
Dan ketika Ranti menoleh ke belakang sumber suara tembakan tadi, Calvin berdiri di teras bersama beberapa pengawalnya dengan memegang senapan di depan wajahnya siap untuk menembak lagi. Ranti terengah-engah berusaha bangkit mencoba untuk berlari lagi namun suara tembakan itu terdengar lagi menghancurkan lebih banyak bagian patung itu.
Ranti menjerit sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya dan serpihan patung itu menghujani tubuhnya, kakinya lemas menjatuhkan lututnya ke atas serpihan-serpihan patung yang hancur itu dan Calvin menghampiri Ranti bersama yang lainnya dan melepaskan tembakannya lagi, kali ini patung itu benar-benar sudah hancur berkeping-keping, serpihannya lagi-lagi menghujani tubuh Ranti.
Calvin berdiri di depan Ranti menjatuhkan senapannya tepat di hadapan Ranti yang tubuhnya sudah lemas gemetaran, air mata mengalir deras di wajahnya dan nafasnya tersengal. Bi Tuti berlari menghampiri Ranti dengan khawatir sambil menjerit.
"Non Ranti, Ya ampun, Non." Panggilnya khawatir, Bi Tuti memeluki tubuh Ranti yang terduduk lemas di atas serpihan patung itu. "Yaampun, Non. Non gak papa kan? Ada yang terluka, Non?" Isak Bi Tuti.
Ranti hanya sanggup menggeleng dan menjatuhkan kepalanya ke pelukan Bi Tuti sambil menangis. Calvin meraih Ranti dan menggendongnya dengan kedua tangannya, tanpa disadari oleh Ranti sendiri dia memeluk tubuh Calvin dalam gendongan Calvin, terus menangis. Dalam hati dia merasa menyesal karena sudah berusaha kabur dan teramat takut dengan apa yang akan terjadi nanti. Setidaknya dengan memeluk Calvin, Calvin bisa teredam emosinya, harap Ranti.
"Bi, bereskan semua barang di kamar bawah pindahin ke kamar atas." Perintah Calvin berjalan memasuki rumah.
"Baik, Den." Jawab Bi Tuti segera mengikuti Calvin dan yang lainnya ke dalam rumah.
Tanpa berpaling dari pelukannya, Ranti pasrah kemanapun Calvin ingin membawanya. Calvin menaiki tangga diikuti oleh Rico dan Beno, penjaga kamar bawah. Beno membukakan pintu kamar dan mempersilahkan Calvin dan Ranti untuk masuk terlebih dahulu.
"Nanti kalau barang-barang sudah siap, taro dulu di luar, jangan ada yang masuk!" Perintah Calvin.
"Siap, Bos." Jawab Beno tegas, Rico hanya menganggu singkat.
Calvin dan Ranti masuk, berjalan ke arah ranjang dan menghempaskan tubuh Ranti begitu saja di atas ranjang itu dan kembali ke pintu untuk menguncinya. Ranti tersentak, tubuhnya semakin gemetar takut bahkan dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis terisak-isak.
Setelah Rico mendengar suara pintu terkunci, dia langsung berbalik badan menghadap Beno dan menendang kaki Beno dengan keras.
"******! Kerja jangan ke banyakan tidur!" Geram Rico menendang kaki Beno lagi.
"Maaf, Bos." Erang Beno sambil mengelus-elus salah satu kakinya yang sakit itu. "Itu istri Bos kabur lewat samping bukan lewat pintu jadi saya gak tau."
"Ya gimana lo tau orang lo aja tidur pules di bangku, namanya juga orang kabur masa mau lewat depan muka lo. ******! Emang lo gak punya otak!" Geram Rico memukuli tubuh Beno dan menempeleng kepalanya berkali-kali.
"Iya ampun, Bos. Gak lagi-lagi saya bos."
"Awas lo kalo lengah lagi, bukan cuma gue geplak kepala lo, tapi gue buntungin kepala lo!"
"Siap, Bos." Ucap Beno melas.
"Jaga!" Perintah Rico.
"Siap, Bos."
