Love in Patience

Love in Patience
Episode 7 (Malam Berdarah Part 1)


__ADS_3

Pria tampan nan kejam itu meraih lengan Ranti untuk dibawanya pergi. Ranti menolak sambil menangis, Hito menangis dan histeris. Ibu Ranti mencoba untuk bangkit agar dapat meraih Ranti di pelukannya namun di halangi oleh preman-preman tersebut.


Lalu salah satu preman itu meraih Hito dan memegangi Hito dengan kasar. Ranti menjerit melihat adik kesayangannya yang sudah lemas itu diperlakukan seperti itu, ia ingin menghampiri Hito namun pegangan pria itu amat kencang di lengannya.


"Diam! Kalo lo masih mau lihat adik lo itu hidup, diam! Ikut gue!" Sahut pria it dengan nada mengancam. Ranti hanya bisa menangis ketakutan.


"Tolong jangan bawa anak gadis saya. Bawa saya aja, Bos. Biar saya yang menebus kesalahan ini. Saya mohon dia anak gadis saya satu-satunya." Isak Ibunya lemas tidak berdaya melihat kekacauan ini.


Pria itu cuek seraya memberi instruksi agar preman itu melakukan perintah. Preman-preman itu mengerti tanpa pria itu harus menjelaskan apa yang diperintahkannya. Tiba-tiba Hito batuk-batuk, nafasnya sesak, wajahnya semakin pucat. Ranti semakin panik.


"Hitooo" Panggil Ranti sambil meronta dari pegangan pria itu. "Tunggu dia butuh obat, dia sakit."


"Urus anak itu!" Perintah Bos itu kepada salah satu premannya. "Rico dan Tori ikut gue pulang!"


"Siap, Bos!" Jawab preman-preman itu berbarengan.


"Kak Ranti mau kemana jangan tinggalin aku!" Ucapan yang terakhir Rantin dengar adalah ucapan adik kesayangannya, Hito.


Pria itu menyeret Ranti secara paksa agar ikut dengannya.


"Rantiiii.." Teriak Ibunya meronta cengkraman preman itu untuk mengejar Ranti namun gagal.


"Ibuuu.. Tolong Ranti, Bu!" Jerit Ranti menangis sambil meronta namun ia kalah kuat dengan pria itu. 2 preman dibelakangnya mengikuti, pintu mobil bergeser terbuka sudah ada supir yang sigap didalam mobil mewah itu.


Pria itu mendorong paksa tubuh Ranti untuk masuk kedalam kursi paling belakang diikuti pria itu dan kedua preman itu duduk di kursi tengah. Pintu mobil bergeser tertutup dan mobilpun berjalan pergi.

__ADS_1


Ranti menangis terisak di dalam mobil sambil memegangi kerah bajunya. Ia takut, amat sangat ketakutan. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya malam ini, seketika kebahagiaan hari ini yang ia baru rasakan sudah hilang. Ia sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya malam ini.


"Tolooonggg!!!!" Teriak Ranti di dalam mobil sambil meronta-ronta. Lalu pria itu meraih tubuh Ranti dan mendaratkan tamparan keras di wajah Ranti. Ranti merintih kesakitan dalam tangis sambil memegangi pipinya.


Pria itu menjambak rambut panjang Ranti agar melihat dirinya. "Ini belum seberapa! Berani macam-macam adik lo yang dirumah itu gue abisin. Ngerti lo?"


Ranti mengangguk, menangis. Pria itu menghempaskan kepala Ranti ke jendela mobil. Ranti hanya bisa menangis merasakan perih wajahnya dan perih hatinya. Membayangkan dirinya dan juga Adiknya.


Tiba-tiba pria itu mendekati Ranti. Mengelus rambut Ranti yang sudah berantakan, dilihatnya wajah Ranti dalam cahaya lampu jalanan malam.


"Wajah kamu penuh air mata, tapi kamu tetap cantik." Ucap laki-laki itu melepaskan tangannya dari wajah Ranti dan menjalar ke dada Ranti. Meraba dua bukit kembar Ranti.


"Tolong jangan lakukan itu, Bos. Saya mohon." Ucap Ranti memohon. Pria itu hanya tersenyum dan memasukan tangannya kedalam baju Ranti, menyentuh dada Ranti dengan lebih dalam, ia mengendus leher Ranti. Ranti dapat mendengar dera nafas pria itu di telinganya.


"Kamu pakai parfum apa ini? Bau nya amis!" Ranti bersyukur ketika pria itu berhenti dari aktivitas nakalnya dan sedikit menjauh dari dirinya.


"Ok, Bos!" Jawab anak buahnya yang berpenampilan rapih selayaknya pegawai kantoran sambil segera melaksanakan perintah Bosnya ini untuk menelfon orang rumah.


"Kalau kamu lulus malam ini, aku akan memperbaiki aroma tubuh dan penampilan kamu itu!" Gumam Calvin dalam hati memperhatikan Ranti yang tengah terisak. "Lusuh sekali." Pria itu menggeleng.


