Love in Patience

Love in Patience
Episode 32 (Hotel)


__ADS_3

Calvin dan Rico keluar dari mobil memasuki hotel setelah Rico memberikan kunci kepada petugas Valet. Lobi hotel itu mewah dan megah. Para petugas hotel sudah biasa dengan kedatangan Calvin mereka hanya menunduk sopan. 1 orang petugas hotel dengan pakaian yang lebih lengkap beda dari petugas lainnya, petugas hotel ini sebagai Manager hotel menyambut kedatangan Calvin.


"Siang, Tuan. Anak buah Tuan sudah lebih dulu di room." Sapa petugas itu dengan sopan lalu mengantar mereka.


"Gak usah di antar, Mas." Ucap Rico.


"Baik, Tuan. Saya bantu tekan tombol lift nya ya." Manager itu menekan tombol lift dan pamit pergi.


"Siapin semuanya ya." Pinta Rico sopan, lalu orang itu pun mengangguk. Sudah tau apa yang dimaksud Rico.


Pintu lift terbuka dan merekapun masuk lalu lift beranjak naik. Setelah sampai di lantai yang dimaksud, pintu lift terbuka dan mereka segera berjalan masuk ke dalam kamar yang sudah di pesan. Rico menekan tombol bel dan pintu segera di buka. Kamar itu mewah dan luas serta ada sebuah ruang tamu yang terpisah dengan sebuah sekatan mewah lengkap dengan pajangan-pajangannya.


Diruang tamu itu sudah ada Anto yang terduduk gemetar dengan kepala yang masih terbungkus kantong hitam. Tangan, kaki dan tubuhnya diikat. Sering kali dia mencoba untuk meronta tapi sia-sia karena sedari tadi ikatan itu tetap mengikatnya kencang tidak kendur sedikitpun.


"Calvin." Panggil manja wanita yang duduk di sofa dengan anggun. Wanita itu berambut pirang ikal yang sengaja dia ikal, wajahnya bermake'up tebal dengan bibir yang juga tebal berwarna merah terang. Wanita itu mengenakan gaun ketat berwarna ungu dengan belahan dada yang super rendah memperlihatkan jelas buah dadanya yang begitu menggoda.


Wanita itu bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Calvin. Memeluk manja Calvin, menggeliat menggoda tidak peduli dengan situasi yang banyak orang begini. Calvin tidak menghiraukan hanya berdiri diam di depan Anto.


Tori melepaskan kantung penutup kepala Anto. Dilihatnya Calvin di hadapannya dan seorang wanita sexy berdiri manja menempelkan tubuhnya ke Calvin.


"Ampun, Bos. Tolong jangan bunuh saya, saya janji akan berubah." Isak Anto menundukkan kepalanya.


Calvin diam dan hanya menatapnya jijik. Lalu beralih ke wanita sexy disampingnya. "Tolong lo service orang ini!"


"Hah? Gak salah? Kamu mau aku service orang ini?" Protes Aneta. "Beibiiii.. Aku fikir untuk kamu, aku sampai harus dandan secantik ini." Aneta menyentuh pipi Calvin dan menoleh ke arah Anto. "Kalau cuma untuk orang itu buat apa aku secantik ini?! Protesnya manja karena yang dia mau hanyalah Calvin.


Calvin yang mulai risih langsung melepaskan sentuhan tangan Aneta dan menghempaskannya agar duduk di atas pangguan Anto yang lunglai. Aneta bahkan harus menahan tubuhnya sendiri karena takut terjatuh dari pangkuan Anto.


"Calvin." Sahut Aneta cemberut.


Calvin mengibaskan tangannya malas dan menyuruhnya untuk segera menyervice Anto. Aneta berdiri.

__ADS_1


"Tapi kasih aku imbalan yang mahal ya." Pintanya sambil bertolak pinggang.


"Berapa?"


"Kamu. Calvin aku cuma pengen kamu. Sekaliiii aja yaaa.. Please." Aneta sampai harus mengatupkan kedua tangannya memohon untuk bisa tidur lagi bersama Calvin.


Mereka memang pernah tinggal bersama sebelumnya, Aneta adalah gadis yang dulunya bekerja sebagai penerima tamu di Club malam miliknya. Saat itu Aneta masih berusia 16 tahun di jual oleh rekan mafia nya sebagai wanita penghibur. Karena Aneta masih kaku dalam dunia malam diapun sering kena marah oleh atasannya seorang Mami yang dipercaya mengurus wanita penghibur. Dari PR, penari striptis hingga wanita 1 malam.


