Tuan"
"Luca Park. Panggil saja Luca"
Semua mata memandang ke arah ku dengan kesunyian pandangan mereka tak bisa aku artikan. Aku kembali mentap pria yang bernama Luca apa ada yang salah.
"Berhenti menatap"
Luca Menyadari kesunyian disekitarnya dan mencairkan dengan perkataan nya yang lembut.
"No. I am sorry. " Samuel memincingkan matanya pada Luca sambil sedikit mengangkat ujung bibirnya. membuatku sedikit tidak nyaman rasanya disini.
*Samuel POV.
Ada apa dengan nya. memintaku memanggil Brie bekerja dan memintany duduk menemani nya. Dan apa! Luca Park. Apa di sudah Gila. Alex apa dia sudah gila*.
Kami berbincang dengan nyaman aku merasa dia memang teman yang enak diajak berbicara. Dan tanpa sadar aku Berbicara tentang keluh kesahku sedikit membuatku terkejut. Karena aku tak mudah percaya dengan orang asing yang baru saja ku kenal.
"Apa kau akan percaya padanya"
"Entahlah. Kita lihat saja nanti."
"Tampaknya kau sangat menyukainya"
"Yeah. Kau tahu tuan aku seorang pendatang diwilayah yang tidak aku kenal dengan bahasa yang berbeda. Kemampuan bahasaku tak begitu baik di awal. Dan dia adalah salah satu yang ada disampingku dari awal aku berjuang bertahan disini." Luca hanya memandangku lurus dengan senyum nya yang bisa merontokan gunung es di antartika.
"Hmm. Kurasa dia akan sangat rugi kalau benar dia melukaimu dengan pengkhianatan."
"Mungkin aku yang kurang baik untuk nya."
Aku tersadar setelah sekian lama berbincang Milya telah hilang dari ruangan. Disana kini hanya tinggal beberapa teman Samuel yang tersisa.
"Oh kemana mereka Tuan"
"Siapa"
"Samuel dan Milya"
"Mungkin ke kamar"
"Haishh. Menyebalkan. Kalau begitu aku akan kembali bekerja."
"Bukan nya waktu bekerja mu telah samuel tetapkan untuk menemaniku. Bagaimana kalau kita mengemudi saja. Mencari udara segar"
Aku hanya mengangguk ajakan Luca tampa curiga atau pun terbebani. Aku berjalan keluar Club bersama Luca dan Menuju mobil yang terparkir di ujung tempat parkir Club.
"Julian.."
Mata ku Nanar melihat Julian Sedang bersama Elena. Mereka tampak berciuman di bawah pohon dekat Parkir mobil Luca.
"Brie. Honey. No. No. Do not take it wrong!"
Julian mendorong Elena dan berusaha menghampiriku. Aku terburu masuk Ke mobil luca. Dan menutup pintu. Mataku terasa panas. Sesak sekali dada ini. Apa sesakit ini patah hati.
🍓
🍓
🍓
🍓
🍓
🍓
🍓
To be Continue
__ADS_1