
Setelah momen pernikahan yang dipaksakan itu Ranti memilih untuk tidak sadarkan diri lagi, ia lelah menangis sampai ia tertidur dan berharap tidak bangun lagi. Tapi dia harus menelan rasa kecewanya karena lagi-lagi dia bisa terbangun. Kepalanya terasa pusing. Ia berusaha untuk menggerakkan kepalanya agar bisa melihat sekelilingnya. Ketika ia menoleh kesamping ia melihat Calvin duduk di sofa kecil samping tempat tidurnya. Tiang infus berdiri tegak disebelahnya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Calvin mendekati Ranti.
Tuhan, kenapa setiap aku mencoba untuk membuka mataku, yang ku lihat selalu orang ini? Kenapa aku masih disini? Seharusnya aku mati saja. Ucap Ranti dalam hati lalu ia memejamkan matanya lagi memilih untuk kembali tidur.
Calvin bangkit dari duduk dan keluar untuk menemui Dokter Harry, dia ingin menanyakan keadaan Ranti yang sudah berhari-hari tidak sadarkan diri. Ranti hanya sadar saat momen pernikahannya saja, setelah itu Ranti menangis dan tertidur lagi. Calvin khawatir apakah yang dirasakan Ranti normal? Dia hanya ingin Ranti cepat sadar dan pulih.
"Lo yakin, Har, kondisi dia baik-baik aja?" Tanya Calvin dalam ruangan Harry.
"Iya, Vin. Dia cuma lelah karena terlalu banyak menangis dan pikiran, pengaruh obat yang dia minum juga."
"Oh baguslah, jadi kapan dia bisa pulih?"
"Mungkin besok, atau kalau nanti malam dia sudah sadar besok bisa lo bawa pulang. Segitu khawatirnya ya lo sama dia? Hehehe gak sabar mau bawa pulang ya?" Ledek Dokter Harry menyenggol lengan Calvin menggoda.
"Diam! Jangan ngeledek!" Geram Calvin. Dokter Harry nyengir sambil mengangkat tangannya.
"Fine, ok! Gue cuma gak habis pikir lo bisa sekhawatir itu sm dia, ada apa, Vin? Sampe lo mau nikahin dy juga. Biasany lo nyuruh gue buat buang mayat orang tapi sekarang lo nyuruh gue buat nyelametin 2 hidup orang."
"Gak tau, Har. Gua sendiri gak tau. Mungkin karena malam itu dia benar-benar masih virgin jadi gua merasa gimana gitu, gak ngerti juga gua."
"Virgin? Cuma karena virgin?"
"Iya."
Harry menggeleng tidak mengerti dengan maksud Calvin, yang dia tau bahwa Calvin sahabatnya yang dingin itu sudah jatuh cinta dengan gadis kecil itu. Dalam hati dia penasaran bagaimana bisa seorang Calvin laki-laki yang dingin dan arogan itu bisa mudah jatuh cinta dengan gadis biasa seperti gadis itu? Di club malam yang Calvin punya pun banyak sekali wanita cantik dan sexy yang rela antri demi tidur bersama Calvin, sebagian dari merekapun juga masih ada yang virgin tapi sesudahnya Calvin hanya melemparkan segepok uang untuk wanita itu dan pergi. Tapi dengan Ranti, Calvin bahkan rela menikahinya, Harry benar-benar heran.
Harry dan Calvin sudah bersahabat sejak remaja. Saat itu mereka bersekolah di sekolah menengah atas bersama, Harry tau saat itu Calvin adalah anak dari seorang gengster di wilayah sekitar. Saat Harry tidak mampu melanjutkan kuliah, Calvin memohon pada Ayahnya untuk mengajak Harry untuk kuliah bersama di Singapore. Calvin mengambil jurusan ekonomi dan Harry mengambil jurusan kedokteran, di Universitas itulah mereka bertemu Rico yang merupakan mahasiswa cerdas karena beasiswa Rico yang tiba-tiba di cabut oleh Universitas membuat Rico hampir putus kuliah dan kembali ke Indonesia, namun Calvin membantu meneruskan biaya kuliah Rico dan sampai saat ini mereka tetap bersama.
Harry dengan gelar Dokternya di permudah bekerja di salah satu rumah sakit besar ini juga karena Calvin. Pemilik rumah sakit besar ini merupakan rekan kerja Ayahnya yang meminta rekan-rekan Ayahnya untuk melindungi rumah sakit ini dari segala saingan bisnis di wilayah ini. Ayah Calvin selain mafia narkoba, juga seorang pimpinan gengster di negeri ini, penjahat mana yang tidak mengenal nama Ayahnya Surya Adi Perkasa dan masyarakat kecil pun juga mengetahui kelompok-kelompok kecil yang mengatasnamakan kelompok Surya Adi.
