
Calvin berdiri di pinggir jendela ruang kerjanya pagi ini sambil memegang cangkir berisikan kopi hitam hangatnya, sesekali dia tiup kopi itu sebelum dia teguk sedikit-sedikit. Cuaca sangat cerah seharusnya dia sudah berangkat ke Singapore untuk bertemu dengan rekan mafia Ayahnya tapi ada sesuatu yang mengganjal hatinya untuk berangkat, akhirnya dia putuskan untuk tetap dirumah.
Pintu terjeblak terbuka, Rico masuk dengan raut wajah kesal menghampiri Calvin yang malah asyik meneguk kopi hangatnya sambil melihat-lihat keluar jendela.
"Hei! Om Surya marah-marah di telfon. Gue udah di Airport dari pagi-pagi buta, Vin! Tiba-tiba Tori telfon katanya lo gak jadi berangkat, kenapa?!" Seru Rico kesal.
"Sorry, Ric. Gue kesiangan tadi." Jawab Calvin datar. Rico menggeleng.
"Alasan apa sih itu?" Rico gusar, menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Calvin menghampiri dan duduk di depan Rico.
"Gue tadi udah buru-buru mau berangkat, tiba-tiba ada video call dari nyokap gue yang di London." Ucap Calvin menaruh cangkir kopinya.
" Nyokap bule lo?"
"Iya, nyokap-nyokap gue yang lainnya asli orang Indonesia, Bokap benci sama bule. Tapi lucunya dia bersikeras maksa gue buat nikah sama bule Italy itu, Cuih!"
"Kebanyakan nyokap. Hahaha.. Dan karna si bule itu ponakannya Mr. Alessandro, Vin. Waktu kita kesana, Om Surya bener-bener serius mau lo sama si pirang itu! Siapa deh namanya, gue lupa?"
Calvin mengangkat bahunya tanda tidak tau, selama dia di Italy perempuan itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Wanita bule dengan rambut pirang ikal dan lipstick merah yang tebal memenuhi bibirnya yang memang bisa di bilang cukup sexy. Tapi dia tidak menyukai penampilan bule itu, dia malah membandingkan dengan penampilan Ranti yang terlihat kalem. Ranti dengan riasan sederhana dan dengan penampilannya yang tidak terlalu mencolok, sepintas dia membayangkan bagaimana jika Ranti berpenampilan sexy seperti bule itu? Apa dia bisa? Pasti lebih cantik dan dia tidak menampik jika dia akan lebih merasa jatuh cinta lagi pada Ranti.
"Oh si Alexa namanya, gue baru inget. Emang cantik banget, Vin, sexy. Lo gak horni ngeliatnya?"
"Karna gue tau lo langsung horni ketika lihat dia, gue jadi jijik."
"Hahahaaa.. Gak nyangka penjahat gila kayak lo punya pikiran normal juga gak mau wanitanya di horniin orang! Hahahahaaa.." Rico tertawa terbahak-bahak.
"Sial!" Dumel Calvin.
"Terus mau sampe kapan Ranti lo kurung aja di kamar? Apa saking lo gak mau dia dilihat orang jadi lo kurung di kamar aja? Tenang gue gak bakal horni lihat dia." Rico berucap sambil nyengir menggoda Calvin.
"Berani lo horni sama dia? Kalo gak gue mutilasi badan lo!" Sahut Calvin mulai kesal.
"Oke oke, sorry, just kidding you know."
Calvin menghela nafas dan menyenderkan tubuhnya ke sofa.
"Hei, jadi gimana ceritanya masih belom lo lanjutin. Kenapa gak jadi berangkat tadi? Karena Nyokap vcall?"
"Iya."
"Apa? Kenapa memangnya Nyokap lo?"
"Dia sakit parah, kata asistennya dia bener-bener sakit parah." Jawab Calvin sedikit muram.
"Oya? Sakit apa?"
"Gak tau, sebenernya waktu kita ke Italy asistennya telfon gue nyuruh mampir ke London. Shit! Asistennya akhir-akhir ini makin seenaknya, bahkan dia tau kalo gue nikahin Ranti."
"What? How does she know?" Rico sedikit kaget dan menaikan sebelah alisnya.
__ADS_1
"I don't know. Maybe from you?"
"Gils, bukanlah! Gue dan Harry akan selalu ada di pihak lo!"