Jalanan malam sepi, mobil melaju dengan cepat tanpa adanya hambatan. Dalam gelap yang Ranti bisa lihat adalah gerbang rumah berwarna hitam dan tinggi. Mobil memasuki halaman rumah, dan berhenti di depan pintu utama.


Pintu mobil terbuka dan pria itu menarik paksa Ranti untuk keluar dari mobil. Ia melihat sekitar halaman rumah itu yang luas dan lumayan jauh dari gerbang. Ditengah-tengah halaman terdapat sebuah kolam hias dengan air mancur, ada sekiranya 4 orang menyambut mereka di teras rumah.


Ketika mereka memasuki rumah 2 orang wanita datang menghampiri mereka. Yang 1 masih terlihat muda mungkin seumuran dengan Anto, yang 1 sudah paruh baya.

__ADS_1


"Semua sudah siap, Den Calvin." Ucap wanita paruh baya tersebut.


Mereka semua mengikuti Calvin menuju kamar yang ada di bagian dalam rumah besar tersebut. Terdapat tangga besar di pinggir ruangan menjuntai ketengah ruangan. Ranti masih terisak, sesekali ia menoleh kearah 2 wanita itu tapi tidak ada yang meresponnya seolah-olah ini adalah kejadian biasa. Ia ingin teriak tapi pasti percuma karena ia sadar sekarang ia sudah berada di dalam kandang buaya.


Wanita muda itu membukakan pintu kamar untuk mereka dan mengikuti masuk kedalam. Kamar itu lagi-lagi luas, dengan ranjang yg cukup besar. Dipojok ruangan ada sebuah pintu, Ranti di giring masuk oleh Calvin. Ruangan ini ternyata ruangan pakaian komplit dengan kebutuhan pakaian Calvin, di ujung ruangan itu terdapat kamar mandi yang ketika wanita itu buka, Ranti terkejut melihat kamar mandi yang begitu luas, rapih dan mewah. Sudah terdapat air hangat di dalam bath up.


"Bantu dia mandi, Bi. Lo juga Inez, bantu dia mandi dan kasih dia pelajaran kalau dia berusaha untuk berontak!" Perintah Calvin yang dijawab dengan anggukan kepala oleh 2 wanita tersebut.


Calvin keluar ruangan pakaian, lalu 2 wanita itu mencoba melepaskan pakaian Ranti. Ranti sangat malu dan mencoba untuk menolak sambil memohon agar mereka mau membantu Ranti untuk kabur dari sini.


"Tenang aja, Non. Yuk saya bantu basuh badan non." Ucap wanita paruh baya tersebut menuntun Ranti memasuki bath up setelah berhasil melepaskan seluruh pakaian Ranti. Ranti yang masih menangis mencoba untuk menutupi bagian tubuhnya dengan kedua tangannya sambil merendam tubuhnya kedalam air hangat tersebut. Airnya juga wangi.


"Panggil saja saya, Bi Titi." Ucapnya membasahi kepala Ranti dengan shower. "Non namanya siapa?"


"Ranti." Jawab Ranti masih sambil terisak. Bi Titi mengoleskan shampo ke rambut Ranti sambil memijit-mijit lembut, sementara wanita bernama Inez tadi hanya memperhatikan Ranti.


"Non Ranti kenal Den Calvin dimana? Baik sekali Den Calvin mau membantu non Ranti." Ranti terkejut ketika Bi Titi mengatakan bahwa pria itu baik.


"Saya gak kenal dia, Bi. Saya di bawa paksa sama dia, tolong saya, Bi. Saya mau pergi aja dari sini." Ranti memohon.


Bi Titi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia mengolesi sabun ke tubuh Ranti, setelah itu ia membasuh semua busa di tubuh Ranti. Ketika sudah selesai Bi Titi memakaian handuk kimono yang sedari tadi di pegang Inez.


Setelah selesai mereka berdua membawa Ranti keluar dari kamar mandi menghampiri Calvin yang sedang duduk santai di sofa ceper sambil menonton acara televisi mengenakan handuk kimono berwarna senada dengan yang Ranti pakai.


"Sudah selesai, Den. Kami permisi." Ucap Bi Titi melangkah pergi keluar dari kamar bersama Inez. Sekilas Inez tersenyum kecut melihat Ranti ketika ia hendak menutup pintu kamar Calvin dengan rapat.

__ADS_1


Ranti hanya berdiri diam terpaku di sisi Calvin sambil memegangi kerah handuknya diikuti dengan tubuhnya yang mulai gemetaran takut. Calvin bangkit dari duduknya, menunduk menatap Ranti lekat, memegang lembut kedua lengan Ranti. Dia dapat merasakan tubuh Ranti yang gemetaran dan ia tersenyum sinis, pelan-pelan ia menurunkan tangan Ranti yang dengan keras memegangi kerah handuknya, mendekatkan wajahnya kerambut Ranti yang masih lembab dan Ranti masih terus terisak.


__ADS_2