Dari beberapa wilayah di kendalikan nya dan beberapa club-club malam juga dimilikinya. Sekarang Surya Adi ini sedang melebarkan sayapnya untuk bekerja sama dengan mafia dari Italy dan Perancis setelah sebelumnya mereka sudah bekerjasama denga beberapa negara tetangga seperti Singapore, Thailand dan Filipina.
__ADS_1
Ranti mengusap kepalanya yang berat. Dilihatnya tangan kanannya di infus dan pergelangan tangan kirinya di perban. Sia-sia ia menyakiti dirinya sendiri tapi gagal untuk mati, sungguh sial. Ia memaksakan tubuhnya bangun walau rasanya berat. Mumpung kamar ini tidak ada orang ia ingin kabur dari sini.
Ranti mencoba untuk berdiri dengan sekuat tenaga, melepaskan alat bantu pernafasan yang ada di hidung dan melepaskan infus dari tangan kanannya. Ia mencoba untuk melangkahkan kakinya dan menggapai apapun yang ada di sekitarnya untuk menyanggah tubuhnya, merangkak menuju pintu kamar. Belum sampai ia di pintu, tubuhnya ambruk tidak kuat. Tidak lama Calvin datang bersama Inez.
"Kamu itu masih lemas, jangan maksain diri untuk kabur!" Ucap Calvin mengangkat tubuh Ranti dan membaringkannya lagi di atas ranjang sambil mengelus rambut Ranti. "Kata dokter kamu akan pulih secepatnya, jangan khawatir."
Aku lebih khawatir karena masih hidup dan ada bersama kamu! Ucap Ranti dalam hati membuang muka dari hadapan Calvin. Kenapa kamu gak sekalian bunuh aku aja, Bos! Ucapnya lagi dalam hati.
"Apa kamu masih pusing?" Tanya Calvin. Ranti diam enggan untuk menjawab. "Hei! Apa kamu tuli? Aku tanya apa kamu masih pusing?" Bentak Calvin.
Dengan rasa kaget memekik hati Ranti segera menjawab "Udah nggak, Bos."
Calvin mengelus rambut Ranti dengan sedikit kasar dan berkata "Jangan sampai aku bertanya 2 kali lagi, mengerti?" Tegasnya.
Ranti hanya bisa mengangguk pasrah menatap suami arogannya yang ada tepat di wajahnya, Calvin tersenyum puas dan melepaskan rambut Ranti.
"Urus dia, Nez! Kita pulang dalam setengah jam lagi."
"Iya, Bos."
Inez membereskan tas yang isinya merupakan keperluan Ranti, baju dan sebagainya. Ranti hanya terdiam melihat Inez.
"Nama gue Inez, lo udah tau kan ya?" Ucapnya. Ranti menganggukan kepala. "Gue udah kenal sama bokap dan kakak lo itu, gak nyangka mereka berani berbuat seperti itu ke si Bos. Bos gak bunuh mereka aja itu udah syukur banget, malah si Bos mau nikahin lo juga, bersyukurlah lo jadi cewek, Ran!"
"Bersyukur? Bersyukur menjadi istri seorang penjahat maksud kamu?"
"Hei, Ssshhh!!!" Bungkam Inez. "Calvin bukan penjahat biasa, dia penjahat highclass jangan lo remehin dia." Bela Inez ia duduk di pinggir ranjang Ranti. "Calvin Bos yang baik, gue tau dia dan kenal dia dari gue kecil. Lo cewek beruntung, Ran. Nanti setelah lo hidup bersama si Bos, lo akan tau sifat aslinya."
Ranti terkekeh kesal tidak mengerti apa yang dimaksud Inez, penjahat highclass? Bukan penjahat biasa? Apapun level penjahatnya penjahat tetaplah penjahat, Ranti dibuat geli oleh Inez. Apanya yang beruntung hidup dengan penjahat kelas kakap ini?
"Ayo gue bantu lo bangun, lo harus ganti baju, lo juga harus dandan." Ranti berusaha bangkit dibantu Inez yang pelan-pelan memegangi Ranti untuk bisa berdiri dan jalan menuju kamar mandi.
Ranti masuk kedalam toilet yang ada di dalam ruang inapnya itu. Toiletnya luas dan sangat bagus, selain itu ruang inap yang Ranti tempatipun juga luas dan isinya komplit dengan sofa, televisi, kulkas dan lain-lain. Dalam hati Ranti bertanya berapa kira-kira perawatan di ruang seperti ini? Pasti mahal sekali pikirnya.
