
Pasca sakit, Calvin menjadi lebih sering berada di kamar bersama Ranti. Hati Ranti sudah ingin meloncat dari tempatnya karena sudah tidak sabar ingin kabur dari kamar ini. Calvin hanya kena demam biasa dan flu tanpa batuk apalagi sesak nafas, bukan terjangkit virus mematikan yang sekarang sedang mewabah dunia, tapi Ranti merasa bahwa Calvin sedang mengisolasi dirinya sendiri dengan tidak keluar kamar. Bi Tuti berkali-kali keluar masuk kamar untuk mengantarkan makanan dan cemilan-cemilan yang Calvin minta. Cemilannya pun enak-enak, dari pasta, ayam goreng tepung dan yang sekarang ada di hadapan Ranti itu adalah Pizza.
Ranti menemani Calvin duduk di sofa ceper yang ada di kamarnya sembari menonton televisi, Calvin dengan lahap menyuap pizza nya ke mulutnya, mengunyah dan menelannya. Ranti yang hidup dari keluarga tidak berkecukupan tidak begitu tau makanan apa itu.
"Cobalah, ini enak." Calvin menawarkan kepada Ranti yang sejak tadi hanya diam di sebelahnya memandang acara televisi dan sesekali menoleh Calvin. "Jangan malu-malu." Lanjutnya lagi mengambil 1 potong pizza dan memberikannya kepada Ranti.
Dengan malu-malu Ranti mengambil pizza itu sambil tersenyum kecil dan memakannya. Hmmm.. Enak bangettt.. Ucapnya dalam hati.
Ranti memakan pizza itu dengan lahap sampai rasanya sayang jika potongan pizza yang dia terima dari Calvin akan habis karena dia sangat malu untuk mengambil pizza itu lagi. Padahal diam-diam Calvin memperhatikan tingkah laku Ranti selama dia sakit dan sengaja tidak keluar dari kamar.
"Lihat deh, dunia lagi dihebohkan dengan virus Corona itu. Banyak orang yang gak keluar dari rumah karena takut kena virus itu." Ucap Calvin.
Sepertinya aku lebih baik kena virus itu daripada harus disini bersama mafia gila ini, lagipula setahun yang lalu dengan tubuh bugar sehat walafiat aku memang tidak pernah keluar selangkahpun dari kamar ini. Ucap Ranti dalam hati dengan jengkel.
"Kamu lihat gak itu?" Tanya Calvin menunjuk layar televisinya yang sedang menayangkan berita dengan berbahasa inggris.
"Iya aku liat, Bos." Jawab Ranti. Calvin menatapnya sinis seperti meledek sambil menggelengkan kepalanya.
Ranti sudah terbiasa merasa terhina dengan tatapan dan cengiran itu yang membuatnya selalu membenci Calvin. Lagipula berita luar negri itu berbahasa Inggris yang pastinya tidak dimengerti Ranti dan Calvin sangat tau itu ketidak mengertian Ranti dan ketidak tahan Ranti tentang pizza, membuat Calvin merasa lucu dan sebenarnya gemas terhadap Ranti.
Calvin bangkit dari duduknya, mengusap-usapkan celana pendek dan kaos oblongnya membersihkan dari serpihan-serpihan cemilannya.
"Makan yang banyak, habiskan! Keliatannya kamu doyan banget, gak usah malu-malu! Aku mau keluar, nanti kamu tidur duluan aja ya. Gak usah nungguin aku pulang." Ucap Calvin.
"Iya." Jawab Ranti pelan. "Aku gak pernah nungguin kok malah aku berharap kamu gak pernah kembali!" Lanjutnya dalam hati.
Lalu Calvin keluar dari kamarnya, yang Ranti inginkan akhirnya terjadi juga. Hidup di kamar ini sendirian saja sudah membuat Ranti frustasi apalagi hidup bersama Calvin yang sikapnya aneh, tapi bisa Ranti akui akhir-akhir ini Calvin memang bersikap baik padanya.
