Love in Patience

Love in Patience
Episode 21 (Vidio Call)


__ADS_3

Seperti biasa setiap harinya Ranti hanya asik memandangi pemandangan teras kamarnya dari balik jendela. Dia selalu menggeser bangku semi sofa yang ada di ujung tempat tidurnya ke pojok jendela kamarnya. Tirai dia geser agar sedikit terbuka dan merasakan hangatnya sinar matahari masuk. Jendela itu sama seperti jendela di kamar bawah yang sempat ia buka untuk kabur tapi saat ini dirinya sudah tak berniat lagi kabur dan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mencintai Calvin, pria jahat yang sudah membeli hidupnya. Tidak ada pilihan lagi untuknya, yang terpenting adalah Ibu dan Adiknya bisa hidup dengan layak. Dia hanya berharap suatu saat Calvin akan semakin melunak dan memperbolehkannya bertemu dengan Ibu dan juga Hito.


Diluar turun hujan, membuat perasaan Ranti terhibur karena dia menyukai hujan. Suara rintikannya indah, asal jangan ada kilat dan petir yang keras karena siapapun orangnya pasti akan merasa takut.


"Wah.. wah.. bener kata Calvin, lo sekarang sering banget melamun di jendela." Sahut Inez. Dia masuk ke kamar menghampiri Ranti.


Ranti diam hanya tersenyum menoleh Inez dan menoleh lagi ke lamunannya yang ada di luar jendela.


"Lagi liat apa sih? Setau gue cuma bisa liat teras sama tembok pembatas itu doang." Tanya Inez duduk di ujung tempat tidurnya.


Ranti tidak tau apa bagiannya Inez sehingga bisa bersikap santai di rumah ini.


"Gak ada apa-apa, cuma hujan." Jawab Ranti.


"Huft! Hei, ini gue bawa oleh-oleh." Inez memberikan sebuah kado untuk Ranti.


"Apa ini?" Ranti menerimanya dan ingin segera membukanya tapi Inez menahannya.


"Jangan di buka sekarang, nanti aja." Cegah Inez. Inez mengambil kadonya lagi dan meletakannya di atas meja rias Ranti. "Gue denger-denger lo kabur waktu itu?"


"Iya. Tapi gagal." Jawab singkat Ranti tanpa menoleh dari lamunannya.


"Hahahahaaa.. Kalo lo berhasil lo gak mungkin masih disini dan jadi princess kesayangannya Calvin, sih!" Ujarnya tertawa.


Ranti menoleh juga dan bingung kenapa Inez bisa selalu terlihat ceria. Apa pekerjaannya sebenernya yah? Tanya Ranti dalam hati.


"Ranti.. Ranti.. Lo gak mungkin bisa kabur dari sini, orang yang tinggal disini itu banyak."


"Memang siapa aja sih yang tinggal disini?" Tanya Ranti. Dia sebenarnya tidak ingin tau juga karena dia sudah tau, seenggaknya ada orang yang bisa mengobrol dengannya.


"Para pekerja."


"Kerja apa?"


Inez nyengir. "Apa aja. Ada tim IT mereka memantau segala keadaan dirumah ini, ada penjaga di segala ruangan disini, ada pekerja dapur dan tukang bersih-bersih, ada dokter juga, ada gue dan adaaaa apa lagi yah?" Inez mencoba mengingat.


"Ada kurir juga?" Sahut Ranti yang teringat dengan pekerjaan Angga.

__ADS_1


"Yups, tapi gak tiap hari ada disini. Mereka lebih sering diberi perintah diluar rumah."


"Oh." Pantas saja Mas Angga lebih sering dirumah. Ujarnya dalam hati.


"Ranti, please deh lo bisa gak hidup kayak cewek-cewek normal lainnya? Emang lo gak bosen apa cuma hidup di dalam kamar begini?" Tanya Inez. Ranti menengok juga akhirnya, terlihat raut wajah Inez yang prihatin.


"Aku bukan cuma bosan, Inez. Aku bahkan hampir dan mau gila!" Jawab Ranti putus asa berharap Inez kasihan dan membantunya pergi dari sini. "Tapi aku cukup tau diri aja, aku cuma budak sex nya Bos kamu yang jahat itu!" Lanjutnya lagi.


"Makanya lo jangan mau dong jadi budak sex nya Calvin!" Sahut Inez.


"Siapa juga yang mau? Gak ada pilihan dan gak pernah ada pilihan untuk orang-orang miskin kaya aku."


"Ayolah Ranti, lo cuma harus menjadi wanita yang mencintai Calvin aja kok. Jadilah wanita yang mencintai dan dicintai jangan cuma sebagai budak sex aja! Lo sendiri yang bisa mengubah hidup lo, Ran!" Ujar Inez berapi-api memberikan semangat pada Ranti.


Inez menarik pergelangan tangan Ranti agar berdiri dan mengikutinya berjalan menuju meja rias di sebelah pintu ruang pakaiannya. Ranti duduk dan menatap bayangan dirinya dalam cermin. Wajah cantiknya, rambut panjangnya yang hitam halus berkilau dan tentunya penampilannya yang sekarang lebih agak terbuka. Dia mengenakan tangtop dress putih berbahan katun, Calvin menyuruhnya lebih sering menggunakan dress itu karena entah mengapa Calvin sangat menyukainya saat memakai dress itu. Inez menunduk menempelkan dagunya di bahu Ranti.


