
Setelah semua pakaian Ranti terlepas, dengan sangat hati-hati Calvin memindahkan Ranti ke dalam bath up. Rasa hangat menyelimuti tubuh Ranti, nyaman, walaupun sebagian tubuhnya yang terluka terasa sangat perih. Sesekali Ranti merintih, sekuat tenaga menahan perih, Calvin mengguyur kepala Ranti dengan shower sambil ia sibakan rambut Ranti yang kotor.
"Den, ini perlengkapan mandinya." Sahut Bi Tuti yang tiba-tiba masuk kedalam kamar mandi sambil membawakan sekeranjang perlengkapan mandi, handuk dan menghampiri Calvin yang sibuk membersihkan rambut Ranti.
"Barang-barang juga sudah saya pindahkan, Den, tapi belum saya rapihkan." Lanjut Bi Tuti melihat Ranti yang hanya terdiam.
"Besok aja, Bi rapihinnya." Kata Calvin yang sekarang sudah mengoles rambut Ranti dengan shampo strawberry milik Ranti.
"Baik, Den. Pakaian yang akan di pakai juga sudah saya siapkan."
"Ok!" Ucap Calvin tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Ranti, dia sibuk mengkeramasi rambut Ranti dan mengolesi tubuh Ranti dengan sabun yang juga beraroma strawberry.
"Saya permisi, Den, nanti saya akan antarkan makan malam." Ucap Bi Tuti lagi sambil berlalu pergi.
Setelah Bi Tuti pergi dan Calvin membasuh seluruh busa dari tubuh Ranti, tiba-tiba Ranti menangis. Dia tidak menyangka bahwa Calvin akan memandikannya seperti ini. Ranti meraih lengan tangan Calvin dan memeluknya sambil menangis.
"Aku minta maaf, maafin aku." Ucap Ranti. Entah kenapa dirinya merasa menyesal.
Calvin menarik nafas, menghentikan laju air shower namun ia melepas pelukan Ranti dan bangkit berdiri.
"Pakai handuknya!" Ucap Calvin dan keluar dari kamar mandi.
Ranti menangis memeluk kedua lututnya, lalu dia bangkit dan mengeringkan rambut dan tubuhnya. Setelah selesai dia keluar dari kamar mandi. Ruang pakaian masih kosong namun ada beberapa koper besar. Bi Tuti belum sempat membereskan barang-barang nya yang masih ada di dalam koper-koper itu.
Lalu dia keluar dari ruang pakaian. Ranti terperangah saat dia memperhatikan kamar barunya ini yang lebih besar dan mewah dari kamar sebelumnya, ranjangnya menghadap ke arah jendela bertirai lebar dengan meja laci kecil mengapit. Dibelakang ranjang mewah itu terdapat tembok pembatas, terdapat sofa santai berwarna gading dengan meja di tengah-tengahnya serta televisi tipis berdiri kokoh di atas bufet lengkap dengan home teather. Lalu di sebelah kiri dari pintu ruang pakaiannya terdapat meja rias berwarna serasi dengan seluruh isi kamar ini. Semua barang-barang ini memang benar-benar mewah, seketika Ranti terkesima dengan kemewahan yang Calvin berikan ini.
Ranti menghampiri jendela dan membukanya sedikit, hari sudah gelap tidak ada yang bisa dia lihat dari dalam selain sebuah teras dengan pagar rendah. Di teras itu ada bangku pantai dan meja kecil berbahan kaca.
Ranti melamun sampai tidak sadar jika Calvin sudah berdiri di belakangnya. Menyentuh kedua pundak Ranti, menunduk sambil mengecup leher Ranti yang terbuka karena rambutnya dia lilit dengan handuk. Rasa geli membanjiri kulit tubuhnya tapi dia menikmati sambil memejamkan matanya.
"Aku minta maaf, Calvin, sungguh aku minta maaf." Ucap Ranti menyesal menikmati deru nafas Calvin.
"Sssshhhhtttt..." Seru Calvin menyuruh Ranti untuk diam masih sambil mengecup lembut leher Ranti. Sebelah tangannya menurunkan kerah handuk piyama Ranti dan mengecup pundak Ranti, Ranti terus memejamkan mata berusaha untuk tetap menikmati kegiatan yang Calvin lakukan.
Calvin memeluknya dari belakang dan membawanya ke ranjang, mereka duduk di tepi ranjang. Lalu Calvin mengeluarkan obat oles untuk mengobati luka Ranti. Dalam diam Calvin hanya fokus mengolesin sikut dan pinggir bibir Ranti. Ranti meringis sakit, luka di ujung bibirnya itu sangat perih sampai pipinyapun terasa ngilu. Sesekali Calvin berhenti mengolesnya melihat Ranti kesakitan diapun tak tega bahkan dalam hati dia mencaci dirinya sendiri yang telah menampar keras wajah gadis yang sangat dia cintai itu. Lalu dia berlutut untuk mengolesi luka di lutut Ranti. Ranti meringis lagi.
