
"Apa kau sangat lapar."
"Tentu saja.. aku lapar. dimana tempat makan siangnya"
"Dikapal. Tunggu kapal. Ayo ikut denganku"
Luca merangkul pinggang Brie menuju ke dermaga kecil tempat speedboat menyandar. Mereka menaikinya dan menuju Yacht ditengah sungai untuk makan siang.
Didalam yacht terlihat beberapa pria dengan setelan mewah berbincang dimeja makan yang telah disediakan. Luca tampak membantu Brie berjalan disampingnya.
"Ada apa. jalan mu terus goyah." Luca tampak khawatir dengan Brieaya.
"Aku tak pernah naik perahu. dan aku takut berada di tengah air besar. disungai dilaut atau dimana pun."
"Oh brie kenapa baru bilang. Maafkan aku. apa sebaiknya kita kembali."
"Tidak. aku rasa aku akan baik baik saja bila bersamamu"
"Kau yakin. Brie, Aku bisa mengantarmu dan merubah tempat makan siang"
"Tidak usah. Ayo teman temanmu sepertinya sedang menunggu" Brie melihat para pria itu memperhatikan nya dengan mata teliti membuat brie tidak nyaman.
"Baiklah tetap dekat denganku. Maafkan aku"
"Tidak perlu meminta maaf Luca." Brie merajuk karena luca terus merasa bersalah.
"Baiklah. ayo kita duduk" Luca membawa Brie mendekat ke arah meja makan. yang telah diisi oleh rekan bisnis Luca.
"Selamat siang Tuan Alex. dan siapa bidadari disampingmu ini" Tanya salah seorang pria yang duduk paling dekat dengan Brie.
"Menurutmu siapa wanita istimewa ini." Ujar Luca sambil merangkul pinggang Brie agar lebih mendekat dengannya.
"Oh baru aku melihat tuan Alex yang pemarah ini membawa wanita semanis ini "
"Mr Vogh, Bisa saja. Aku hanya tak mau membawa sembarang wanita saja." Ujar Luca dengan wajah tak terbaca.
"Siapa nama mu nona manis?" Tanya Mr Vogh pada Brieaya.
"Aku Brieaya. Salam kenal." Karena Tuan Vogh mengulurkan tangan nya maka Brie pun menerima uluran tangan dengan sedikit menundukan tubuh nya.
__ADS_1
"Apa kau masih sekolah." Lanjut Mr Vogh.
"Tidak. akk...."
"Jadi menurutmu aku pedofil. hanya bagian wajah saja yang tampak sangat muda yang lain nya.. jelas sangat matang" potong Luca. Wajah Brieaya tampak memerah mendengar penjelasan Luca.
"Apa katanya. menyebalkan orang lain akan sangat salah paham dengan penjelasan absurd mu luca. aihh menyebalkan." Batin Brieaya.
"Hanya membantumu menjawab pertanyaan tidak penting" bisik luca ditelinga brie. Brie tampak merenggutkan wajahnya membuat nya tambah manis dimata Luca. Luca hanya memandang nya sambil tersenyum.
"berhenti menyeringai seperti itu." Luca merengguk kembali melihat senyum luca yang dianggapnya mengejek.
"Ok. jangan marah Baby" Brie mematung dengan panggilan Luca.
"Baby ,apa katanya luca kenapa dia sangat menyebalkan." Batin Brie.
Makan siang berjalan dengan baik. Luca dan rekan nya kini mulai perbincangan tentang bisnis. Sedangkan Brie sibuk dengan Kue kue nikmat dihadapannya.
"Sebenarnya ada yang menunggumu selain aku. Dia datang dari perusahaan Asia. Bergerak dibidang pariwisata khususnya travel. Anak perusahaan dari JeVacop."
"Uhukk uhukk" Brie tersedak Kue. Ada hal yang membuatnya tak nyaman tapi entah kenapa tak bisa dia ungkapkan. Luca hanya memandangnya dan memberikan Brieaya minum.
"Kau bahkan tahu bahwa aku tak suka dengan perkenalan seperti ini. Dan setahuku perusahaan itu memiliki banyak masalah di sumberdaya manusianya." Lanjut Luca pada Mr Vogh. Brie melirik dengan berbagai tanda tanya diotaknya. tapi tak urung juga menanyakan pada Luca.
"Maksudnya. Oh apa aku kurang meneliti. karena setahuku. Anak perusahaan ini dipegang langsung oleh anak tertua CEO JeVacop. dan memeiliki kemajuan pesat."
"Yah sepertinya kau harus berhati hati. Bila hanya sekedar tahu cangkang tanpa tahu kualitas daging di dalam nya. Siapa tahu didalam cangkang indah terdapat daging yang busuk." Luca tersenyum sambil menatap penuh makna pada rekan nya.