Calvin tertarik pada Aneta karena Aneta gadis muda, lugu dan pastinya perawan. Setelah puas dengan Aneta dia sebenarnya ingin segera menghabisi wanita itu karena selalu merengek minta pertanggung jawaban Calvin. Namun karena kasihan dengan umurnya yang masih sangat muda, Calvin pun mengampuni dan membebaskannya, memberi pekerjaan tetap untuk menghibur tamu di Club. Sedih dan kecewa namun harus dia terima demi tetap bisa hidup dan setidaknya dia masih bisa dekat dengan Calvin walaupun rasa cemburu selalu ada di hatinya saat Calvin mencicipin setiap keperawan wanita lain. Terlebih lagi saat dia mendengar kabar bahwa Calvin sudah menikah dengan wanita muda yang usianya sama pada saat dia bertemu dengan Calvin.


"Oke!" Mendengar jawaban Calvin Aneta langsung sumeringah dan bersemangat.


"Tapi tolong bersihin dulu orang ini. Lihat tubuhnya berkeringat sekali dan hidungnya penuh ingus mana mungkin aku bisa nafsu." Aneta menunjuk Anto. Calvin menyetujui tanpa suara ke arah 2 pengawalnya lalu 2 pengawal itu segera menyeret Anto menuju kamar mandi.


Sambil menunggu Anto dibersihkan, Calvin dan Rico duduk di sofa. Aneta duduk di pangkuan Calvin dengan lancang, wajah Calvin terlihat risih.


"Semenjak menikah kamu jarang ke Club, aku kangen." Ucap Aneta manja menyentuh-nyentuh tubuh Calvin, mengusapnya dari dada turun ke perut lalu ke bagian bawahnya lagi.


"Kamu masih panggil aku Anet, kamu pasti masih punya perasaan kan ke aku?"


Calvin mendengus kesal membuang muka dari hadapan Aneta. Rico pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Beibiii.. Istri kamu seperti apa? Apa secantik aku? Selincah aku di ranjang? Atau lebih lincah? Beibiii..." Aneta menutup pembicaraannya dengan mendaratkan ciumannya di bibir Calvin. Lembut, pelan dan dalam.


Calvin membuka mulutnya membiarkan Aneta memainkan ciuman di bibirnya tanpa dia sambut. Aneta mulai kehilangan kontrol, mencoba membuka ikat pinggang Calvin namun segera di cegah Calvin dan melepaskan ciumannya.


"Jangan nyari gara-gara, Net!" Ujar Calvin mendorong tubuh Aneta agar menjauh darinya.


Aneta tersenyum manja. "Aku gak sabar nanti lho." Ujarnya meninggalkan ruang tamu dan berjalan ke tempat tidur.


Anto sudah duduk diam di pinggir tempat tidur mengenakan handuk piyama. Dia sudah bersih, rambutnya pun basah karena habis mandi. Aneta memperhatikan sekitar kamar, sudah tidak ada pengawal. Dikamar itu hanya tinggal dirinya, Anto, Calvin dan Rico yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Hei. Tolong lo turunin nih retsleting baju gue!" Ucapnya kasar berdiri memunggungi Anto.


Dengan lemas Anto berdiri dan menurunkan retsleting gaun ketat milik Aneta. Tinggi mereka sejajar dengan heals Aneta yang masih dia pakai. Setelah retsleting nya turun, Anto kembali duduk lagi, tubuhnya masih gemetar. Dia bingung apa maksudnya Calvin memberikan wanita sexy ini untuknya? Dia memang masih perjaka, dia belum tau harus bagaimana, ini pertama kalinya dia akan melakukan yang kata orang adalah surga dunia nya para lelaki. Umurnya saat ini 25 tahun, selain berjudi diapun suka mabuk dan main perempuan tapi itu hanya sebatas cium-ciuman dan sentuh sana-sini tapi belum pernah berani untuk melakukannya, dia masih takut jika sewaktu-waktu wanita yang dia tiduri akan hamil nantinya.


Gaun Anet dibiarkan terjatuh ke lantai, dia duduk di pangkuan Anto. Aneta merasakan tubuh Anto yang gemetaran. "Relax. Gue akan muasin lo sampai gemetaran lo ini hilang." Ucapnya lembut mencium bibir Anto. Tangan Aneta melingkar di leher Anto, Anto meletakan tangannya di paha Aneta tanpa bergerak sedikitpun karena diapun masih gemetar takut sesuatu akan terjadi.