__ADS_1
Rico berlalu turun ke bawah, dia berfikir kira-kira apa yang akan Calvin lakukan terhadap Ranti? Calvin pasti sangat marah, bukan cuma Ranti yang akan habis tapi pasti sebentar lagi dia akan mendapat perintah untuk menghabisi seluruh keluarga Ranti.
**********
Setelah mengunci pintu, Calvin menghampiri Ranti, merenggut rambut panjang Ranti hingga Ranti menjerit kesakitan.
"Jadi lo bener-bener mau kabur?" Geram Calvin. "Lihat gue! Lihat!" Renggutan tangan Calvin semakin kuat membuat perih di kepala menjalar ke leher Ranti. "JAWAB!" Bentak Calvin.
"Ampun, Bos." Rintih Ranti. Calvin melepaskan renggutannya dan menampar keras pipi Ranti, Ranti terhempas dan darah menetes dari pinggir bibirnya ke sprei putih itu.
"Bos lagi, Bos lagi!" Geram Calvin membungkuk dan meraih lengan tangan Ranti agar menghadap ke wajahnya. "Gue ini suami lo bukan Bos lo, kenapa sih lo gak pernah anggap gue ini suami lo? Hah? KENAPA?!" Teriak Calvin marah, kulit wajah putihnya sudah berubah menjadi merah padam memperlihatkan urat di keningnya.
Dengan reflek salah satu tangan Ranti memberanikan diri untuk memeluk tubuh Calvin yang masih membungkuk, sambil menangis meminta maaf.
"Maaf Calvin, a-a-aku.. Minta maaf." Ucap Ranti terbata-bata.
Calvin diam, memejamkan matanya tidak percaya bahwa Ranti akan melakukan ini. Memeluk tubuhnya, dia ingin segera membalas pelukan Ranti namun emosi masih berkecamuk di dadanya lalu dia berdiri melepas paksa pelukan Ranti. Ranti hanya bisa menunduk, rambutnya yang sangat berantakan itu menutupi wajahnya.
"Kurang apa sih lo dari gue? Coba gue mau tau gue kurang apa buat lo? Keluarga lo disana sudah hidup makmur! Nyokap lo itu setiap bulan gue kasih duit, Adik lo itu bahkan gue jamin pengobatannya dan gue sekolahin di sekolah mahal! Apa masih kurang gue buat lo? Hah?!"
Mendengar ucapan Calvin membuat tubuh Ranti semakin gemetar. Dia tidak tau apakah dia bisa percaya dengan apa yang Calvin ucapkan tadi? Apa benar Ibu dan Adiknya hidup dengan baik? Ranti bingung harus percaya atau tidak.
"Lihat! Lihat!" Bentaknya.
Dalam layar ponsel Calvin dia melihat foto Hito yang sedang asik bermain di sebuah taman yang sepertinya taman yang ada di dalam sekolah barunya, karena seragam yang dikenakan Hito berbeda dari seragam yang biasa Hito pakai dulu. Seragam itu memang terlihat seperti seragam dari sebuah sekolah swasta favorit di pinggiran Ibu Kota.
"Orang gue setiap hari ada dirumah keluarga lo itu untuk ngawasin semua kegiatan keluarga lo. Apa lo mau sekarang juga gue suruh orang gue untuk habisin Ibu dan Adik lo itu?" Ancam Calvin. Ranti menggeleng lalu Calvin menelfon pekerja nya.
"Halo, Bos." Sapa orang itu, sambungan telfonpun Calvin loudspeaker.
"Bunuh mereka semua tanpa jejak sedikitpun!" Perintah Calvin.
Ranti langsung bangkit dan bersimpuh memeluk kaki Calvin, memohon untuk tidak menyakiti Ibunya dan Hito.
"Tidak! Jangan Calvin, aku mohon, sakitin aku tapi jangan sakitin mereka. Calvin, aku mohon, maafin aku." Tangis Ranti semakin menjadi-jadi berharap Calvin mau mengabulkan permohonannya.
"Hold on!" Ucapnya di telfon itu.
"Siap, Bos." Jawab orang itu dan telfonpun terputus, Calvin membanting ponselnya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Jaminan apa yang lo kasih ke gue, Ranti?" Tanya Calvin sambil mengusap-usap dagunya untuk menahan amarahnya.