__ADS_1
Dengan sigap ia melepaskan pakaian pasien dan mengganti dengan pakaian yang Inez bawakan. Dress merk chanel berbahan rajut halus tanpa lengan, ia sedikit malu mengenakan pakaian ini karena ia tidak terbiasa mengenakan pakaian tanpa lengan walaupun Ranti merasa dirinya bagus sekali mengenakan pakaian ini di dalam cermin.
"Inez apa kamu ada cardigan? atau jaket apapun, aku merasa agak dingin." Tanya Ranti menghampiri Inez yang sibuk dengan alat-alat make-up nya.
"Iya gue bawa kok, ini." Inez memberikan cardigan berwarna senada dengan dress nya, dengan cepat Ranti memakainya dan duduk di ranjangnya.
Inez sudah mulai mengolesi sesuatu ke wajah Ranti dan mulai mendandaninya.
"Apa harus berdandan begini, Nez? Kita kan mau pulang kerumah bukan mau ke pesta."
"Pesta? Hahahaaa.. Jangan ngarep kamu pergi ke pesta, Ran. Bos gak akan mau ajak kamu karena kamu pasti akan punya kesempatan untuk kabur."
Ranti terdiam, siapa juga yang mau di ajak ke pesta aku lebih baik dirumah sakit ini dari pada kemanapun, Tuhan tolong aku. Ucap Ranti dalam hati pasrah dengan apa yang dilakukan Inez pada wajahnya.
"Kita emang mau pulang kerumah, tapi gak dengan wajah pucat lo ini."
Setelah selesai Inez merapihkan alat make-up nya ke dalam tasnya dan menyiapkan kursi roda untuk Ranti.
"Gak perlu, Nez, aku udah bisa jalan sendiri kok gak perlu pake kursi roda."
"Udah diem duduk aja sini, ini perintah Bos!"
Ranti menggeleng dan duduk di kursi roda yang sudah disiapkan Inez. Inez menutupi kaki Ranti dengan selimut tipis, lalu mendorong Ranti keluar dari kamar inap itu. Setelah mereka keluar Calvin sedang berdiri sambil mengobrol bersama Dokter Harry dan Rico, lalu Calvin menoleh ke arah Ranti dan Inez mereka menghampiri Calvin, Rico dan Dokter Harry.
Calvin menatap kagum Ranti. Cantik. Pekiknya dalam hati. Rambut Ranti tergerai panjang rapih, wajahnya juga memang cantik, Inez benar pintar mendandani Ranti. Namun wajah Ranti masih terlihat sendu, biar itu menjadi PR tersendiri untuk Calvin bagaimana caranya agar bisa membuat Ranti bahagia.
"Jangan lupa minum obat dan vitaminnya ya Bu Bos." Ucap Dokter Harry pada Ranti. Ranti diam tanpa senyum sedikitpun. "Gue udah kasih semua obat dan vitamin nya ke Inez." Lanjutnya lagi pada Calvin.
"Oke!" Sahut Calvin mengambil alih pegangan kursi roda Ranti agar dia bisa mendorongnya. Calvin sudah berdiri di belakang Ranti memegangi pundak Ranti sesekali ia usap pundak itu.
Pintu lift terbuka, Inez dan Rico memasuki lift diikuti Calvin dan Ranti.
"Jangan lupa ada 1 obat yang harus selalu dia minum, Vin. Sesuai dengan yang lo pinta kemarin jangan sampe telat diminumnya." Ucap Dokter Harry sebelum pintu lift tertutup rapat dan hanya di jawab iya oleh Calvin.
__ADS_1
Di dalam lift mereka hanya diam, Ranti sempat bertanya dalam hati obat apa yang dimaksud Dokter Harry namun ia sudah pasrah obat apapun itu tidak akan mampu mengubah hidupnya menjadi seperti dulu lagi, kini ia harus memulai menjalani hidupnya yang entah akan seperti apa. Pintu lift terbuka mereka sudah sampai basement Tori sudah siap dengan mobilnya, pintu mobil bergeser terbuka. Inez masuk lebih dulu duduk di kursi paling belakang, lalu Calvin mengangkat Ranti dan menduduki Ranti di kursi tengah setelah pintu mobil bergeser tertutup ia memutari mobil untuk masuk dari pintu sebelah Ranti, setelah itu Rico pun masuk di kursi depan dan mobil berjalan menuju pulang.
Dalam hati Ranti berucap Selamat datang kedalam neraka dan pasrah lalu ia memejamkan matanya lagi.