"Huft! Dari kemarin kek keluar, sakit demam aja udah kaya patah kaki geletakan mulu! Ini pizza enak bangettt sih." Gumam Ranti mengambil potongan pizza lagi dan memakannya dengan lahap.
Setidaknya sebelum dia melakukan aksi pelariannya dia harus menikmati dulu makanan enak ini, kalau perlu dia habiskan itung-itung bekal diperjalanan karena sepertinya rumah ini jauh dari rumahnya.
__ADS_1
Setelah puas memakan pizza nya, Ranti beranjak menghampiri ruang pakaiannya, mengganti pakaiannya dengan pakaian senyaman mungkin. Dia memakai legging hitam dan kaus yang agak panjang lalu dia mencari-cari apa ada sepatu yang pas untuknya. Ada sebuah lemari di salah satu deretan lemari pakaiannya ketika dia buka, alangkah kaget nya saat melihat aneka sepatu sudah berjejer rapih di sana, dari flatshoes, wedges, heels dan yang paling tepat dia pakai saat ini adalah snaker.
Ranti mengambil sepasang snakernya dan langsung di pakai nya, lagi-lagi dia merasa kaget karena sepatu itu pas di kakinya. Dalam hati dia memuji Inez karena dia tau semua perlengkapan Ranti di urus oleh Inez. Setelah semua rapih dia mengambil topi hitam dan bercermin, berdoa dan menghela nafas panjang.
"Yaaa Tuhan semoga lancar pelarianku ini." Lalu dia melihat perhiasan yang ia pakai, ketika ia akan melepaskan satu-satu berlian nya, ia merasa sayang. Seenggaknya berlian ini bisa dia jual untuk bekal hidupnya nanti karena harganya ini pasti mahal, dia berniat setelah berhasil kabur dia akan membawa Ibu dan Hito pergi jauh dari sini sampai tidak ada yang menemukannya lagi, bahkan Ardi sekalipun. Dia berfikir sejenak apa berlian ini cukup?
"Calvin banyak uangnya, gak akan rugi kalau aku bawa semua aja perhiasan yang ada disini toh dia sudah mengambil mahkotaku dan menikmati seluruh tubuhku." Gumam Ranti sambil menarik laci perhiasannya dan mengambil semua yang ada disana, dia ambil sebuah tas dan memasukan semua perhiasan itu kedalam tas selempangnya.
Setelah semua siap dia keluar dan menggeser sedikit hordeng kamarnya pelan, lalu membuka kunci jendelanya. Kunci terbuka dan jendela bergeser sedikit mengeluarkan sedikit suara, lalu perlahan-lahan dia menggeser pelan jendela kamar itu lalu dia melangkahkan kakinya keluar. Angin sore berhembus dan dia merasa senang menghirup angin sore itu, ini pertama kalinya dia merasakan hembusan angin luar.
Akhirnya dia keluar dari kamar dan berjalan dengan hati-hati memperhatikan sekelilingnya takut bila ada pengawal melihatnya. Ranti sampai di ujung tembok rumah, pintu gerbang rumahnya itu sudah terlihat dan dia terkejut melihat gerbang rumah itu sungguh tinggi dan terlihat kokoh. Ada pos penjaga disana dan ada beberapa penjaga juga di teras pintu utama rumah, sebelah gerbang besar itu ada sebuah pintu untuk pejalan kaki tapi dia berfikir bagaimana caranya kesana dengan beberapa penjaga yang ada.
"Ayo berfikir Ranti, berfikir! Kamu memang tidak pintar tapi seenggaknya berfikir pintar lah saat ini saja!" Gumamnya pada dirinya sendiri.
**********
Ditempat lain, Calvin sedang asik membersihkan senapan panjang kesayangannya itu sambil meneguk coklat hangatnya.
"Gimana rasanya hidup cuma di dalam kamar aja? Enak?" Tanya Rico. Dia heran Calvin bisa bertahan di dalam kamar sampai selama seminggu tanpa keluar kamar sekalipun, walaupun dia sakitpun Calvin pasti tetap akan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerja.
Rico menggelengkan kepala tidak percaya, temannya benar-benar sudah jatuh cinta pada perempuan yang jauh lebih muda dari umurnya. "Ranti anak kecil yang pintar, bisa sampe bikin lo jadi klepek-klepek kaya gitu."
"Klepek-klepek? Apa tuh?"
"Bukan apa-apa lupain aja." Rico mulai tergelak, Calvin meliriknya tajam sambil meniup ujung senapannya.
"Itu senapan di bersihin mulu tapi belum pernah lo pake, Vin."
"Ini mau gue pake buat nembak mulut lo yang kurang ajar itu!" Ucap Calvin, bukannya takut Rico malah semakin tergelak tawa.
"Hadehhh, Calvin, singa bisa juga jatuh cinta sama panda." Gumam Rico pelan, Baru saja Calvin beranjak, seorang pengawal memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu.
__ADS_1
"Bos, istri Bos kabur!" Ucap pengawal itu.
"Apa? Kabur?" Tanya Calvin kaget, Ricopun kaget dan langsung berdiri menghampiri pengawal itu.
"Beno dimana? Kenapa bisa kabur?!" Tanya Rico geram.
"Tapi masih ada di dalam halaman rumah ini, Bos. Istri Bos ada di halaman samping karena ada penjaga di pos dia masih berdiam disana. Ada di layar Cctv, Bos, bagian IT barusan hubungin saya." Ucap pengawal itu.
Calvin dan Rico segera keluar ruang kerjanya dan berjalan menuju ruang IT di lantai atas rumahnya. Ada 5 pekerja disana, salah 1 pekerja disana menunjukan rekaman saat Ranti keluar kamar dan sekarang Ranti masih dihalaman samping rumahnya.
Calvin tersenyum tipis melihat gadis yang sangat dia cintai itu sedang kebingungan memikirkan cara agar bisa keluar dari rumahnya.
"Suruh penjaga pos dan penjaga teras rumah pergi dari sana, pengen tau apa dia berani pergi dari rumah ini." Perintah Calvin.
"Siap, Bos." Lalu pengawal tadi menghubungi penjaga pos dan penjaga yang ada di teras untuk meninggalkan tempatnya.
"Ric, lo pengen liat gue pakai senapan ini kan? Sekarang waktu yang tepat kayaknya!" Ucap Calvin sambil keluar meninggalkan ruang IT, menuruni tangga menuju pintu utama rumahnya diikuti oleh Rico dan pengawal tadi.
Setelah melewati tangga terakhir dan berjalan cepat keluar, Bi Tuti melihat ada suasana tegang dan mengikuti Calvin dan lainnya berjalan.
"Ada apa ini, Mas Beno?" Tanya Bi Tuti pada salah satu pengawal kamar Calvin.
"Istri Bos kabur!"
"Apa?!" Kaget Bi Tuti dan merasa khawatir dengan keadaan Ranti saat ini, dia sudah tau apa yang akan terjadi pada gadis lugu itu.
**********
Ranti melihat salah satu penjaga di teras memanggil penjaga di pos, lalu 2 penjaga pos disana datang menghampiri dan mereka semua memasuki rumah. Pos penjaga sepi, teras rumah pun sepi, tanpa rasa curiga Ranti segera berlari cepat menuju gerbang besar melewati kolam air mancur yang berada di tengah taman halaman rumah. Ada sebuah patung hiasan di pinggir taman mendekati gerbang, hatinya berloncatan ingin segera sampai ke gerbang itu.
Sedikit lagi sedikit lagi. Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Namun sebelum dia melewati patung hiasan itu, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari senapan Calvin mengenai patung hiasan yang berdiri di dekat Ranti. Patung itu hancur di bagian atasnya dan Ranti jatuh tersentak di atas serpihan patung tersebut, dia menoleh kebelakang sumber suara tembakan tadi.
Bersambung...