"Apapun." Jawab Ranti. Calvin tersenyum, jawaban terpaksa Ranti membuat amarahnya sedikit mereda.
"Gue minta lupain pacar lo itu dan kasih hati lo itu seutuhnya buat gue! Bisa?" Pertanyaan yang lebih bisa dibilang dengan perintah, Ranti diam sesaat.
"BISA TIDAK?!" Teriak Calvin mencoba membebaskan kakinya dari pelukan Ranti.
"Bbbisa, Calvin, bisa." Isak Ranti.
Lalu Calvin meraih tas selempang yang sedari tadi ada di pundak Ranti, membuka dan mengeluarkan semua isi dalam tas kecil itu di atas kepala Ranti.
"Wah.. Wah.. Kamu mau jadi perampok juga ya?" Sindir Calvin.
"Maaf Calvin, aaaku cuma.. Aku cuma.." Ranti tidak tau apa yang harus dia ucapkan lagi.
"Berdiri!" Perintah Calvin. "BERDIRI!" Bentaknya lagi tidak sabaran.
Ranti segera berdiri walau kaki dan tubuhnya nya sudah lemas tidak berdaya, dia mengusap air matanya Dengan kedua tangannya sambil merapihkan rambutnya yang sudah berantakan tidak karuan.
"Rambut kamu sudah kepanjangan, nanti aku panggil orang untuk merapihkan rambut kamu. Mandilah, badan kamu kotor banget."
"Iya, baik."
Calvin keluar dari kamar itu, bukannya Ranti segera mandi tapi dia menjatuhkan dirinya untuk duduk di pinggir ranjang besar itu. Seluruh tubuhnya sudah sangat lemas tak tertahankan lagi, hatinya teramat nyeri sangat nyeri sampai-sampai dia gemetaran, membayangkan kejadian tadi saat Calvin hampir menembak dirinya. Sedikit saja tembakan Calvin melesat, dia pasti sudah mati sekarang. Ranti menangis, masih menangis. Dia benar-benar sudah tidak mampu berdiri apalagi berjalan menuju kamar mandi.
Tidak lama Calvin masuk kembali membawa sebuah kotak yang sepertinya adalah kotak obat.
"Aku suruh mandi kenapa kamu malah duduk di kasur? Kamu gak tau kalau kamu itu kotor banget? Banyak debu dan serpihan batu di rambut kamu!"
"Kakiku, kakiku lemas. Gak bisa berdiri apalagi berjalan." Isak Ranti.
Calvin langsung menggendong tubuh Ranti dan membawanya masuk kedalam sebuah ruang pakaian yang masih kosong namun ruangan itu terlihat lebih besar dari ruang pakaian yang ada di kamar sebelumnya. Ketika Calvin membuka pintu kamar mandi, Rantipun terkejut karena kamar mandi inipun lebih luas dan lebih mewah dari kamar mandi sebelumnya.
Calvin mendudukan Ranti di pinggir westafel yang ukurannya lebar, lalu dia menyalakan air hangat untuk mengisi bathup nya. Sambil menunggu air penuh, Calvin membuka lemari yang ada di bawah westafel itu. Mengeluarkan lilin-lilin dan menaruhnya di pinggir bathup. Setelah lilin-lilin itu menyala, aroma wangi yang segar tercium oleh Ranti. Lalu Calvin mencampurkan sesuatu di dalam air hangat itu sehingga air itu penuh dengan busa.
Calvin melepaskan seluruh pakaian Ranti satu persatu. Dibagian sikut tangan Ranti terluka hingga dia merintih sakit saat Calvin melepaskan kaos lengan panjangnya, lututnya pun juga terluka dalam Hinggan leggingnya robek. Ketika seluruh pakaiannya tanggal, Ranti masih hanya terdiam. Rasa malu sudah hilang dalam dirinya, kini dia pasrah dengan apa yang akan Calvin lakukan padanya selanjutnya. Dia yakin, dia tau apa yang akan Calvin lakukan, menikmati tubuhnya, pasti. Apalagi dengan kesalahan fatal yang telah Ranti perbuat tadi, dia hanya bisa pasrah. Yang jelas tubuhnya sudah teramat lemas tidak bisa lagi merespon segala perintah yang keluar dari otaknya.
Bersambung...
__ADS_1