"Aw.."
"Luka kamu lumayan dalam, pasti perih banget ya."
Tidak lama pintu terbuka, Harry dan Rico masuk dengan terburu-buru ingin tau keadaan Ranti separah apa sampai Harry harus datang dengan perlengkapannya.
"Kenapa lama banget sih?!" Tanya Calvin kesal dan bangkit berdiri.
"Lo lagi apa, Vin?" Tanya Harry heran melihat Calvin berlutut di hadapan Ranti tadi. Ricopun menggeleng tidak percaya jika Ranti masih terlihat baik-baik saja karena dia kira Ranti akan habis babak belur karena kemarahan Calvin.
"Ngobatin lukanya Ranti. Cepet obatin, itu harus di oprasi kayaknya!" Sahut Calvin.
Harry bergegas memeriksa luka di lutut Ranti, dia hampir tertawa terbahak-bahak namun sekuat tenaga dia tahan.
"Gak perlu oprasi juga, Vin. Ini gw oles salep aja, lama-lama nutup sendiri kok lukanya." Ujar Harry.
__ADS_1
"Tapi nanti berbekas gak?" Tanya Calvin khawatir.
"Berbekas sedikit, kulit Ranti mengandung keloid jadi kalau luka kayak gini bakal berbekas, Vin. kayak luka di pergelangan tangannya ini." Harry menunjuk pergelangan tangan Ranti namun tidak berani menyentuh.
"Hmm.. Ya sudah kalian keluar sana, bilang Bi Tuti siapin makan malam!" Perintah Calvin.
"Oke oke." Ujar Harry tersenyum pamit kepada Ranti dan menyenggol Rico. Rico mengikuti Harry keluar.
"Kamu denger kan apa kata Harry tadi? Kulit kamu itu kalau terluka sedikit aja bisa berbekas. Kamu perempuan, cantik, aku gak mau liat kamu punya bekas luka lagi!" Ujar Calvin kesal.
Lagi-lagi Ranti hanya bisa mengucapkan kata "Maaf."
"Kamu janji ya, jangan pernah lagi terluka!" Calvin duduk disebelah Ranti.
Ranti mengangguk dan memeluk Calvin. Kali ini Calvin menyambut pelukannya, mengelus lembut punggung Ranti.
"Maaf, aku janji aku gak akan terluka lagi." Ucap Ranti menenggelamkan wajahnya di dada Calvin.
"Aku maafin, Ran, tapi aku cuma minta 1 sama kamu. Tolong berusahalah untuk bisa mencintai aku, lupain Ardi!" Ucap Calvin masih terus mengelus punggung Ranti.
"Akan aku usahain. Tapi aku mohon jangan sakitin Ibu dan Hito, tolong jangan sakitin mereka lagi." Pinta Ranti.
"Iya, aku janji." Jawab Calvin.
Asal kamu tau, Ran, aku gak pernah nyakitin mereka. Aku tau kamu sayang banget sama mereka, aku bahkan membantu kehidupan mereka, bahkan Ayah dan Anto bisa hidup senang berkat aku. Ucap Calvin dalam hati.
Bi Tuti masuk ke dalam kamar membawa nampan berisikan makan malam dan bongkahan es batu di dalam kain untuk mengkompres pipi Ranti yang lebam serta sebuah pil. Ranti menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang. Bi Tuti meletakan nampan itu ke pangkuan Ranti.
"Makan yang banyak ya, kamu terlalu kurus!" Seru Calvin. "Habis makan tidur duluan aja, aku keluar dulu. Jangan lupa kompres pipi kamu dan jangan pernah lagi berusaha untuk kabur, kamu gak akan pernah bisa kabur dari aku!" Tegas Calvin.
Ranti menatap nanar Calvin, tersenyum kecil mengiyakan perintahnya. Lalu Calvin mengecup kepala Ranti dan bergegas keluar bersama Bi Tuti.
Ranti menatap makanannya, iga bakar dengan tumisan sayur dan nasi putih. Terlihat sangat lezat, perut Rantipun sudah keroncongan. Dia meraih garpu dan sendok nya, daging nya empuk dan setelah ia makan betapa enaknya makanan ini. Untuk pertama kalinya Ranti bisa melahap makanannya sampai habis sambil mengutuk dirinya sendiri karena menyerah dengan nikmat yang diberikan Calvin. Dengan segala kebaikan Calvin, walaupun dia hanya hidup di dalam ruangan kamar ini tapi entah mengapa dia mulai bisa menerima kehidupannya. Dia mulai merasakan sesuatu pada Calvin.