Calvin tersenyum kecut. "Yeah, gue percaya sama lo."
"Nanti gue cari tau siapa mata-matain lo di sini, kurang ajar!" Ucap Rico kesal.
"Relax, it's okey. Gue gak mau ambil pusing. By the way gimana kantor lo? Lagi punya kasus apa?" Calvin mengalihkan pembicaraannya.
"Kemarin gue abis maki-maki staf gue, gak ada izin sama gue masa dia seenaknya nanganin kasus receh."
"Kasus apaan emangnya?"
"Kartu kredit macet. Sial! Kantor hukum rekanan gue dan om Roy tiba-tiba langsung turun derajat gara-gara kasus si kredit macet itu!"
"Matiin aja staf lo itu. Hahaha.." Kali ini Calvin yang tertawa.
"Semua orang pengen lo matiin ya kayaknya?!"
"Gue cuma gak mau sia-sia ngeluarin duit gede buat jadiin lo pengacara hebat saat ini. Masa pengacara mahal kaya lo nanganin kasus receh."
"Makanya om Roy agak kesel juga sama gue, udah 2 hari ini dia sidang tanpa bawa gue."
"Nanti om Roy suruh dateng ke Club, lo kasih cewek yang paling cantik biar mood nya balik lagi." Ujar Calvin.
Roy adalah pengacara senior yang paling hebat di negeri ini, dia tidak pernah kalah dalam kasus-kasus besar yang dia tangani. Sudah 2 tahun ini Rico berekanan dengan kantor hukum om Roy itu melalui Calvin karena om Roy dan Ayahnya bersahabat sejak lama, Roy pernah membantu Ayahnya lolos dari kasus narkoba yang pernah menjeratnya dan karena Roy mempunyai 3 anak semuanya perempuan jadi dia menganggap Calvin sebagai anaknya lelakinya sendiri. Begitu pula sebaliknya, Ayahnya Surya menganggap ketiga putri Roy sebagai anak perempuannya sendiri. Walaupun orangtua mereka dekat namun anak-anak mereka sama sekali tidak dekat hanya sesekali bertemu tegur sapa tidak pernah berlanjut mengobrol atau apapun.
"Gue panggilin Harry ya?"
"Boleh, Ric." Ucap Calvin bangkit dari duduknya. "Gue tidur dulu aja kali ya."
"Oke."
Lalu Calvin pergi meninggalkan Rico sendirian dan berjalan menuju kamar, dia juga sudah ingin melihat Ranti. Calvin masuk kamar dan langsung memanggil Ranti, Ranti keluar dari ruang pakaian melihat Calvin dengan gugup.
Gue bener-bener jatuh cinta sama perempuan kecil ini. Wajahnya cantik, imut dan gemesin banget.
Lalu Calvin menghujani wajah Ranti dengan ciuman lembutnya, saat ini dia tidak mau bersikap kasar pada Ranti dan lebih memilih untuk mengajaknya tidur siang.
.................
Sore itu Ranti terbangun dari tidur siangnya bersama Calvin karena terdengar suara ketukan di pintu kamarnya, Calvin mengerang dan dengan cepat Ranti membukakan pintu kamarnya. Dia mengingat dokter itu tapi tidak mengingat siapa nama dokter itu.
"Hai, boleh saya masuk untuk memeriksa Calvin?" Sapa Dokter itu.
"Oh iya, silahkan Dokter-"
"Harry. Panggil aja Harry." Sahut Harry mengikuti Ranti memasuki kamar Calvin. Sebenarnya dia sudah tau dan hafal kamar Calvin tapi dia hanya berusaha untuk bersikap sopan karena sekarang kamar ini juga ditempati oleh istrinya Calvin.
__ADS_1
"Calvin, Dokter Harry datang." Ranti mencoba membangunkan Calvin sambil mengelus lengan Calvin dengan sangat hati-hati.
Calvin mengerang, mengulat dan terbangun juga.
"Hei, lama banget sih datengnya." Ucap Calvin sambil menguap.
Harry menggeleng nyengir sambil mulai memeriksa tensi Calvin. Ranti berdiri di ujung ranjang memperhatikan Calvin dan tidak lama Rico pun datang memasuki kamar berdiri di sebelah Ranti.