"Ah baiklah. kalau kau menolak aku bisa apa. Tapi bagaimana dengan kerja sama kita"
"Aku sudah katakan Mr Vogh. Kerja sama dapat berjalan selama kau dapat merahasiakan keberadaanku. Dan tanpa ikut camput masalah penyelesaian dan produksi"
"Baiklah.. baiklah.. Aku akan percaya sepenuhnya padamu."
"Begitupun aku Mr Vogh. aku hanya melandasi Bisnis dengan kepercayaan penuh. Karena sekali saja melanggar kepercayaan maka tak ada ampun. Hanya akan mendapat kehancuran dariku" Dengan wajah datar nya Luca tak sedikit pun merasa bahwa ucapan nya membuat Mr Vogh sedikit merasa terintimidasi.
"Yah. Reputasimu tak membuatku ragu akan hal itu " Mr Vogh tersenyum senang karena kerja sama nya berjalan dengan baik.
Setelah semua usai Luca mengajak Brie untuk mengelilingi Yacht, Sekedar melihat pemandangan sekitar Danau yang akan dilalui.
__ADS_1
"Karena tidak ada ombak besar jadi tidak terlalu takut. Karena tidak bergoyang"
"Kau menjelaskan apa?" Luca mengernyit mendengar kata kata brie
"Hahaa. Ini.. kapal ini. Tidak terlalu menakutkan karena tidak bergoyang." Brieaya tertawa sambil memegangi Perutnya.
"Apa perutmu sakit. Kau baik baik saja. Dari tadi wajahmu nampak tak nyaman."
"Ah aku baik baik saja. hanya terlalu keras tertawa." Ponsel Brie berbunyi menghentikan obrolan mereka. Tanpak Nama Greta tersemat dilayar ponsel.
"Angkatlah. pasti mereka khawatir. dengan keadaanmu." Luca memberi nasehat.
"Tidak. Aku ingin melupakannya walau untuk hari ini. Aku tak ingin ada pembahasan dan Hiburan yang aku dengar. Aku rasa itu malah membuatku terus mengingatnya." Brie nampak bimbang melihat ke arah layar ponselnya. Seketika Luca mengbil ponsel dan mematikan nya.
"Oh..." Brie melihat ke arah ponselnya lalu memandang Luca." Terima kasih. Hehee"
"Sama sama.. Tapi aku telah mengabari Nora. apa kau keberatan."
"Oh tentu saja tidak. itu bagus dia pasti sangat khawatir. Aku merindukannya."
"Kau dekat dengan Nora. Apa kau tak takut dengan bahaya yang dibawa Nora."
"Bahaya seperti apa.. Aku tak takut bahaya yang mengancam aku lebih takut kehilangan sahabatku. Walau belum terlalu lama aku bersama Nora. Aku rasa aku sangat tahu kesakitannya kecemasannya. terkadang aku juga bingung. Siapa dia ,dari mana dia, Dan banyak lagi yang aku belum tahu. tapi itu tak ada gunanya bukan. menjadikan Aku sebagai tempat dia bercerita. Dari awal Nora yang rapuh sampai titik dimana dia menjadi sangat menarik dimataku. Keluarga,mungkin itu yang ada dibenakku. Lagi pula aku belum pernah merasakan hal seperti kekuarga sedari kecil."
"Maaf. Awalnya aku ingin kau menjadi teman dekat dan menjaga Nora. Tapi kadang aku ingin menjauhkan kau dengannya. Menjaga satu lebih baik dan lebih mudah bukan" Luca memandang wajah Brie dengan Tatapan yang tak bisa dibaca.
"Kau salah. Bila kau menjaga dua orang itu sulit. maka Cari cara mudah. Biarkan kita saling menjaga. Itu akan lebih baik. berbagi beban dan berbagi cara melindungi."
"Shadow benar tentangmu. Dia memang selalu lebih peka dari padaku."
"Shadow.. siapa dia"
"Ada seseorang yang telah bersama ku sedari kecil. dan dia orang kepercayaanku. Tapi sepertinya aku tak lagi jadi prioritasnya. ada gadis yang telah dia jaga diam diam. Tapi aku belum tahu niat dibelakangnya."
"Kau Rumit.. Setelah hari yang buruk aku mendapat hari yang rumit."
💜💜💜💜💜💜💜
Maaf yah hari ini satu episode saja. Buat teman teman yang mau membaca ceritaku terima kasih. Tapi belum bisa memberi cerita yang baik diminggu ini. dikarenakan Aku terserang Cikungunyah. Tak bisa bergerak semua badan sakit. Semoga pembaca ceritaku diberikan kesehatan Amien.
__ADS_1
LOVE LOVE. Teman baca ku.