"Liat! Lo tuh cantik banget, Ran. Kulit lo mulus." Jari tangan Inez mengusap lengan tangan Ranti hingga ke bawah. "Bibir lo mungil, merah tanpa harus pake lipstick, Body lo langsing dan yang paling penting buah dada lo ini padat berisi." Inez menyenggol dada Ranti dengan jarinya menggoda.


"Apaan sih kamu, Nez! Gak sopan!" Risih Ranti. Inez tertawa.


"Maksud kamu?"


"Goda Calvin! Jangan cuma menerima tapi lo harus memberi juga. Gak susah kok apa yang Calvin suka banyak cewek yang dengan suka rela kasih."


"Aku makin gak ngerti maksud kamu, Nez." Ranti menggeleng. Inez mendesah.


"Pertama lo harus ubah bahasa lo itu. Stop untuk ngomong 'aku-kamu'! Biar lebih seru lo harus ngomong 'gue-elo' ke gue dan kesemua orang, kecuali ke Calvin ya!"


"Aku udah terbiasa ngomong kaya gini dari kecil."


"Temen lo si Via aja ngomongnya 'lo-gue' juga deh, lo doang yang ngomongnya pake 'aku-kamu'!"


"Lho kok kamu tau temenku Via? Eh kamu kamu jangan macem-macem ya sama dia, kamu jangan ngelukain dia. Dia bukan cuma temanku tapi juga sahabatku!" Ancam Ranti. Lagi-lagi Inez tertawa.


"Yaaa makanya mulai dari sekarang lo harus ngomong santai sama gue. Gue gak mau lo ngomong sama gue pake aku-kamu lagi!"


"Iya, aku- maksudnya gue usahain." Jawab Ranti yang mencoba menekan kata 'gue' dengan kaku.

__ADS_1


"Oke, kedua lo harus mulai untuk menggoda Calvin."


"Menggoda bagaimana, Nez? Aku eh gue gak tau caranya." Ucap Ranti memelas. Inez menarik tangannya lagi agar mengikutinya ke ranjang.


Ranti duduk di pinggir ranjangnya, Inez mendorong tubuh Ranti agar terlentang lalu Inez berdiri dengan kedua lututnya di atas tubuh Ranti dan Inez memegangi kedua tangan Ranti. Ranti merasa geli dengan posisinya sekarang dan mencoba untuk meronta, terlebih lagi yang dia lihat adalah Inez.


"Inez apaan sih! Lepasin gak! Mau apa sih lo?!" Ucapnya kesal.


"Ini gue kasih ilmu caranya menggoda Calvin, kayak gini! Relax, Ran!"


"Iya tapi kenapa harus kayak gini sih posisinya?!"


"Kalo lo udah di atas Calvin begini lo harus cium bibirnya. Perlahan, pelan-pelan, lama-lama ***** bibirnya." Ujar Inez lalu dia mulai menggerakan pinggulnya maju mundur secara pelan-pelan. "Terus pinggul lo gerakin gini."


Ranti sudah mulai jengah, risih bercampur geli melihat Inez sebegitu tidak tau malunya mengajarkan dia ilmu seperti ini.


"Udah deh, Nez minggir!" Ranti meronta dengan kasar dan berhasil melepas dirinya dari pelajaran gila yang Inez berikan. Inez tertawa dan duduk bersender di tempat tidur.


"Heiii, jangan malu. Laki-laki cuma butuh itu, percaya deh sama gue lama-lama Calvin akan luluh dan lo bisa hidup normal. Lo harus nikmatin hidup enak yang udah Calvin kasih ke lo dan keluarga lo!" Ujar Inez.


"Tapi Inez gue gak bisa, tapi.. apa lo tau keluarga gue baik-baik aja?" Ranti sudah mulai mencoba untuk berbicara santai kepada Inez dengan kata 'gue-lo'.


"Yups, gue tau kok mereka baik-baik aja. Adik lo itu udah pindah sekolah ke sekolah yang lebih bagus, nyokap lo juga gak perlu kerja banting tulang lagi karna Calvin bener-bener nyukupin nyokap lo cuma nyokap lo nya aja yang gak mau dia tetep kerja sih kayaknya." Celoteh Inez.


"Apa gue bisa percaya? Ada buktinya?"


Inez menarik nafas panjang sambil mengeluarkan ponsel dari saku Jeansnya.


"Ini rahasia kita berdua yah, kalo sampe Calvin tau gue bisa mati!" Ranti mengangguk. Inez sibuk dengan ponselnya dan terdengar suara halo dari dalam sana.


"Hai, ini ada Ranti." Ucap Inez memberikan ponselnya pada Ranti.


Betapa Ranti kaget dan senang melihat wajah Ibunya yang begitu sangat dia rindukan dalam panggilan vidio call ponsel Inez.


"Ibuuu..." Panggil Ranti dengan air mata yang sudah membendung.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2