
"There is something you have to do in england, Vin. Please! your mother is dying, anytime she can die!!!" Tegas Christina saat Calvin datang kembali keruang kerjanya. Rico duduk di sampingnya, Christina di hadapannya dengan secangkir kopi hangat di atas meja.
"Vin, kayaknya bener lo harus balik dulu kesana." Rico mencoba meyakinkan Calvin, namun Calvin masih gusar dan tidak percaya. Dia tahu bahwa Ibunya punya seribu cara untuk bisa bertemu dengannya, namun dia selalu enggan bertemu walau tahu Ibunya akhir-akhir ini sakit keras.
Dia masih teringat betul momen saat Ibunya pergi meninggalkannya, saat bagaimana tangisnya meledak-ledak sambil memohon agar Ibunya tidak pergi meninggalkannya dulu.
"Calvin, aku tidak mungkin sampai ingin jauh-jauh datang kesini kalau memang tidak penting " Ucap Christina dengan logat bicara yang sangat kaku.
Clavin mengerutkan kedua dahi nya dengan jari tangannya sambil menghembuskan nafas.
"Oke. Gue akan ikut lo kesana, tapi awas kalau lo sampai bohong, Christ!"
"Cut off my ear! I'm not lying, Calvin! Oh my God, you'll see leter and hopefully your mom will still be alive when you get there, ****!" Kesal Christina terhadap sikap acuhnya Calvin.
Lalu Calvinpun berdiri dan pergi menuju kamar untuk bersiap.
"**** man! After all, she is his mother, Damn it!" Christina benar-benar merasa jengkel dan kesal pada Calvin. Dia langsung mengambil cangkir kopinya, namun dia ragu untuk meneguknya dan melirik Rico. "Ini tidak beracun, right?"
Rico tertawa kecil.
Calvin masuk kedalam kamar dengan terburu-buru, lalu dia langsung mengambil koper dari kamar pakaian dan memasukan pakaiannya dengan sangat tergesa-gesa. Ranti menghampirinya dan ikut membantu merapihkan pakaian suaminya itu kedalam koper.
"Ranti, sorry. Aku harus pergi ke Inggris sebentar. Nggak lama, mungkin cuma 2 harian." Ucapnya.
"Secepet itu? Inggris kan jauh, perjalanannya aja butuh berapa jam."
"It's ok. Aku memang nggak akan lama disana. Setelah sampai aku akan langsung pulang."
__ADS_1
Dalam hati Ranti bergumam. Masa sih mau bertemu Ibu nya yang sudah lama tidak bertemu cuma sebentar begitu?
"Apa ada masalah disana?" Tanya Ranti, dia tahu bahwa pertanyaanya tidak akan mungkin Calvin jawab.
"Cuma urusan mendesak, urusan keluarga. Ok, ini aja udah cukup. Aku pergi dulu ya. Kalau butuh apapun bisa ke Bi Tuti atau kamu... Hmmm.." Calvin ragu. "Bisa telfon aku." Ranti kaget mendengar Calvin memperbolehkannya menelfonnya, menggunakan telfon.
"Serius?"
"Yeah. Please, tapi cuma boleh telfon aku, bukan untuk telfon oranglain dan itu harus melalui Egil!!!" Perintahnya.
Ranti tersenyum. "Siap, Bos."
Melihat senyuman Ranti membuatnya semakin berat untuk pergi. Entah karena khawatir atau karena rindu, jujur dalam hatinya benar-benar sudah tergila-gila pada Ranti. Dia sayang, cinta sampai sulit untuk pergi walau hanya sebentar.
Calvin memeluk Ranti erat, mengecup bibir Ranti dan menempelkan keningnya ke kening Ranti. Lalu pergi. Tinggal lah Ranti di kamarnya sendirian. Ranti terduduk lalu merubuhkan tubuhnya ke kasur, memejamkan mata mencoba untuk tidur.
"Come on, Vin. Pesawat nya tidak punya izin lama mendarat di Airport." Ucap Christina kaku. Calvin hanya mengangguk dengan keningnya lalu mereka masuk ke dalam mobil dan pergi menuju Airport.
.
Sesampainya di Airport mereka langsung menuju landasan khusus dimana pesawat pribadi Christina parkir. Semua sudah di cek dan di urus oleh kru Christina. Dia membawa 2 awak kapal, 1 pramugari dan 1 pengawal.
"Semua barang sudah masuk, Bos." Lapor Tori.
"Ok. Gue minta tolong jaga Ranti dengan nyawa lo, Tor!" Perintah Calvin sambil menepuk sebelah bahu Tori. Tori mengangguk tegas, lalu Calvin masuk kedalam pesawat. Tidak butuh waktu lama, pesawat itu berjalan dan segera take off.
.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Calvin hanya terdiam memandang kaca, pramugari cantik pun sama sekali tidak dia tengok.
"Vin." Panggil Rico. Calvin diam.
"Vin." Panggil Rico lagi sambil menyikut pelan lengan Calvin.
"What?" Kesal Calvin.
"Itu pramugari cantik banget."
"Ambil aja."
"Oke." Girang Rico yang langsung menarik lengan pramugari cantik itu ke kabin belakang. Christina terkekeh.
"Champagne?"
Lagi-lagi Calvin hanya diam.
"Calvin, tenang saja. Ranti pasti baik-baik saja dirumah." Ucap kaku Christina.
Calvin menoleh. "Apa ada yang harus gue khawatirin? Atau lo yang punya rencana buruk?" Tanya Calvin kesal dengan raut wajah yang benar-benar kesal.
"Okay okay. I won't bother you anymore!" Sahut Christina jengkel dan semakin jengkel saat mendengar ******* nikmat Rico dari kabin belakang. "Berisikkkkk!!!!!" Sahutnya dengan logat yang sangat kaku.
Ricopun terkekeh-kekeh mendengar logat bicara Christina yang lucu itu.
Bersambung...
__ADS_1