"Ardi, maafin aku yang akan berusaha untuk melupakan kamu." Gumamnya meneteskan air matanya lagi.
**********
Calvin turun menuju ruang kerjanya. Masih ada Harry dan Rico disana mengobrol dan meneguk minuman alkoholnya.
"Gue kira Ranti separah apa sampe manggil gue." Ucap Harry.
"Gue kira Ranti abis babak belur, Vin." Timpal Rico.
Calvin duduk merebahkan tubuhnya di atas sofa di sebelah Rico, Harry menatap heran Calvin yang terduduk lelah di hadapannya.
"Gue gak bisa nyakitin dia." Jawab Calvin.
"Tapi ada luka di ujung bibirnya, Vin. Pipinya juga memar." Ucap Harry lagi.
"Yeah, gue cuma bisa nampar dia aja. Gue kesel banget tadi, gue hampir mau habisin dia juga tapi gue gak tega, gue tahan amarah gue sekuat tenaga gue!"
__ADS_1
Rico dan Harry saling pandang, lalu bertepuk tangan tidak percaya dengan kemarahan yang mampu Calvin tahan.
"Gila gila.. Gila banget lo, Vin, bisa nahan amarah sampe segitunya. Gue fikir lo bakal habisin Ranti dan nyuruh Bram buat habisin keluarganya juga." Sahut Rico.
Calvin menyalakan rokoknya, menghisap nya dalam-dalam dan mengepulkan asap dari mulutnya.
"Gue emang udah gila, gue gak tau kenapa gue bisa sayang banget sama dia."
"Apa lo bakal punya anak dari Ranti?" Tanya Harry tiba-tiba mengagetkan Calvin dan juga Rico.
"Anak? Nooo! I don't think to have a baby!"
Rico tergelak.
"Berarti lo cuma iba, bukan cinta yang sesungguhnya. Karena kalau lo beneran cinta sama dia, lo pasti akan punya kemauan untuk punya anak dari dia." Lanjut Harry.
Calvin menghisap rokoknya lavi, mengepulkan asapnya ke udara sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Anak? Yang benar saja! Ucapnya dalam hati.
Setelah rokoknya habis dia bangkit dan hendak keluar.
"Heh, mau kemana?" Tanya Rico.
"Tidur."
"Wewww.. Ranti bener-bener hebat bisa bikin lo betah dirumah apalagi sampe betah di kamar. Hahahaaa.." Ucap Harry tertawa geli.
"Dokter Kenzo udah balik dari Jepang, Vin. Dia ada di lab bawah." Sahut Rico.
"Oh udah balik dia? Ya udah lo urus aja, Ric. Gue cape mau tidur." Seru Calvin.
"Mau tidur atau mau nyodok?!" Celetuk Harry tergelak diikuti dengan suara tertawanya Rico.
Calvin hanya menatap sinis 2 sahabatnya itu dan pergi ke kamar atas.
"Udah tidur dia?" Tanya Calvin pada Beno si penjaga kamar.
"Sepertinya sudah, Bos!" Jawabnya tegas.
"Bilang ke semua penjaga rumah ini harus extra ketat jaga Ranti, tambah penjaga di taman bawah kamar gue ini!" Perintah Calvin.
"Sudah, Bos." Jawab Beno.
Calvin masuk dan mengunci pintu kamar. Kamar itu masih terang namun Ranti sudah tertidur pulas di ranjangnya masih dengan memakai handuk piyama nya namun handuk di kepalanya sudah dia lepas. Calvin mematikan lampu-lampu dan hanya menyisakan lampu di atas meja kecil samping Ranti. Dia merebahkan tubuhnya di sebelah Ranti, menyelimuti tubuh Ranti dan memandang lekat wajah Ranti.
Apa sih yang bikin gue bisa jatuh cinta sama anak kecil ini? Tanya nya dalam hati. Calvin nyengir dan menggelengkan kepalanya bingung. What? Anak kecil? Lagi-lagi dia geli memikirnya anak kecil. Calvin gemas dengan wajah Ranti yang sedang terlelap tidur, dia memeluk tubuh Ranti, mengecup seluruh wajah Ranti, menghirup aroma strawberry yang melekat dalam rambut Ranti.
"Hmmm.. Wangi.." Gumamnya.
Ranti mengerang sebentar namun tetap tertidur dan Calvin menenggelamkan wajahnya di rambut Ranti, tertidur dengan pulas dalam selimut bersama Ranti sambil memeluk erat tubuh Ranti.
__ADS_1
Bersambung...