Anto mulai membuka mulutnya, menyambut dan membalas ciuman Aneta. Ciuman mereka semakin panas, dalam dan kasar.


Kalaupun ada sesuatu yang akan terjadi seenggaknya gue udah ngerasain ini untuk pertama dan yang terakhir. Gila cewek ini sexy banget. Bathin Anto sambil mengikuti irama bibir Aneta yang semakin bergairah membuatnya susah untuk bernafas.


Anto mulai memberanikan diri memegang bukit kembar Aneta yang sangat menonjol itu namun cepat-cepat ia tarik kembali tangannya. Aneta melepaskan ciumannya sambil tersenyum.


"It's oke baby, jangan takut." Aneta menyeringai sikap Anto yang seperti baru pertama kalinya. Karena itu Aneta malah semakin bergairah ingin merasakan keperjakaan laki-laki.


Aneta melepaskan handuk Anto dan menciumin leher Anto. Lalu Aneta mendorong tubuh Anto ke ranjang dan menaikinya. Sambil menciumin leher dan tubuh Anto, Aneta menggesek-gesekan kepunyaannya ke kepunyaannya Anto. Anto yang baru pertama kali pun langsung mengerang dan menarik tubuh Aneta agar menempel ke tubuhnya menciumi bibir Aneta secara rakus.


Aneta bangkit, mulai memasuki kepunyaan Anto yang sudah tegang sedari tadi ke dalam liangnya dan mulai bergoyang. Mereka saling mendesah dan mengerang.


Ahhh.. Jadi begini yaaa rasanya laki-laki perjaka. Bathin Aneta sesaat ia merasa berterima kasih pada Calvin karena telah memberikan seorang perjaka kepadanya karena dia belum pernah menyicipi keperjakaan laki-laki sebelumnya.


Bel kamar berbunyi, namun Aneta mengacuhkan suara itu. Dia tau pasti Rico yang akan mengurus jika ada sesuatu yang akan masuk ke kamar ini. Anto mencoba untuk menghentikan goyangan Aneta karena merasa risih jikalau ada orang lain lagi masuk namun di cegah Aneta dia dengan agresif menggoyangkan tubuhnya menggeliat di atas tubuh Anto. Anto pun merasakan sensasi yang sangat tinggi mendangakkan wajahnya melihat ke langit-langit kamar dan sangat terkejut saat tidak sengaja dia melihat ke belakang tubuh Aneta. Belum sempat dia memberi peringatan kepada Aneta, Anetapun langsung ambruk dengan darah yang bermuncratan kemana-mana mengenai wajah Anto.


Anto menjerit, tubuhnya gemetar hebat lebih hebat dari tadi. Dia bahkan seperti terkena serangan jantung saat tubuh Aneta tergeletak di atas tubuhnya dengan mulut mengeluarkan darah. Tubuh Aneta masih bernafas namun berat, sekarat. Anto menghempaskan tubuh Aneta ke samping nya, terlentang di tempat tidur. Lalu Anto bangkit dan memuntahkan isi perutnya ke lantai berkarpet. Calvin masih berdiri santai di ujung tempat tidur sambil meniup ujung senapannya.


Calvin menghampiri Aneta dari sebrang pinggir ranjang, menatap kesal wajah Aneta yang masih sekarat.


"Lo pikir gue gak tau apa yang udah lo lakuin di belakang gue?! Sampai tadi pun lo seenaknya aja nyium bibir gue yang berharga ini. Cuih!" Calvin meludahi wajah Aneta. Memandang wajah Aneta tanpa belas kasih. Hanya kata-kata itu yang bisa Aneta dengar, diapun meneteskan air mata terakhirnya dan menghembuskan nafas terakhirnya.


Calvin terbahak melihat mayat Aneta di hadapannya itu. Anto mengintip diam-diam dari tempatnya berbaring setengah duduk setelah muntah, tubuhnya semakin gemetaran saat melihat wajah menakutkan Calvin. Sungguh mulai detik itu juga dia merasa menyesal telah masuk ke dalam kehidupan gelap ini. Untuk pertama kalinya dia merasa khawatir pada Ranti, adik tirinya yang tidak pernah dia anggap itu.


Bagaimana bisa kamu hidup dengan laki-laki menakutkan itu, Ti? Maafin Mas." Isaknya menangis kejer. Setidaknya dia sempat menyesal dan meminta maaf pada Ranti walaupun Ranti tidak mendengarnya sebelum dia mati. Dia yakin dia akan mati hari ini juga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2