
Hai.. Terima kasih
Untuk teman teman yang mau menyisihkan waktu membaca diantara Ibadah dibulan suci ini.
Selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga kita dapat menjadi manusia yang lebih bermanfaat. dan lebih baik..
Happy Reading.
🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇
Julian POV
"Apa yang aka aku jelaskan pada Brieaya. Oh
tuhan aku sangat takut kehilangan nya"
"Julian Berkata lah jujur pada Brie. Aku rasa dia akan memahami itu."
"Sekarang pun dia sangat marah padaku."
"Coba berbicara padanya. Bila dia memang tidak bisa menerima kesalahanmu apa boleh buat kau harus menerima keputusan nya."
"Oh greta aku memang bodoh"
Keputusan untuk bertemu teman lama berbuah sebuah bencana. Aku yang awalnya hanya ingin sebentar saja rehat dengan hubungan ku dengan brieaya malah tersandung one night love dengan seorang wanita yang dikenalkan oleh kawan lama ku.
Hubunganku dengan brie memang baik baik saja. tapi ketekunan brie dalam belajar maupun bekerja membuatku sangat terintimidasi. aku mencoba memotivasi diriku dengan keras tapi tetap saja aku merasa rendah diri dihadapan nya.
Greta selalu menjelaskan bahwa brie kuat karena dia harus menopang hidupnya sendiri.
Tapi itu malah membuatku lebih merasa seperti pecundang. Brie yang nota bene adalah seorang pelajar dengan latar belakang yang sama sekali tidak aku tahu. Tapi dapat bertahan hidup dengan baik disini. Penghasilan nya pun baik.
Hingga aku memutuskan untuk mencari jati diriku mengumpulkan semangat dan harga diriku. memperbaiki diri agar bisa lebih percaya diri menjadi pacar brie yang luar biasa.
Aku berkumpul dengan teman lamaku. yah dia memang mempunyai reputasi kurang baik. tapi dia mempunyai pekerjaan dan bisnis yang baik sekarang. Aku hanya ingin belajar darinya. Adam hanya berada 2 Bulan di Bern. Jadi ini aku gunakan untuk belajar sekaligus sedikit menjauhi Brie untuk sekedar istirahat.
"Apa yang kau kuasai Julian. Bekerja dengan apa yang kau kuasai itu lebih mengasyikan. Aku hanya dapat membantu mu untuk bekerja dengan ku. tapi tak bisa memberi mu banyak ide"
"Ok. Adam kurasa memang aku hanya akan bekerja padamu saja. Kau akan membuka Bisnis mu disini"
"Yeah. aku akan membuka hotel disini. kalau kau mau aku bisa membuatmu bekerja disana."
"Thank's Adam."
"Aku akan ke Zurich ada pesta dirumah sahabat ku apa kau mau ikut"
"Ouh.. Berapa hari kita disana "
"Seminggu mungkin. Entahlah ini waktu liburku Julian ayo kita bersenang senang"
Aku mengabari Brie supaya dia tidak menelpon atau menggangguku selama seminggu. Dan yah Kalian pasti menyangka dia akan marah dan tidak mengerti. Tidak Brie akan selalu menyetujui apapun yang ku lakukan. dia akan percaya 1000% tanpa sedikit pun keraguan. Begitulah Malaikat ini tercipta dan hadir dihidupku. hingga akhir nya aku mengkhianatinya.
"Hai. Darf ich wissen,wie du heiBt?"
(Boleh aku bertanya siapa namamu. Ganteng)
"Oh hai. Julian Smith panggil saja Julian"
"Elena . Kau bisa memanggilku elena. Apa kau teman dari pemilik pesta"
"No. Aku bersama Adam"
"Oh really. Aku pun teman adam. senang ada yang sama sama kita kenal. Selama seminggu disini rasanya aku tak akan bosan."
Aku bersama nya selama berada di Zurich hingga Pesta besar terakhir yang diadakan di Hotel bintang di Zurich. Yah pesta Luar biasa aku terhanyut dalam pesta , Sayang nya pesta sedikit keluar batas, Selain minuman ****** Ada juga o**t *****. Aku tergoda dengan suasana pesta dan akhir nya melupakan batasan yang aku jaga bersama Elena.
__ADS_1
"Kau tampak seksi" Elena datang dan duduk dipangkuanku. Elena wanita seksi dengan tubuh yang hot dan wajah yang menggoda. Sentuhan nya membuatku bergairah, ditambah pengaruh ****** dan suasana saat itu aku tak bisa tak tergoda.
Hasrat kelaki lakian ku Bergelora. Elena mencium bibirku terlebih dahulu dengan merangkulkan kedua tangannya dipundakku.
Badan nya dia dekat kan hingga merapat ditubuhku. Ah aku sudah tak bisa lagi bertahan. Aku balas ciuman nya dan ku nikmati semua inci tubuhnya.
Aku mengajak Elena kekamar. Disana aku tak bisa lagi menahan gairah yang mengbumbung tinggi dengan godaan dari Elena. Kami bergumul Diranjang dengan Sangat panas. Berjalan ke inti gerakan memompa ku lakukan dengan sangat kasar. Aku sangat ingin melepaskan gairahku ditubuh Seksi Elena.
Hingga akhir pelepasanku. Terbayang Wajah Brieaya yang tersenyum manis dihadapanku. hingga aku melepaskan nya di dalam tubuh elena.
"Oh. F*ck , I don't use co***m"
" Ah Damn it. What now"
"I am sorry"
"Ok. Terserah lah. aku memaafkan mu karena kau sangat baik diranjang. Aku sangat menyukainya." Elena Memeluku dan tertidur.
Yah walau pun aku tak bisa tidur karena mengingat brie yang sekarang mungkin sedang bekerja di club merindukan ku.
Elena masih terus menghubungi ku. Aku tentu saja tidak terlalu senang, Aku takut brie akan tahu pengkhianatan ku. Oh my god. Julian Kamu pecundang
*****
Setelah bertemu di Club. Elena terus saja menghubungiku. Situasiku sangat lelah hari ini. Setelah pulang kerja aku sangat ingin bertemu dengan Brie istirahat dengan memeluk tubuh nya.
Atau hanya sekedar berbincang sambil makan cemilan malam yang ia buat. Tapi apa boleh buat Amarah nya belum juga surut. Aku takut tak bisa menjelaskan dengan baik. dan berakhir dengan pertengkaran yang lebih lagi.
Dalam lamunan aku terhentak oleh suara dering ponsel ku. Di layar tampak nama Elena. Ada apa lagi dia menghunbungiku.
"Hai. Ada apa?"
"Hanya ingin bertemu ini hari terakhirku Di Bern. Apa kau tak ingin bertemu dengan ku. Untuk yang terakhir kalinya."
"Ok. Julian Tapi aku harap kita bisa bertemu. Aku sangat merindukan belaian mu. honey"
"Oh ayolah Elena berhenti berbicara seperti itu. Aku mohon kita hanya melakukan nya satu kali dan itu pun karena pengaruh ******* Jadi aku mohon. aku mempunyai hubungan serius disini"
"Oh ayolah Kita hanya anak muda Julian. Serius bagaimana maksudmu"
"Sudahlah" Aku menutup sambungan telpon dari Elena.
Aku bersiap Untuk berangkat menuju apartment Brie. Untuk menjelaskan hal ini, Aku harap dia akan memaafkanku.
"Brie. Apa kau ada di dalam. bukalah aku ingin kita bicara" Ketukan ku di pintu apartment tak juga disauti dari dalam. Aku tak tahu dia tidak ada atau tak mau membuka pintu.
Ku ambil ponsel dan mencari satu nama Greta. Aku akan bertanya padanya.
"Gret. Brie tak mau membuka kan pintu untuk ku. Adakah Dia didalam Apartmentnya"
"No. Dia bekerja malam ini Julian"
"Tapi ini waktu liburnya"
"Samuel meminta bantuan nya tadi ketika aku menemui brie di toko kue."
"Ok thank's Gret. aku akan kesana dan menyelesaikan masalah ini"
"Ok. Semoga berhasil. Jangan membuat Brie menangis atau akan kupotong ***** mu"
"Oh F*ck you"
Aku sangat kesal dengan greta. Tapi aku sangat ingin bertemu dengan brie. aku menyusul nya ke Club. menunggu dia keluar menyajikan atau mengantar botol minuman.
