Love in Patience

Love in Patience
Episode 33 (Lemas)


__ADS_3

Setelah puas menatap mayat Anet, Calvin menghampiri Anto yang masih menangis dan muntah-muntah. Calvin memandangnya jijik dan sedikit menjauh dari tempat Anto berada. Tori datang dan melemparkan handuk piyama untuk Anto.


"Heh! Cepet bersihin badan lo! Muntah di kamar mandi gih sana!" Perintah Tori.


"Cepet, To! Waktu kita sedikit jangan bikin gue nunggu lama disini, lo mau polisi keburu dateng?" Ancam Calvin.


Anto merasa bersyukur tapi juga belum lega. Dia berjalan cepat setengah berlari menuju kamar mandi. Anto memuntahkan lagi isi perutnya di westafel sambil menangis mengingat peristiwa mengerikan tadi. Dia tidak percaya bila Calvin sekejam itu tega menghabisi wanita sekalipun. Dia lagi-lagi lolos dari maut, tapi untuk yang kedua kalinya dia mengkhawatirkan Ranti lagi. Dia benar-benat menyesal telah menjual Adik tiri nya kepada orang sekejam Calvin.


"Bagaimana nasib kamu selama ini, Ti?" Gumamnya sambil terisak. Dadanya nyeri, perutnya mual. Terdengar suara gebrakan pintu dari luar. Tori teriak memerintah.


"Anto! Jangan cengeng! Cepet bersihin badan lo atau lo kita tinggal disini sendirian!"


Mendengar peringatan itu Anto segera mencuci wajahnya dan membasuh seluruh tubuhnya. Membersihkan kelaminnya dari cairan wanita tadi dan dia menjadi geli sendiri karena saat kejadian itu mereka benar-benar sedang menikmati permainan, bahkan sedikit lagi Anto merasa klimaks. Air shower membasuh tubuhnya dari atas, melindungi matanya dari air sabun, Anto memejamkan matanya sebentar namun tubuhnya langsung bergidik ngeri melihat wajah wanita itu lagi yang sedang bergairah tiba-tiba harus mati. Di atas tubuhnya, tepat di atas tubuhnya. Anto roboh dan terduduk di pojok kamar mandi. Lagi-lagi Tori menggebrak pintu kamar mandi, Anto langsung cepat-cepat menyelesaikan mandinya dan berpakaian dengan pakaian baru yang sudah di siapkan di atas westafel.


Dia menatap bayangan dirinya di hadapan cermin, mengasihani dirinya sendiri. Harus bagaimana dia sekarang? Jangankan menyelamatkan Ranti, menyelamatkan dirinya sendiri sekarang pun dia tidak mampu. Akhirnya Anto keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas dan kaki lunglai. Tubuhnya masih gemetaran, kakinya susah untuk di gerakan namun sekuat tenaga dia mencoba untuk berjalan.


Keluar dari kamar mandi dia melihat 2 pengawalnya yang tadi menyeretnya sedang sibuk membersihkan dan merapihkan tempat kejadian, mayat Anet sudah tidak ada namun ada sebuah koper besar di ruang tamu yang sedang di pegang Tori siap untuk di bawa.


Wanita tadi pasti ada di dalam koper itu. Bathinnya.


Anto berdiri di pinggir ruang tamu, lalu Calvin pun mengajaknya untuk pulang.


"Ayo pulang. Gue punya istri dirumah yang pasti nungguin gue pulang." Ujar Calvin berjalan melewati Anto bersama Rico.


Ranti. Ranti. Maafin Mas. Lirihnya dalam hati.


Mereka berjalan keluar menyusuri lorong hotel. Tori dengan santai nya menggeret koper itu seperti tamu yang sedang check out. Anto berjalan sejajar bersama Tori dan Calvin bersama Rico berjalan sejajar di depannya. Untuk sekedar berjalan pun Anto berusaha dengan kuat, kakinya benar-benar lemas dan sesering mungkin mengucap doa-doa agar dia bisa selamat dari sini tanpa ada polisi yang menangkapnya.


Tapi bagaiman mereka bisa sesantai ini? 2 pengawal tadi bahkan masih sibuk merapihkan tempat kejadian.


Pintu lift terbuka. Manager di bawah tadi datang bersama 2 orang cleaning service yang membawa peralatan kebersihan. Mereka mengangguk sopan pada Rico dan Calvin.


"Sudah selesai, Tuan?" Tanya Manager itu.


"Sudah, tolong dibersihkan." Jawab Rico santai.


"Baik, permisi." Ujar Manager hotel itu.


Lalu mereka masuk kedalam lift. Anto terbelalak saat petugas hotel itu bersikap seperti sudah tau, sepertinya kejadiannya ini memang sudah biasa. Diapun menggeleng lemas.


Mereka sudah di basement hotel.

__ADS_1


"Lo pulang sendiri aja, Ric. Gue ikut Tori sama Anto." Ucap Calvin.


"Oke." Merekapun berpencar.


Tori membuka bagasi belakang mobil dan memasukan koper berisikan mayat Aneta, lalu membukakan pintu mobil untuk Calvin. Menyuruh Anto untuk duduk di depan di sebelahnya dan mobil pun berjalan pulang.


Sepanjang perjalanan Anto hanya diam saja, melamun menahan mual. Mualnya belum hilang, yang ada di mata nya hanya wanita tadi.


"Mayatnya mau di apakan, Bos?" Tanya Tori sambil menyetir kemudi.


"Bakar ajalah langsung jadiin abu." Jawab Calvin santai sambil mengotak-atik ponselnya.


"Oke, Bos."


Anto melirik sebentar ke arah Calvin dari kaca atas, dia merinding melihat wajah Calvin yang cuek seperti tidak terjadi apa-apa.


"Abu nya nanti kasih Anto aja." Sahut Calvin. Anto kaget.


"Aapa? Un..untuk apa, Bbos?" Tanya nya ngeri.


"Kenang-kenangan. Hahaha." Ledek Calvin tertawa terbahak. "Kenangan terindah lo, To!"


Setelah selesai muntah mobil berjalan lagi menuju rumah. Gerbang besar rumah terbuka saat mobil melaju masuk melewati taman depan dengan air mancur di tengah-tengah nya. Tori membukakan pintu mobil dan Calvinpun turun dari mobil. Anto meliriknya dari dalam mobil, ada 3 orang pelayan berdiri di teras rumah menyambut kedatangan Calvin membungkukan badan lalu Calvin segera beranjak menaiki anak tangga dan berjalan masuk kerumah.


Ah! Harus seperti itukah pelayan memberi hormat saat Bos sampai dirumah? Anto tidak percaya masih ada tata krama seperti itu.


Tori menjalankan lagi mobilnya menuju samping rumah ke garasi belakang rumah lalu mengeluarkan koper besar itu berjalan bersama Anto ke ruang bawah tanah. Anto hanya nurut saja mengikuti Tori, tubuhnya masih lemas dan jalan pun masih lunglai.


Pintu sel terbuka, Anto masuk kedalam sel yang sama dengan Budiman. Setelah pintu sel tertutup dan terkunci Budiman segera memeluk Anto dan menggiringnya duduk di pojok sel.


"Syukurlah, Anto kamu masih hidup. Ayah bener-bener khawatir kamu di habisi." Ucap Budiman memegang kedua tangan Anto. Namun Anto hanya diam terduduk lemas dengan menjulurkan kedua kakinya. Kakinya seperti tidak bertulang.


Melihat putranya lemas dan hanya melamun tanpa memperdulikannya, Budiman menjadi bingung. "Hei, Anto. Kamu kenapa sih? Ayah khawatir banget sama kamu." Budiman menggoyang-goyang kan tubuh Anto. Semakin kencang barulah Anto tersadar lalu menangis memeluk Ayahnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Budiman bingung namun Anto masih hanya menangis dan terus menangis dalam pelukan Budiman.


