
Didalam Kamar Ms. Lara Yang menerima panggilan telepon terlihat terkejut.
"Apa..." Ms Lara Berjalan tergesa menuju ke luar dan berpapasan dengan Ms. Nana.
"Mom.. Ada apa.." Tanya nya Ms Nana Sambil berjalan mengikuti Mr Lara.
Diluar ternyata Brieaya dan Luca baru saja sampai didepan Villa Ms Lara. Brieaya turun dari mobil menyongsong kehadiran Ms.Lara.
"Oma..." Brieaya Berlari kecil menyongsong kehadiran wanita tua berparas lembut yang berjalan tergesa menghampirinya.
"Ouh.. Khara. Cucuku Kau baik baik saja" Ujarnya seraya menerima pelukan lembut dari brieaya.
"Tentu saja. Aku baik baik saja oma. maaf membuatmu mengkhawatirkanku." Brieaya berbicara dengan lembut sambil terus memeluk tubuh tua dihadapannya.
"Masuk lah. Kita bicara dibelakang"
"Baiklah.."
Mereka berjalam sambil beegandengan. Tapi satu orang yang nampak kesal telah dilupakan.
"Baik lah. Aku pergi" Katanya sedikit meninggikan suara. Kedua wanita yang berjalan terhenti dan berbalik.
"Oh tuhan. Alex maaf. Masuklah Jangan kesal seperti itu" Oma tertawa melihat luca masih mengkerutkan wajahnya sambil berdiri disamping mobil.
"Iam sorry. Luca. ikutlah masuk" Brieaya melepas pegangannya dan berjalan menghampiri Luca.
"Kau melupakan ku. Ah sepertinya aku hanya terasa ketika kita hanya berdua saja. sepertinya aku harus lebih bekerja keras. Agar kau tak melupakanku ketika bersama yang lain."
"Apa maksudmu. masuklah. Aku hanya merindukan oma. ayo masuk".
***
Di Villa sebelah Nora tampak menyandar dikursi sambil sesekali membulak balikan halaman majalah yang dipegangnya, tanpa berniat membacanya.
"Ah. Aku rindu Brie."
"Sedang apa kau." Ujar Danial membuat Nora sedikit terkejut.
"Bisakah kau datang diiringi suara. kenapa senyap sekali."
"Kau saja yang tidak memperhatikan sekitar, Belajarlah sedikit sensitif nona. demi keselamatan mu."
"Ada banyak mata dan telinga yang lebih sensitif disekelilingku."
"Jangan mengandalkan orang lain nona. ketika semua orang terpedaya hanya kau satu satunya yang bisa membaca situasi dihadapanmu."
"Apa maksudmu.." Cebik Nora kesal . " Apa karena belum mendapat jatah Roti." lanjutnya sambil tertawa
Danial terdiam melihat tawa Nora yang hampir tak bisa terlihat semenjak dia melihatnya.
"Bisa juga Nona tertawa. aku kira wajahmu telah menerima perawatan Botox hingga terus terlihat datar.
"F*ck you." Mata Nora memincing pura pura marah terhadap Danial.
"Ok. Colm down. Just kidding girl." Danial tertawa sambil terus berlalu meninggalkan Nora.
"Hai.. Nona.. Pembawa roti telah pulang. Bila kau ingin tahu.." Teriaknya diliar kamar.
"Hiss.. Kenapa tak bicara dari awal. Awas kau tidak akan aku beri jatah Roti."
Nora melempar Majalah yang dipegangnya kesembarang arah. Dan berlari menuju Villa Ms Lara. Dia masuk dan berteriak sambil memanggil Nama Brieaya.
"Brie.. Brieaya.. "......." Brie brieaya...."
"Ouh.. Aku kira siapa. Nora Kau memcari Brieaya"
"Ya Ms Nana.. Dimana dia. Kemarin dia bilang hanya akan kencan. tapi malah tidak pulang."
"Haha.. Dia bersama Mom dan Alex dibelakang."
__ADS_1
"Alex. Dia disini juga.. Why.."
"Iya Dia disini.. Tapi aku kurang tahu alasannya Nora"
"Baiklah terima kasih.. aku kebelakang. maaf mengganggumu Ms Nana."
"No. It's okay."
Nora melanjutkan pencariannya ke belakang Villa. Dia bisa melihat tiga orang yang sedang berbincang disana. tentu saja salah satunya teman yang dicarinya.
"I miss you" Teriak Nora sambil berlari menghampiri mereka.
"Miss you too. " Luca berdiri dan merentangkan tangan nya menanti adik kesayangannya. Hingga melewati nya dan berakhir memeluk Brieaya.
"Ah. Nora. Miss you too. Kau baik baik saja. Ada apa" Tanya Brieaya.
"Hanya merindukanmu. And you.. kenapa kau berdiri disana."
"Nora...." Luca tampak merenggut melihat adiknya.
Setelah tersadar semua tertawa. Oma terlihat terpingkal pingkal yang sedari awal melihat Luca yang menanti pelukan adik tersayangnya.
"Apa kakak berharap aku memelukmu. Tapi baru kemarin aku bertemu bukan."
"Dan apa kau telah lama tak berjumpa dengan brie. apa setahun sebulan seminggu. Aku rasa sama sama satu hari little bunny.." Rengeknya.
"Kau cemburu aku merebut adikmu"
"Tentu tidak. Terima kasih"
"Untuk..."
"Menjadi orang yang dirindukan adikku selain aku.."
Brieaya hanya tersenyum.
"Dirindukan olehku.. Hanya aku.. Kau yakin kak.. "
"Thank you.. " Brie tetap tersenyum.
"Tentu saja. Oma saja sangat merindukanmu. Jadi jangan lagi bersedih oleh satu hal sampah yang tertumpah.. semua akan membantumu membersihkannya hingga bersih." ujar Ms Lara sambil menatap lembut pada Brieaya.
"Ouh.. Oma apa jadinya diriku. Bila tak bertemu denganmu. Thank-you.. Oma.. Ilove you" Brieaya memeluk tubuh tua Ms Lara dengan masih diteempeli Nora disampingnya.
"Baiklah karena Nora merindukan mu. Oma masuk dahulu.. Dan Alex.. Ikut denganku.." Mata Oma menatap penuh arti pada Luca.
"Baik.. Bisakah kalian berbincang di villa Nora saja. Udara dingin di luar bunny.. Brie bisa kau bawa dia ke villa nya."
"Tentu saja. Jangan khawatir. lanjutkan pekerjaanmu. Dan Luca.... Terima kasih"
Brieaya dan Nora melanjutkan obrolan di Villa. Dan Ms lara berada diruang kerjanya bersama Alex.
"Kau mengetahuinya bukan. Apa menurutmu masih aman alex."
"Yah kemarin aku telah membereskan tikus kecil yang mengikutiku. Masih aman saja menurutku. aku harap. terima kasih oma."
"Kenapa berterima kasih. Kau cucuku sudah pasti aku akan menjaga mu. Nora dan Khara"
"Yah aku sedikit tenang memilikimu Oma."
"Bagaimana dengan Khara.. "
"Brie.. kenapa dengannya.."
"Jangan pura pura bodoh Alex.."
"Apa maksud oma.."
"Aku tahu kau tertarik dengannya.."
__ADS_1
"Ah itu.. tentu saja oma tahu.. yah.. aku akan menariknya agar berada disampingku.."
"Tak akan ku ijinkan.. Samping yang mana maksudmu. Sekarang disampingmu masih ada wanita jal*ng itu alex. Jangan menyakiti hati nya. walaupun kau aku tak akan mengampuninya."
"Dia segera aku bereskan.. semua telah selesai oma. bukti dan alasan kuat telah aku pegang.. Orang tuaku tak akan bisa melarang aku membuangnya sekarang.."
"Aku percaya padamu."
***
Apartemen Sam.
"Aki akan menghubungi brie.. Siapa tahu dia bisa dihubungi sekarang" Ujar Nick
"Kalau tak berhasil hubungi nomor villa nya.. mungkin dia sudah pulang" Sam berbicara sambil menyeduh kopi di minibar.
"Baiklah.."
tut..tut... (..................)
"Belum aktip.. biar ku coba ke nomor kantornya."
tutuuu tutt.....
"Hallo. "
"Ouh.. Hallo.. kann ich mit miss brieaya sprechen"
(Hallo.. Bisa aku bicara dengan Nona Brieaya)
"Darf ich wissen, mit wem its das?"
(Boleh saya tahu dengan siapa ini?)
"Aku Nickolas sahabat dari brieaya, Apa dia berada di villa sekarang"
"Ouh Tuan Nick. Yah Nona Brie ada disini hari ini. Tapi dia sedang tidak Bekerja. Ada yang akan anda sampaikan tuan?"
"Ouh baiklah. Bisa kah saya berpesan agar secepatnya menghubungi sahabatnya. Kami menunggu kabar darinya, ponselnya belum juga aktip"
"Baik.. Akan saya sampaikan.. Ada lagi"
"Tidak, Terima kasih sebelumnya. Dan saya akan menunggu kabar darinya"
Panggilan diakhiri dengan senyuman Nick. Sam,Milya,Greta,Dan Josh tampak menunggu penjelasan Nick.
"Dia telah pulang, Sekarang berada di Villa."
"Ouh.. Syukurlah.." Ujar mereka.
Mereka akhirnya dapat melepas rasa khawatir dengan keadaan Brieaya, Dan sekarang tinggal menanti kabar dari brieaya, Hanya saja Greta nampak tak begitu setuju untuk menunggu.
"Aku akan pergi ke lautherbrunnen sekarang, Anak itu tak akan cepat menghubungi kita" ujar greta
"No. Kita tunggu saja.."balas Nick
"Aku setuju dengan Greta.. Sebaiknya kita kesana" Usul Josh yang memang sedah sangat mengkhawatirkan Adik kecilnya.
"Tapi aku tak bisa kesana, Ada pekerjaan yang harus ku urus." Sela Sam.
"Dan aku juga tak bisa mengambil libur hari ini, Ada event di Club malam ini" Tambah Mily
"Baiklah. Kita Bagi dua saja. Josh dan Greta ke sana menyusulnya, Sam dan mily tunggu saja kabar dari sini" sambung Nickolas sambil berdiri dan mengambil kunci mobil milik Josh.
"Dan kau.."
"Tentu saja mengantar kalian Berdua Gret" Ujar Nicholas sambil beranjak dari apartemen Sam. Diikuti Greta dan Josh. Tawa Nick masih terdengar hingga ambang pintu apartemen sam. membuat semua orang ikut tersenyum dengan tingkahnya.
"Kabari aku secepatnya." Teriak milya.
__ADS_1
Greta hanya membuat tanda ok dengan jarinya tanpa berpaling lagi.