Ah Brie terlihat berbincang dengan Milya. Dia disana Aku memesan minuman meminta untuk di antar oleh Brie. tapi permintaanku ditolak Ethan bilang Bahwa Brie bertugas mengantar minuman ke Vvip saja untuk malam ini.
__ADS_1
Aku hanya bisa menunggu nya. Terduduk sambil menikmati minuman yang telah aku pesan.
"Bagaimana dengan Brie. Masih tidak kau perbaiki ini"
Josh tiba tiba saja duduk disampingku membuatku terkejut saja.
"Yeah. aku sedang berusaha sekarang, Sedang apa kau disini josh"
"Ada sedikit keperluan. Sekarang aku hendak menjemput Greta. Aku akan pergi berlibur ke Oslo. Nick menghubungi Greta. Dia ingin berjumpa dengan kalian"
"Baik lah. sampaikan salam ku pada Nick. suruh dia cepat pulang. Agar aku dapat tambahan dukungan" Josh menepuk bahu ku lalu berlalu.
Brie Belum terlihat lagi keluar dari lantai atas.
Ketika pundak ku terasa disentuh tangan lembut dari belakang. Separuh hatiku berharap tangan ini milik Brie.
"Elena." Aku sangat terkejut ketika yang melihat Elena bukan nya brie yang ada dibelakangku.
Sebelum keterkejutanku berhenti Elena secepat kilat mendaratkan ciuman dibibirku. Aku segera mendorong elena menjauh.
"Apa yang kau lakukan Elena."
"Why. bukan kah kau datang kemari untuk menemuiku"
"No. aku kemari untuk menemui pacar ku. Brie kerja disini" Mataku bergerak mengelilingi club berharap Brie tidak melihat hal ini.
Ah ini akan menambah amarah brie pastinya.
"Ikut aku" aku menarik tangan elena keluar Club.
"Aku memarkir mobilku diujung sana. kita bicara disana"
Aku hanya mengikuti Elena berharap brie tak melihatku bersama Elena.
"Apa mau mu Elena. Bisa kah cepat katakan padaku"
"Temani aku terakhir kali nya. Aku akan kembali ke California. Disini aku hanya berlibur panjang Julian. Dan besok malam aku akan terbang kembali kesana. Tidak masalah kan. Bukan berarti kau mengkhianati pacarmu"
"Apa maksud mu. dengan tidur bersama mu itu telah mengkhianati brie. Dan sekarang aku ingin menebus kesalahan itu."
"Oh my god. Julian" Elena memicingkan mata nya. Tampak kesal dengan argumen ku.
"Ok. Baiklah semoga kita dapat bertemu lagi" Elena menghampiriku dan memelukku. Aku mulai merasa tidak nyaman kembali dengan tindakan nya. Tidak berhenti disana Elena kembali mengecup bibirku dengan panas.
Ah. Kenapa selalu begini. Otak dan hati ku tak bisa bekerja sama. Ciuman Elena tak bisa aku pungkiri membangkitka gairah yang menggelora. Hingga tampa sadar aku balas ciuman nya. Sedetik sebelum Bencana kembali terulang, Dengan kebodohan ku sendiri.
"Julian"
Deg Suara yang amat sangat aku rindukan. Suara yang amat sangat aku kenal. Brie ini suara Brie. Ku dorong tubuh Elena Mata ku dengan cepat menemukan sosok wanita yang ku cintai berdiri kurang lebih 5 meter disampingku berdiri. Berdiri mematung dengan raut wajah yang tak lagi bisa aku baca.
"Brie..Brie. Honey. No. No. Do not take it wrong" Aku berlari menghampiri nya tapi terlambat. Brie terlanjur marah, dia masuk ke dalam mobil yang aku tak tahu dengan siapa dia pergi.
"Brie. Oh shit." Aku hanya bisa terduduk lemas. Putus asa, Bagaimana lagi aku menjelaskan ini.
🍇
🍇
🍇
🍇
🍇
TBC
__ADS_1