**********


Bi Tuti dan 2 pelayan menyambut kedatangan Calvin di teras rumah, mereka membungkuk dan mengikuti Calvin masuk ke dalam rumah.


"Ranti bagaiman, Bi?" Tanya Calvin sambil berjalan santai menaiki tangga menuju kamarnya. Akhir-akhir ini semenjak ada Ranti di rumahnya dia menjadi lebih sering di rumah dan selalu menyempatkan waktu untuk pulang. Apalagi wajahnya yang dingin perlahan berubah menjadi sedikit ramah.

__ADS_1


"Nona merasa senang, Den. Bibi perhatiin setelah Den Calvin menyuruhnya keluar kamar Nona jadi sering senyum." Jawab Bi Tuti.


"Oya? Bener?"


"Bener, Den."


Egil segera berdiri saat Calvin sampai di pintu kamarnya. Membukakan pintu kamar. Malam ini jamnya Egil yang berjaga.


"Ranti masih tetap minum pil nya kan Bi?"


"Tentu, Den. Tidak pernah terlewat. Setiap habis makan malam, Bibi selalu pastikan Nona meminum pil nya."


"Bagus." Lalu Calvin pun masuk kedalam.


"Permisi, Den." Pamit Bi Tuti.


Setelah mengunci pintu, Calvin melihat Ranti tidur di sofa dengan posisi duduk menyender masih sambil memegang remote tv dan tv masih menyala. Calvin menghampiri Ranti berjalan pelan, berjongkok di depan Ranti. Dia memandangi wajah imut istrinya itu sambil berusaha mengambil remote tv yang ada di tangan Ranti berhati-hati agar Ranti tidak bangun dari tidurnya.


Namun saat remote sudah berpindah tangan, Ranti terbangun. Cepat-cepat Calvin mematikan tv nya.


"Kamu udah pulang." Ucapnya parau menyipitkan matanya.


"Kamu ngapain tidur disini? Bukannya di kasur." Calvin menghela nafas menatap wajah imut Ranti yang terbangun.


"Ketiduran, kirain kamu cuma sebentar ternyata lama juga ya. Jam berapa sekarang?" Ranti mengusap matanya mencoba melihat jam yang bertengger di dinding.


Mendengar jawaban Ranti yang menunggunya membuat hati Calvin terhenyut. Sekarang dia sudah punya istri, namun istri dari seorang pembunuh. Seorang mafia. Sekejap dia merasa kasihan terhadap Ranti yang mempunyai suami sekejam dirinya, bahkan tadi dia habis membunuh wanita yang usianya tidak jauh dari usia istrinya.


Calvin menarik nafas panjang. "Ayo tidur." Ajak Calvin mengangkat tubuh Ranti.


"Aku bisa jalan sendiri ah."


"Ssshhhhh.. Jangan protes aku gak suka di protes!" Ucapnya galak membawa Ranti ke ranjang. Menidurkannya dan menyelimutinya.


Sebenarnya dia ingin langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri namun melihat wajah Ranti yang menggemaskan di tambah dengan bibirnya yang terlihat cipokable membuat Calvin lupa segalanya.


Calvin langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Ranti dengan rakus ******* bibir Ranti lalu menghempaskan selimut yang baru saja dia taruh di atas Ranti. Ranti melingkar kan kedua tangannya di leher suaminya, Calvin menindih tubuh Ranti. Ranti melepaskan baju Calvin lalu segera membentangkan kedua kakinya dan semua keadaan sudah tidak terkendali. Ranti semakin hari semakin menikmati setiap ciuman Calvin, sentuhan Calvin dan semua yang Calvin lakukan padanya dia benar-benar sangat menikmatinya.


Aku jatuh cinta, sudah jatuh cinta. Bathinnya dan Rantipun terhanyut dalam kenikmatannya lagi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2