"Bukan gue yang lama dateng tapi lo yang tidur siangnya kelamaan. Dari tadi Rico telfon bilang lo sakit gue juga langsung dateng kesini kok!" Jawab Harry menoleh nyengir ke arah Rico, Rico membalas dengan cengiran juga.
"Sorry gue baru kali ini ngerasain tidur siang soalnya, hmmm.. enak juga, tapi gue tetep aja pusing."
"Tensi lo tinggi, Vin." Ucap Harry memasukan alat tensi nya ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah alat pengukur demam yang dia dekatkan ke kening Calvin
Dalam hati Ranti bertanya-tanya alat apa itu?
"Lo ada demam juga, 38°Celcius. Jangan banyak pikiran, Bro!" Ucap Harry.
Ya ampun ternyata penjahat gila itu bisa sakit juga. Ranti.
"Rumah sakit lagi di datengin wartawan terus, Vin."
"Oya? Kenapa?"
"Emang lo hebat. Entah lo yang hebat atau orang-orang lo yang hebat, bisa membunuh orang tanpa ngilangin jejak." Puji Harry. "Lo kasih apaan sih itu orang? Lo tau, keluargany bawa orang itu ke IGD dan dokter jaga di IGD menyatakan penyebap orang itu meninggal karena gagal jantung. Tanpa lo harus manggil gue untuk ngurus manipulasi penyebab kematian lho kali ini. Gila banget gue takjub!"
"Obat baru yang orang-orang gue ciptain di lab. Itu obat sebenernya cuma memberhentikan sementara kerja jantung bukan langsung mematikan, jadi itu orang setelah di kubur 3 harian baru akan sadar. Tapi lo tau kan gimana ceritanya kalau sadar di dalam kubur?" Calvin terkekeh.
Harry menepuk tangannya takjub, Rico tertawa kecil.
"Gak rugi bayar Bos Calvin mahal-mahal, Har." Sahut Rico.
"Apa ada masalah lo sama orang itu sebelumnya?"
"Ada. Kalau gak buat apa gue bunuh dia sekejam itu, kebetulan juga ada orang yang mau bayar gue tinggi jadi sekalian. Penghianat memang harus di balas seperti itu kan?!" Ucap Calvin mengakhiri kata-katanya sambil menatap tajam Ranti seolah-olah dia ingin menekankan pada Ranti.
"Orang itu memang gila waktu berani hianatin Bokap lo, Vin." Seru Harry.
Yang gila itu kalian bertiga, bisa-bisanya cerita keji ini menjadi hiburan bagi kalian. Bagaimana nasibku kalau aku berhasil kabur ya? Apa aku akan di sebut penghianat juga? Cerita itu benar-benar kejam dan membuat kulit Ranti merinding.
"Sudah tau kan, Ran, seberuntung apa Ayah anda dan Kakak anda lepas dari hukuman Bos Calvin?" Bisik Rico yang membuat Ranti bergidik, tanpa sadar tangan Ranti memegang lehernya sendiri takut jika hal mengerikan akan menimpanya.
"Oke gue harus kembali ke rumah sakit karna gue disini udah terlalu lama, kalo gue gak paksain ketok pintu gue gak balik-balik nanti." Ujar Harry bangkit dari duduknya menghampiri Ranti memberikan beberapa bungkus obat.
"Ini Obat untuk Calvin, pastiin dia minum semuanya ya, Bu Bos!" Ujar Harry mengedipkan matanya pada Ranti. "Gue harus panggil dia Bu Bos kan ya, Vin sekarang?!" Ujarnya lagi ke Calvin. Calvin hanya tersenyum kecut dan memejamkan matanya.
Lalu Dokter Harry dan Rico keluar dari kamar, Ranti mengantar mereka hanya sampai di pintu kamar dan setelah pintu kamar tertutup dia memaki dirinya sendiri.
Kenapa penjahat gila itu malah sakit sih? kenapa aku harus merawatnya? Harusnya tadi aku langsung kabur aja dari sini gak usah mau ganti-ganti baju segala, sekarang psikopat gila ini sakit dan akan lebih sering di kamar. Aku jadi lama lagi kaburnya!
__ADS_1
Sesal Ranti, tapi saat ia mengingat cerita mengerikan Dokter Harry tadi dan cara Calvin menekankan kalimat tentang penghianatan ke dirinya, Ranti langsung bergidik takut dan bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya.